Sebuah Catatan Usang (2015) edisi revisi 2026

Februari 2011


Chapter 1 — Diary of My Heart

I went through all of this only to question myself: what does all of this truly mean to you?
Was everything that happened merely something that made my heart ache even more?
Even though I understand that your life is filled with responsibilities and endless busyness, it never erased what I felt. Funny enough, you already seem to know what loneliness is—when the people you once believed were sincere eventually leave you behind. It feels like slowly falling asleep, only to wake up alone, without direction, without anyone beside you.
I know I have hurt you before. But to me, you were never just a friend or simply a part of my past. That is why I want to thank you. We may no longer be the same as we once were, but those memories still remain.
Wealth, problems, or even praise from others have never truly made me happy. What scares me the most is not the pain itself, but the moment when the pain begins to fade—not because I have healed, but because my heart is slowly growing numb.
I do not need recognition from anyone, especially from those who never truly understood my struggles. I know I am not as good as they think, but I am also not as bad as they judge me to be.
If one day I choose to walk away, it will not be because of hatred. Perhaps it is only a form of reflection—that sometimes the people we love the most can also become the deepest source of our pain.
But life always moves forward. There will always be a morning after the darkest night. There will always be an ending, even when the beginning once felt so beautiful.
Now I am learning to accept that life does not always go according to our hopes. I am learning that happiness is not only about being with the person we choose, but also about making peace with ourselves.
If there is another chance, I want to turn every regret into a lesson. I want to believe that all these wounds are not the end, but a path toward becoming stronger.
Because in the end, the past is only a memory, today is reality, and the future is where new hopes are waiting.





CHAPTER II
Diari Hatiku

Semua hari yang kulalui hanya mempertanyakan dirimu, apa maksud pertemuan kita ini untukmu?
Apakah hanya sesuatu yang akan membuat hatiku semakin merasa sakit?
Walau aku paham bahwa semesta usaha dirimu adalah untuk menyakiti perasaanku.
Wahai seseorang, kalian sudah tahu apa itu kebahagiaan, yaitu saat orang lain menyatakan mencintaimu. Tapi bagaimana denganku?
Yang hanya bertepuk sebelah tangan.
Sepertinya aku akan berhenti dan memilih jalanku sendiri, tanpa kalian dan siapa pun mengetahuinya.
Aku bukan pengganggu kalian.
Bagiku kalian hanyalah sahabat yang pernah hadir di masa lalu.
Maka dari semua itu aku ucapkan terima kasih.
Aku dan kehidupanku yang sudah tidak jelas ini, harta dan jabatan yang sama sekali bukan sesuatu yang membuatku bahagia.
Aku takut, jauh di dalam diriku ada perasaan kuat untuk tak menerima lagi untuk disakiti.
Cukup.
Karena segini saja sudah puas untuk membinasakan hatiku.
Aku tidak butuh disanjung-sanjung oleh siapa pun, terlebih oleh orang yang tak pernah menyadari bahwa secara langsung dia membuat aku sudah dicampakkan.
Aku sudah muak.
Aku tak sebaik yang mereka bicarakan, dan aku tak tak seburuk yang aku rupakan.
Tolong lihat dengan mata hati kalian untuk menghakimiku.
Jika pergi di saat semuanya tersakiti, apakah itu kasih sayang?
Aku rasa itu bagian dari kasih sayang.
Jika datang di saat yang engkau sayangi itu akan disakiti, itu juga merupakan kasih sayang.
Apalah arti badai pagi itu, dan darah berkuaran sore itu, air mata yang entah itu karena bahagia atau karena tahu inilah akhir semuanya.
Sama seperti apa yang telah terjadi sebelumnya.
Adalah akhir yang tiada bertemu ujung seperti yang diharapkan saat di permulaan.
Aku menjadi orang yang paling tahu segalanya tentang kalian, tentang kesedihan kalian, perjuangan hidup di masa-masa sulit, bahkan saat kalian bersukacita bersama orang yang engkau pilih tanpa pernah menyempatkan bertanya pada hati kalian.
Jika ada kesempatan lain, apa aku akan mengubah kesempatan pertama menjadi kesempatan yang kalian buat sendiri?
Tidak, bukan?
Terima saja apa seperti aku yang menerima perlakuan kalian.
Aku merasa itu jalan keluar yang terbaik saat ini.
Aku bukan pendendam.
Masalah ini akhirnya akan seperti apa itu bukan urusan kalian lagi, dan itu juga bukan urusanku.
Meminta maaf atau merasa bersalah padaku untuk apakah?
Tidak ada gunanya.
Garis itu sudah kalian tulis sendiri dengan keras hati.
Bukankah jika garis itu dihapus lagi akan meninggalkan bekas?
Mau dilanjutkan entah jadi apa?
Berubahkah masa depan?
Semua sorot mata menidakkan.
Aku masih belajar untuk bersabar.
Aku juga belajar untuk ikhlas dan aku sedang berusaha.
Bagaimana orang selumpuh aku bisa berlari mengejar sesuatu yang sangat cepat.
Bagaimana mengembalikan keyakinan bahwa di tempat lain masih ada perasaan yang datang dari hati.
Terima kasih sudah mendatangiku walau hanya sebagai fatamorgana.
Bagiku masa lalu hanyalah kesedihan,
dan masa depan adalah hal yang akan menjadi kesedihan berikutnya.

CHAPTER III
Sebuah Buku Catatan tentang Masa Lalu

Farhis pulang ke kampung halamannya setelah mendapat cuti libur beberapa hari. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di tanah yang dulu menjadi tempat tumbuhnya segala kenangan—baik yang manis maupun yang pahit.

Sesampainya di kampung, Farhis menemui Imam, adik Laila, yang kini telah menjabat sebagai Wali Nagari. Jabatan itu membuat banyak orang kagum, mengingat Imam adalah Wali Nagari termuda yang pernah diangkat. Baru setahun yang lalu ia menamatkan kuliahnya di Institut Pemerintahan Dalam Negeri Sumatera Barat.

Mereka duduk di beranda kantor wali nagari, berbincang tentang banyak hal; kehidupan, pekerjaan, dan masa lalu yang perlahan mulai membuka luka lama.

Hingga tanpa sadar, Farhis menyinggung nama yang selama ini masih sering berputar di kepalanya.

“Bagaimana kabar Laila sekarang?”

Pertanyaan itu membuat Imam terdiam.

Wajahnya yang tadi tenang mendadak berubah. Tatapannya kosong, seolah pikirannya melayang pada sesuatu yang berat untuk diingat.

Farhis menyadari perubahan itu.

Imam menghela napas panjang.

“Kakak... belum benar-benar pulih,” katanya lirih.

Farhis tidak bertanya lebih jauh. Ada sesuatu dalam sorot mata Imam yang membuatnya paham—Laila sedang membawa luka yang belum selesai.

Di akhir percakapan, Imam mengajak Farhis pulang ke rumah.

Rumah itu masih sama seperti dulu. Sederhana, hangat, dan penuh aroma kayu tua yang akrab di ingatan Farhis.

Sesampainya di sana, Imam mengambil sebuah buku lusuh dari lemari tua di ruang tengah.

“Aku rasa... kamu perlu membaca ini.”

Farhis menerima buku itu perlahan. Sampulnya sudah usang, sudut-sudutnya terlipat, dan beberapa halaman terlihat mulai menguning.

“Itu catatan Kak Laila,” ujar Imam. “Tentang apa yang dia rasakan... selama ini.”

Farhis menatap buku itu cukup lama. Ada rasa penasaran yang tiba-tiba tumbuh begitu besar di dalam dirinya. Ia ingin tahu lebih jauh—bukan hanya tentang Laila, tapi juga tentang kehidupan yang selama ini dijalani keluarga itu.

Imam mempersilakan Farhis untuk menginap.

“Kamu bisa tidur di kamar Kak Laila. Dia jarang pulang, kamar itu cuma dipakai kalau dia ada di kampung.”

Malam pun tiba.

Dengan langkah perlahan, Farhis membuka pintu kamar Laila.

Begitu pintu terbuka, ia terdiam.

Kamar itu begitu rapi. Bersih. Terawat.

Seolah pemiliknya selalu menjaga setiap sudut dengan penuh perhatian.

Farhis langsung tahu—setidaknya di tempat ini, Laila pernah merasa aman.

Ukuran kamar itu sekitar empat kali empat meter. Di satu sisi berdiri rak buku besar yang penuh sesak oleh buku-buku berbagai jenis. Di sisi lain ada sofa kecil dengan meja rias di samping kanannya. Sebuah katil single bed berada di sudut ruangan, tertata rapi dengan seprai putih yang bersih.

Dinding kamar dihiasi lampu-lampu kecil yang membuat ruangan terasa hangat.

Di sana juga tergantung banyak foto.

Foto Laila yang sedang tersenyum.

Foto bersama keluarga.

Dan foto wisuda.

Tatapan Farhis berhenti di satu bingkai.

Ia membeku.

Di antara banyak foto wisuda yang terpajang, ada dirinya di sana.

Sebuah foto lama—dirinya berdiri di samping Laila, tersenyum sederhana.

Farhis tidak pernah menyangka momen sekecil itu ternyata begitu penting bagi Laila.

Dadanya terasa sesak.

Ia perlahan duduk di tepi katil.

Lalu teringat pada buku catatan yang diberikan Imam siang tadi.

Farhis mulai membuka halaman demi halaman.

Namun ia segera sadar, semua tulisan itu ditulis dalam Bahasa Inggris.

Ia membaca perlahan, berusaha memahami, tetapi banyak kata yang terasa asing.

Akhirnya ia berdiri, mencari kamus kecil di salah satu rak buku, lalu mengambil selembar kertas dan pulpen.

Satu per satu kalimat ia terjemahkan dengan susah payah.

Malam semakin larut.

Suasana semakin sunyi.

Hanya suara detik jam dan lembaran kertas yang dibalik perlahan.

Namun rasa kantuk mulai menyerang.

Kelopak matanya terasa berat.

Dengan napas lelah, Farhis menutup buku itu.

Kertas hasil terjemahannya ia sisipkan di antara halaman catatan, berniat melanjutkannya esok pagi.

Tanpa ia sadari...

di balik halaman yang belum sempat ia baca,
tersimpan rahasia besar tentang Laila—
rahasia yang akan mengubah cara Farhis memandang dirinya sendiri.

CHAPTER IV
Pencarian Kembali
Pagi itu Farhis bangun dengan pikiran yang kacau.
Semalaman ia membaca buku catatan Laila yang diberikan Imam. Kata demi kata yang ia terjemahkan membuat dadanya terasa berat.
Untuk pertama kalinya, ia mengerti satu hal—
selama ini Laila menyimpan terlalu banyak rasa sendirian.
Dan Farhis tak pernah benar-benar melihat itu.
Ia harus menemui Laila.
Bukan untuk meminta maaf saja.
Tapi untuk menjelaskan semuanya.
Tentang keputusan yang ia ambil. Tentang kenapa ia memilih pergi.
Pagi itu juga Farhis meminta alamat Laila pada Imam.
Namun Imam menolak.
“Maaf, Da. Kak Laila nggak mau siapa pun tahu dia di mana.”
“Termasuk aku?”
Imam menatapnya tajam.
“Terutama Uda.”
Jawaban itu membuat Farhis terdiam.
Farhis hampir kehabisan akal.
Imam menolak bicara. Arqam menolak menemuinya.
Semua jalan seolah tertutup.
Sampai akhirnya Farhis memutuskan mendatangi satu orang yang paling mungkin bisa membantunya—
Rittel.
Teman lamanya.
Rittel dikenal sebagai sosok yang sulit ditebak. Pendiam, sinis, tapi selalu tahu cara menemukan sesuatu yang tak bisa ditemukan orang lain. Dunia digital adalah wilayahnya.
Farhis menemukannya di sebuah ruangan sempit penuh monitor dan kabel berserakan.
“Apa yang membuatmu datang?” tanya Rittel tanpa menoleh.
“Aku butuh bantuan.”
Rittel tertawa kecil.
“Biasanya orang datang ke sini karena masalah. Jadi, apa kali ini?”
Farhis menatapnya serius.
“Aku mencari Laila.”
Baru kali itu Rittel menoleh.
Ia mulai membuka beberapa sistem, membongkar data lama, mengakses jalur-jalur yang hanya ia pahami sendiri.
Beberapa menit berlalu.
Namun hasilnya nihil.
“Tidak ada.”
Farhis mengernyit.
“Maksudmu?”
“Data Laila kosong. Seolah identitasnya sengaja diputus.”
Farhis terdiam.
“Itu nggak mungkin.”
Rittel bersandar.
“Kalau ada satu orang yang bisa bantu, itu Granti. Sahabat terdekatnya.”
Farhis menghubungi nomor Granti.
Masih aktif.
Namun yang mengangkat adalah Frans.
Suaminya.
Panggilan pertama ditutup.
Panggilan kedua juga.
Sampai panggilan ketiga, akhirnya Granti sendiri yang menjawab.
Suaranya terdengar pelan.
“Temui aku di Pekanbaru. Rumah sakit tempat aku kerja.”
Dua hari Farhis tinggal di rumah Imam.
Setelah itu ia berpamitan.
Selepas subuh, ia berangkat menuju Padang.
Dari Bandara Internasional Minangkabau, ia terbang ke Pekanbaru.
Sesampainya di Bandara Sultan Syarif Kasim, ia langsung naik taksi menuju rumah sakit tempat Granti bekerja.
Jam menunjukkan pukul sembilan pagi.
Farhis menunggu di kafe kecil dekat rumah sakit.
Setengah jam kemudian, Granti datang dengan seragam putih.
“Lama menunggu?”
Farhis tersenyum tipis.
“Tadi katanya Dokter Granti lagi operasi.”
“Operasi ginjal. Alhamdulillah berhasil.”
Granti duduk di depannya.
Lalu menatap Farhis lama.
“Aku kecewa sama Uda.”
Farhis menghela napas.
“Karena pergi tanpa penjelasan?”
Granti mengangguk.
“Bukan cuma ke aku.”
Farhis mengeluarkan buku catatan lusuh itu dari tasnya.
“Aku menemukan ini."Granti membukanya.
Wajahnya berubah.
“Aku rasa... ada sesuatu yang salah.”
Granti menutup buku itu perlahan.
“Laila memang nggak pernah benar-benar baik-baik saja sejak Uda pergi.”
Kalimat itu terasa seperti pisau.
Farhis menunduk.
“Aku mau menemuinya.”
Granti terdiam beberapa saat.
Lalu mengangguk pelan.
“Aku bantu.”
“Kenapa?”
Granti tersenyum kecil.
“Karena meskipun aku marah... aku tahu satu hal.”
“Apa?”
“Laila masih menunggu penjelasan itu.”
Siang itu mereka makan bersama.
Membicarakan masa lalu yang belum selesai.
Dan untuk pertama kalinya—
Farhis sadar, kadang seseorang tidak benar-benar hilang.
Mereka hanya pergi... karena terlalu lama menunggu.

Setelah makan siang selesai, Granti berdiri lebih dulu dan membayar semua tagihan.
Farhis hanya memperhatikan.
Sejak dulu, Granti memang selalu begitu—mandiri, tegas, dan sulit dibantah.
“Ayo,” kata Granti sambil merapikan jas dokternya.
“Kita ke rumahku dulu.”
Farhis mengangguk.
Tak lama mereka sampai di rumah Granti di Pekanbaru.
Rumah itu berdiri megah seperti bangunan kecil bertingkat, dengan halaman luas dan interior mewah.
Farhis terdiam cukup lama melihatnya.
Wajar.
Granti memang berasal dari keluarga berada, dan kini hidup bersama Frans yang juga memiliki latar ekonomi kuat.
“Masuk aja, Da,” ujar Granti.
Begitu masuk, Granti langsung bergegas ke kamarnya, menyiapkan beberapa pakaian dan perlengkapan.
Farhis memperhatikan dari ruang tamu.
“Kemana suamimu, Lou?”
“Frans lagi tugas riset ke Finlandia. Dia baru saja berangkat tadi pagi”
Granti keluar sambil membawa tas kecil.
“Kita pakai mobil saja. Lebih aman.”
Farhis mengangguk.
“Baiklah.”
Di perjalanan, Farhis memandang keluar jendela.
Mobil melaju membelah jalanan Pekanbaru yang panas.
Tiba-tiba ia tersenyum kecil.
“Enak ya jadi kamu, Lou,” kata Farhis sambil melihat interior mobil yang mewah.
“Semua yang kamu mau sepertinya bisa kamu dapat.”
Granti tersenyum kecil.
“Belum tentu.”
Farhis tertawa.
“Kamu beruntung dapat Frans.”
Granti melirik.
“Yang beruntung itu Uda.”
Farhis mengernyit.
“Kenapa?”
“Karena sebentar lagi hidup Uda akan berubah.”
Farhis diam.
“Maksudmu Anna?”
Granti mengangguk.
“Ya.”
Farhis menatap jalanan.
Hubungannya dengan Anna memang semakin serius, tapi belum ada ikatan apa pun.
Semuanya masih di tahap menuju sesuatu yang lebih besar.
Lalu Farhis mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Boleh tanya sesuatu?”
Granti langsung menjawab cepat.
“Tidak boleh.”
Farhis tertawa kecil.
“Kamu ini masih sama.”
Granti ikut tersenyum.
“Tanya saja.”
Farhis menarik napas.
“Kamu sahabat paling dekat Laila... pasti kamu tahu semuanya tentang dia.”
Wajah Granti berubah.
“Kenapa sekarang baru mau tahu?”
Farhis terdiam.
Karena ia sendiri tak punya jawaban yang baik untuk itu.
Granti menatap jalan.
“Jadi?”
“Aku ingin tahu.”
Suasana mendadak sunyi.
Beberapa detik kemudian Granti mulai bicara.
“Laila Fauziana.”
Nada suaranya berubah lebih pelan.
“Lahir di Bukittinggi, 14 Februari. Dua puluh delapan tahun lalu.”
Farhis diam mendengar.
“Ayahnya Amal Suganda. Ibu sambungnya Eliarti. Pedagang sukses di Bukittinggi.”
“Laila tumbuh dalam keluarga yang cukup berada. Hidup bahagia bersama dua adik laki-lakinya.”
Granti tersenyum kecil.
“Aku pertama kali kenal dia waktu mengaji di MDA Nagari Batang.”
Farhis menatapnya.
“Lalu?”
“Waktu SMA kami satu sekolah lagi.”
Granti menghela napas.
“Di kelas dua SMA... Laila jatuh cinta.”
Farhis terdiam.
“Sama siapa?”
Granti melirik tajam.
“Orang yang paling aku sayangi waktu itu.”
Farhis membeku.
“Muhammad Farhis Zarfan.”
Nama itu terasa berat keluar dari mulut Granti.
“Setiap kali melihat Uda... dia selalu cerita padaku.”
Farhis menelan ludah.
“Tapi waktu itu dia nggak tahu apa yang terjadi antara aku dan Uda.”
Mobil terus melaju.
“Sampai kelas tiga... dia akhirnya tahu.”
Granti menatap lurus ke depan.
“Laila kelas III IPS 1. Aku di III IPA 1.”
“Kami selalu bersaing. Tapi Laila selalu menang.”
Farhis tersenyum kecil.
“Dia memang pintar.”
“Bukan pintar.”
Granti membetulkan.
“Luar biasa.”
“Tiga tahun berturut-turut juara umum sekolah.”
Farhis terdiam.
Lalu bertanya pelan.
“Ceritakan tentang dia... dan aku.”
Granti menarik napas panjang.
“Pertama kali Laila marah besar padaku... waktu pengumuman kelulusan.”
Farhis mendengarkan.
“Dia mengikutimu diam-diam dari belakang.”
“Dan dia lihat Uda patah hati... waktu aku bersama Frans.”
Farhis menunduk.
“Dia tahu soal peristiwa di Ngarai.”
Granti melanjutkan.
“Laila bilang, kalau aku bahagia... maka Uda juga harus bahagia.”
Farhis memejamkan mata.
“Dan dia bilang... dia akan memastikan itu.”
“Apa yang kamu bilang waktu itu?”
Granti terdiam.
Lama.
“Aku nggak bisa jawab apa-apa.”
Suasana menjadi berat.
Beberapa menit berlalu.
Lalu Granti kembali bicara.
“Laila pernah cerita tentang hari paling membahagiakan buat dia.”
Farhis menoleh.
“Hari wisuda S1-nya.”
“Karena Uda datang sebagai kejutan.”
Farhis membeku.
“Ternyata... itu sepenting itu buat dia?”
Granti mengangguk.
“Waktu itu dia menangis.”
Farhis mengingat.
“Aku pikir itu cuma haru biasa.”
Granti tersenyum pahit.
“Bukan.”
Lalu ia mengutip isi buku catatan itu.
"Apalah arti badai pagi itu, dan darah berkucuran sore itu, air mata yang entah itu karena bahagia... atau karena tahu inilah akhir semuanya."
Farhis menatap kosong.
“Itu tulisannya?”
Granti mengangguk.
“Itu luapan emosinya.”
“Dia nggak tahu... pertemuan itu awal kebahagiaan atau akhir segalanya.”
Farhis mengepalkan tangannya.
Lalu Granti berkata pelan.
“Ngomong-ngomong soal air mata Laila... itu berbahaya.”
Farhis menoleh.
“Berbahaya?”
“Air mata Laila bisa melunakkan baja. Bahkan emas.”
Farhis terdiam.
Ia tahu itu bukan lelucon.
“Pernah waktu misi bersama, kami terkunci dalam ruangan.”
“Laila meneteskan air matanya ke lubang kunci.”
“Dan pintu itu terbuka.”
Farhis mengingat sesuatu.
Lalu berbisik,
“Mungkin itu sebab Bayangan Putih merekrutnya masuk tim GMX.”
Granti mengangguk.
“Kekuatan berbahaya selalu menarik orang-orang jahat.”
Farhis menatap jauh ke depan.
“Jadi... selama ini Laila nggak pernah bohong?”
Granti tersenyum kecil.
“Tidak pernah.”
,,,
“Tapi banyak hal... yang sengaja dia sembunyikan.”

Granti memegang kemudi dengan tenang.

“Aku tidak bisa memastikan semuanya, Da. Karena selama ini aku hanya mendengar apa yang aku rasakan, dan Laila pun hanya menceritakan apa yang dia rasakan. Tapi sejauh yang aku tahu... belum pernah sekalipun aku menangkap kebohongan dari Laila.”

Farhis diam.

“Karena bagiku, Laila itu selalu terbuka. Dan dia selalu jadi pendengar yang baik.”

Mobil Pajero yang dikendarai Granti kini melaju melewati perbatasan Riau dan Sumatera Barat.

Jalan panjang itu dipenuhi percakapan tentang masa lalu.

Tentang seseorang yang sudah lama tak mereka temui.

Tentang seseorang yang diam-diam masih hidup di kepala mereka.

Beberapa saat kemudian, Granti memecah keheningan.

“Boleh aku tanya tentang Anna?”

Farhis menoleh.

“Tentu, Lou.”

Granti menarik napas.

“Apa Anna pernah merasakan seperti yang dirasakan Laila?”

Farhis terdiam.

“Aku nggak pernah dengar Uda cerita banyak tentang Anna.”

Farhis memandang jalanan di depan.

“Waktu pertama kenal Anna... dia orang yang sombong.”

Granti tertawa kecil.

“Sombong?”

“Iya. Keras kepala, egois, maunya selalu dituruti. Dan paling malas berhubungan dengan orang baru.”

“Lalu?”

“Entah kenapa aku jadi penasaran sama dia.”

Farhis tersenyum kecil.

“Sampai akhirnya aku tahu latar belakangnya.”

“Apa?”

“Anna itu anak panti asuhan.”

Granti terdiam.

“Dia nggak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Bahkan sedetik pun.”

Suasana di mobil mendadak sunyi.

“Dari situ aku mulai simpati.”

Farhis melanjutkan.

“Lalu aku mulai melihat sisi baiknya.”

Granti menoleh sekilas.

“Apa kelebihan Anna sampai Uda memilih dia?”

Farhis berpikir sejenak.

“Anna punya semangat hidup yang tinggi.”

“Dan?”

“Dia berani mengorbankan hal-hal yang membuatnya bahagia.”

Granti menunggu.

“Dan dia selalu mendahulukan kepentingan orang lain.”

Granti tersenyum kecil.

“Bukankah itu sama seperti Laila?”

Farhis terdiam.

“Kenapa Uda tidak memilih Laila?”

Farhis menghela napas panjang.

“Ayo jawab ujian ini.”

Farhis menatap lurus ke depan.

“Satu hal yang membuat Laila tidak terpilih waktu itu... karena aku merasa dia berbohong.”

Granti mengernyit.

“Berbohong?”

“Akun sosial medianya menulis kalau dia sudah menikah.”

Granti terdiam.

“Dan aku pikir... dia sudah memilih orang lain.”

Farhis tersenyum pahit.

“Jadi aku harus merelakannya.”

“Sama seperti waktu aku kehilangan kamu saat pengumuman kelulusan SMA.”

Granti tertawa kecil.

“Zaman sekarang... sosial media memang jadi dilema.”

Farhis diam mendengar.

“Terkadang kita harus jujur, tapi kejujuran itu bisa disalahgunakan.”

“Dan terkadang identitas palsu justru melukai orang yang kita kenal.”

Farhis mengangguk.

Granti kembali bertanya.

“Uda pernah lihat foto pernikahannya?”

Farhis terdiam.

“Tidak.”

“Nah.”

Granti tersenyum kecil.

“Anggapan pertama yang muncul seharusnya bukan dia menikah.”

“Tapi mungkin dia sedang mencari ruang aman... supaya orang berhenti mencarinya.”

Kalimat itu membuat Farhis berpikir.

“Bukankah itu seperti teka-teki yang harus Uda pecahkan?”

Farhis menatap Granti.

“Setahuku,” lanjut Granti, “Laila pernah bilang—”

"Perasaan suka pada seseorang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata yang dibumbui kebohongan. Karena pada akhirnya, itu akan terlihat dari sikap dan perbuatan."

Farhis menunduk.

Kata-kata itu terasa begitu dekat.

Begitu Laila.

Granti melanjutkan dengan suara pelan.

“Kalau jujur... dari segi perbandingan, Anna masih jauh tertinggal.”

Farhis menoleh.

“Laila mungkin tak pernah berani mengucapkan semuanya.”

“Tapi caranya mencintai... jauh lebih nyata.”

Farhis menggenggam erat buku catatan lusuh itu.

Dan untuk pertama kalinya—

ia mulai takut.

Takut jika selama ini,
ia telah salah membaca semuanya.

Granti menghela napas panjang, matanya tetap fokus ke jalan.

“Kurasa... itulah jawaban yang seharusnya Uda berikan atas pertanyaan yang tadi aku tanyakan.”

Farhis menoleh.

“Maksudmu?”

Granti tersenyum kecil.

“Sudahlah, Da.”

Ia memperlambat laju mobil saat memasuki tikungan panjang.

“Ada tiga perkara yang memang bukan urusan manusia untuk terlalu diperdebatkan.”

Farhis terdiam, menunggu.

“Apa itu?”

Granti menjawab pelan,

“Rezeki... jodoh... dan maut.”

Ia menatap lurus ke depan.

“Itu semua rahasia Tuhan.”

Kalimat itu membuat Farhis terdiam cukup lama.

Ia sadar, ada banyak hal yang selama ini ia paksa pahami dengan logika, padahal mungkin jawabannya memang tak pernah dititipkan untuk manusia.

Farhis menarik napas panjang.

“Kamu benar.”

Granti melirik sekilas.

“Kalau begitu, jangan lagi sibuk membandingkan.”

Farhis menatap buku catatan lusuh di tangannya.

“Tujuan kita menemukan Laila bukan untuk membuka luka lama.”

Granti mengangguk.

“Tapi untuk menemukan kebenaran.”

Farhis melanjutkan,

“Dan memberi dia kekuatan... supaya bisa melanjutkan hidupnya dengan bahagia.”

Granti terdiam.

Namun tak lama, perdebatan kecil kembali muncul.

Keduanya masih membawa pandangan masing-masing.

Farhis tetap merasa ia perlu menjelaskan semuanya.

Sementara Granti percaya, tidak semua luka harus dijawab dengan penjelasan.

Suasana sempat memanas.

Argumen demi argumen saling bertabrakan.

Tetapi pada akhirnya—

mereka sama-sama paham.

Bahwa tujuan mereka bukan untuk memenangkan pendapat.

Melainkan untuk menyelamatkan seseorang...

yang mungkin sudah terlalu lama berjuang sendirian.

CHAPTER V

Kado Ulang Tahun untuk Laila

Perjalanan lebih dari delapan jam menggunakan mobil terasa begitu melelahkan bagi Granti dan Farhis.

Namun sepanjang perjalanan itu, keduanya hampir tak berhenti berbicara.

Tentang masa lalu.

Tentang pilihan.

Dan tentang seseorang yang sedang mereka cari.

Menjelang sore, mobil Pajero milik Granti akhirnya memasuki Kota Bukittinggi.

Jam menunjukkan hampir pukul lima sore.

Granti tidak langsung menuju rumah Laila.

Ia justru membawa Farhis ke tempat Laila bekerja.

“Aku rasa... lebih baik kita temui dia di sini dulu,” kata Granti.

Farhis mengangguk.

Sesampainya di depan kantor, Granti segera menghubungi Laila.

Beberapa dering, lalu panggilan tersambung.

“Bagaimana perjalanan kalian?” suara Laila terdengar dari seberang.

“Alhamdulillah, menyenangkan,” jawab Granti ringan.

Lalu ia tersenyum kecil.

“Kamu makin cantik saja, La.”

Laila tertawa kecil.

“Alhamdulillah. Kata orang yang kemarin baru pulang dari Pekanbaru. Jalur satu masih sistem buka tutup, ya?”

Granti mengangguk, walau Laila tak bisa melihat.

“Iya. Tapi syukurlah lancar.”

Farhis hanya diam mendengarkan suara itu.

Suara yang sudah lama tak ia dengar.

Suara yang dulu terasa biasa...

tapi kini terasa asing.

“Masih banyak kerjaan, La? Jam segini masih di kantor?” tanya Granti.

“Iya, tapi sebenarnya sudah mau pulang.”

Laila terdengar heran.

“Kok kamu tahu aku masih di kantor?”

Granti tersenyum tipis.

“Aku melacak GPS ponselmu.”

“Pakai aplikasi lama yang dulu dibuat Rittel. Kusambungkan ke GPS mobil.”

Laila tertawa kecil.

“Ternyata masih aktif, ya.”

Tak lama kemudian, Granti memarkir mobil di depan gedung kantor.

Beberapa menit berselang, Laila keluar sambil membawa beberapa map dan berkas.

Farhis menatapnya dari kejauhan.

Tubuh Laila terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu.

Wajahnya masih sama.

Tapi sorot matanya berbeda.

Lebih lelah.

Lebih dingin.

Laila mendekat.

Namun anehnya, ia sama sekali tak menoleh pada Farhis.

Seolah keberadaan lelaki itu tak ada.

Farhis merasakan kecanggungan yang menyesakkan.

“Laila...”

Farhis akhirnya memberanikan diri membuka pembicaraan.

Laila berhenti.

Menoleh sebentar.

“Ya, Kak?”

Jawabannya pendek.

Dingin.

Jarak yang dulu tak pernah ada... kini terasa nyata.

Farhis menelan ludah.

“Kamu nggak sakit, kan? Kamu baik-baik saja?”

Laila tersenyum tipis.

Senyum yang sulit dibaca.

“Nggak apa-apa, Kak.”

Ia mengalihkan pandangan.

“Kita bicara di rumah saja.”

Lalu ia mengangkat berkas di tangannya.

“Masih ada beberapa tugas yang harus kuselesaikan. Tapi ini bisa dikerjakan di rumah.”

Farhis mengangguk pelan.

“Baiklah.”

Tanpa pikir panjang, Farhis segera membantu membawa berkas-berkas itu.

Tangannya sempat menyentuh jemari Laila.

Dan untuk sesaat—

Laila terdiam.

Begitu pula Farhis.

Sebuah keheningan singkat...

yang terasa seperti menghidupkan kembali seluruh masa lalu mereka.

Namun Laila segera menarik tangannya.

Dan berjalan lebih dulu.

Meninggalkan Farhis berdiri diam dengan dada yang tiba-tiba terasa berat.

Granti memperhatikan semuanya.

Dan dalam hati ia tahu—

perjalanan mereka baru saja dimulai.

Karena kadang...

yang paling sulit bukanlah menemukan seseorang yang hilang.

Tapi menghadapi seseorang yang ternyata masih menyimpan luka.

Setelah sampai di area parkir kantor, Laila mengeluarkan kunci kontak dan menghidupkan skuter matic miliknya.


Baru saja mesin menyala, tiba-tiba Farhis datang dan memegang setang motornya.


“Biar aku yang antar kamu.”


Laila terdiam.


Farhis perlahan melepaskan tangan Laila dari kendali motor.


Saat jemarinya menyentuh tangan Laila, Farhis langsung merasakan sesuatu yang aneh.


Dingin.


Terlalu dingin untuk suhu tubuh manusia normal.


Sekitar tiga puluh derajat.


Farhis menatapnya.


“Kamu sakit?”


Laila langsung menarik tangannya.


“Enggak.”


Jawabannya cepat.


Terlalu cepat.


Farhis tahu itu bohong.


“Kalau kamu bawa motor dalam keadaan begini, itu berbahaya.”


Laila mengalihkan pembicaraan.


“Ya kak... Granti mana?”


Farhis menunjuk ke arah mobil Pajero yang terparkir beberapa meter di belakang.


“Dia pakai mobil.”


Lalu Farhis menatap Laila lebih dalam.


“Atau... kamu maunya sama Granti saja? Mungkin itu lebih aman buatmu.”


Laila terdiam beberapa detik.


Entah kenapa kalimat itu terdengar lebih seperti luka daripada pertanyaan.


“Enggak, Kak.”


Laila menggeleng pelan.


“Kita naik motor saja. Aku biasanya mabuk kalau naik mobil.”


Farhis menarik napas.


“Baiklah.”


Ia naik ke motor itu.


“Kamu yang tunjukkan jalannya, ya La.”


Untuk pertama kalinya hari itu, Laila duduk di belakang Farhis.


Bukan sebagai kenangan.


Tapi sebagai kenyataan yang terasa begitu asing.


Motor melaju perlahan.


Di belakang mereka, mobil Granti mengikuti.


Langit Bukittinggi mulai gelap.


Udara dingin turun bersama angin sore.


Namun bagi Farhis, yang terasa justru suhu tubuh Laila yang tak biasa.


Sepanjang perjalanan, ia tak bisa berhenti memikirkan itu.


Sampai akhirnya mereka tiba di rumah Laila.


Rumah itu sederhana, rapi, dan sunyi.


Seperti mencerminkan pemiliknya.


Malam mulai turun.


Setelah menunaikan shalat, Farhis keluar dari kamarnya dan mendapati Laila sedang sibuk di dapur.


Tangannya cekatan menyiapkan makan malam.


Seolah tak terjadi apa-apa.


Farhis mendekat.


“Bagaimana kalau makan malam kita cari di luar saja, La?”


Laila tak menoleh.


“Hm.”


Hanya itu jawabannya.


Pendek.


Lalu kembali melanjutkan memasak.


Farhis memperhatikan.


Malam itu adalah ulang tahun Laila yang ke dua puluh delapan.


Dan diam-diam, Laila ingin membuat malam itu menjadi sesuatu yang berkesan.


Mungkin bukan untuk dirinya.


Tapi untuk Farhis...

dan Granti.


Laila kemudian menyerahkan beberapa piring kotor.


“Tolong cuci ini.”


Farhis terdiam sesaat.


Lalu tersenyum kecil.


“Baik.”


Ia tak ingin lagi memaksa pembicaraan.


Tak malam ini.


Sementara itu, Granti berada di kamar Laila.


Setelah selesai shalat dan membaca Al-Qur’an, ia kembali membuka buku catatan Laila.


Menerjemahkan halaman demi halaman.


Semakin jauh ia membaca, semakin berat dadanya.


Ada banyak luka yang selama ini tak pernah Laila tunjukkan.


Ada banyak air mata yang hanya hidup dalam tulisan.


Dan malam itu—


untuk pertama kalinya,


Granti menangis.


Bukan karena ia baru tahu isi hati sahabatnya.


Tapi karena akhirnya ia tahu...


betapa dalam Laila telah mencintai seseorang,

yang bahkan tak pernah benar-benar menyadarinya.


Tak sampai lima belas menit, semua hidangan makan malam telah selesai disiapkan oleh Laila.

Aroma masakan memenuhi seluruh rumah.

Sederhana.

Tapi hangat.

Seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan lewat setiap hidangan yang ia buat malam itu.

Setelah memastikan semuanya siap, Laila berjalan menuju kamarnya untuk memanggil Granti.

Saat pintu dibuka perlahan, Granti buru-buru menyeka sisa air mata di wajahnya.

Ia tak ingin Laila tahu bahwa ia baru saja menangis membaca buku catatannya.

Laila berdiri di depan pintu sambil tersenyum kecil.

“Yuk makan dulu, Ti.”

Granti mengangguk.

“Baiklah, La.”

Lalu ia menatap Laila sejenak.

“Kamu sudah shalat?”

Laila menggeleng pelan.

“Masih halangan.”

Jawabannya singkat.

Seperti biasa, tanpa banyak penjelasan.

“Nanti keburu dingin. Ayo.”

Mereka pun keluar menuju ruang makan.

Farhis sudah duduk di sana.

Meja makan malam itu dipenuhi berbagai masakan kesukaan mereka sejak dulu.

Dan untuk sesaat—

suasana itu terasa aneh.

Hangat.

Tapi penuh jarak.

Farhis duduk berhadapan dengan Laila.

Sementara Granti di sisi mereka.

Cahaya lampu kuning yang redup membuat suasana terasa begitu lembut.

Hampir seperti makan malam pasangan yang sedang berbulan madu.

Namun tak satu pun dari mereka berani mengakui itu.

Farhis sesekali mencuri pandang.

Laila lebih banyak diam.

Granti hanya memperhatikan.

Sampai tiba-tiba ponsel Laila berdering.

Nama di layar:

Arqam

Laila mengangkatnya.

“Assalamualaikum, Kak.”

Suara Arqam terdengar hangat dari seberang.

“Waalaikumsalam.”

“Bagaimana kesehatan Kak? Batuknya sudah hilang?”

Laila melirik sekilas ke arah Farhis.

“Batuknya sudah hilang.”

Ia berhenti sebentar.

“Hanya sesekali masih ada bunyinya.”

Farhis yang mendengar itu langsung terdiam.

Jadi benar...

Laila memang sedang sakit.

Laila lalu bertanya,

“Oh ya, bagaimana keadaan orang-orang di kampung?”

“Aman, Kak. Semua sehat.”

Lalu suara Arqam berubah lebih lembut.

“Oh ya... selamat ulang tahun ya, Kak.”

Laila terdiam.

Granti dan Farhis sama-sama menoleh.

“Semoga di tahun ini... Kakak menemukan orang yang selama ini Kakak cari.”

Kalimat itu terasa seperti memiliki makna lain.

Laila tersenyum kecil.

Matanya sedikit berkaca.

“Amin.”

“Terima kasih, Qam.”

“Assalamualaikum, Kak.”

“Waalaikumsalam.”

Panggilan berakhir.

Suasana meja makan berubah.

Sunyi.

Volume panggilan di ponsel Laila yang sengaja disetel maksimal membuat seluruh percakapannya dengan Arqam terdengar jelas oleh Farhis dan Granti.

Terutama kalimat terakhir itu.

"Semoga di tahun ini Kakak menemukan orang yang selama ini Kakak cari."

Kalimat itu menggantung di udara.

Membuat suasana meja makan mendadak sunyi.

Granti menunduk.

Dadanya terasa sesak.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.

Laila yang melihat itu langsung terkejut.

“Ti... kenapa?”

Granti buru-buru menyeka air matanya dan tertawa kecil, berusaha menutupi semuanya.

“Enggak apa-apa.”

Laila menatapnya curiga.

“Jangan bohong.”

Granti menarik napas panjang.

“Aku cuma malu.”

Laila mengernyit.

“Malu?”

“Iya.”

Granti tersenyum pahit.

“Aku bahkan nggak pernah bisa menyiapkan makan malam buat suamiku sebaik ini.”

Laila terdiam, lalu tersenyum kecil.

Farhis tahu itu hanya alasan.

Tapi ia memilih diam.

Granti mencoba mengalihkan suasana.

“Ngomong-ngomong... dari mana kamu tahu makanan favoritku?”

Ia menunjuk satu per satu hidangan di meja.

“Dendeng Lambok... Sambalado Tanak... Gulai Jariang.”

Laila tertawa pelan.

“Itu rahasia lama.”

“Rahasia apa?”

“Waktu SMA dulu.”

Granti mengernyit.

Laila tersenyum.

“Kamu sendiri yang pernah cerita ke aku.”

Granti terdiam, lalu tertawa kecil.

“Oh ya... aku lupa.”

Farhis ikut tersenyum tipis.

Granti mengambil sedikit gulai jariang.

“Di Amerika nggak ada yang jual beginian.”

Farhis menoleh.

“Memangnya kamu sering ke sana?”

Granti mengangguk.

“Frans beberapa kali bawa aku ke sana buat urusan kerja.”

Laila hanya mendengarkan sambil tersenyum kecil.

Lalu Granti berkata,

“Besok kalau kerjaanmu selesai malam ini... gimana kalau kita ke Maninjau?”

Laila berhenti makan.

“Maninjau?”

“Iya.”

Granti menatapnya hangat.

“Sudah lama kita nggak jalan bareng.”

Laila terdiam sebentar.

Lalu mengangguk pelan.

“Kalau semuanya selesai malam ini... boleh.”

Farhis hanya memandangi mereka.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia melihat Laila sedikit lebih hidup.

Setelah makan malam selesai, Granti membereskan meja dan mencuci piring.

Laila kembali sibuk dengan laptop dan berkas-berkas kantornya di ruang tengah.

Sementara Farhis duduk di ruang tamu, diam memikirkan banyak hal.

Beberapa menit kemudian, Granti keluar dari dapur.

Di tangannya masih ada buku catatan lusuh milik Laila.

Ia meletakkannya perlahan di atas meja.

Lalu duduk di sofa di dekat Farhis.

Hanya terpisah oleh lemari pembatas dari ruang tengah.

Dari tempat itu, mereka bisa melihat Laila yang masih bekerja.

Namun Laila tidak bisa melihat mereka dengan jelas.

Granti memandang buku itu.

Lalu berbisik pelan,

“Ada banyak hal yang belum Uda tahu.”

Farhis menatapnya.

Dari tempat duduknya, Granti memperhatikan Laila yang masih sibuk di ruang tengah.

Jemarinya terus bergerak di atas keyboard laptop.

Sesekali membuka berkas.

Sesekali batuk kecil.

Namun tetap memaksakan diri menyelesaikan pekerjaannya.

Melihat itu, Granti kembali teringat masa-masa sekolah dulu.

Laila yang selalu bekerja lebih keras dari siapa pun.

Laila yang selalu memendam semuanya sendiri.

Dan Laila yang selalu terlihat kuat...

meski sebenarnya rapuh.

Tanpa sadar, air mata Granti kembali jatuh.

Farhis yang melihat itu menoleh.

“Ada apa?”

Granti tidak langsung menjawab.

Ia hanya mendorong buku catatan lusuh itu ke arah Farhis.

“Baca.”

Farhis membuka lembar demi lembar.

Tulisan-tulisan Laila yang telah diterjemahkan Granti memenuhi halaman itu.

Tentang rasa suka yang dipendam sejak SMA.

Tentang rasa kehilangan.

Tentang harapan kecil yang selalu ia simpan.

Tentang hari wisuda...

tentang badai pagi itu...

tentang darah di sore hari...

dan tentang ketakutan bahwa semua itu mungkin adalah akhir.

Semakin Farhis membaca, semakin berat napasnya.

Tangannya bergetar.

Baru malam itu ia benar-benar mengerti—

betapa dalam perasaan Laila selama ini.

Setelah selesai membaca, Farhis menutup buku itu perlahan.

Matanya kosong.

“Lalu... aku harus bagaimana?”

Granti tak menjawab.

Ia memegang dagu Farhis dan memutar wajahnya ke arah ruang tengah.

Ke arah Laila.

Yang masih bekerja sendirian.

Masih sama seperti dulu.

Selalu berjuang sendiri.

Farhis menatap lama.

“Bagaimana, Ti?”

Tiba-tiba—

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.

Farhis terdiam.

Granti menatapnya dengan mata basah.

“Lihat baik-baik.”

Ia kembali memutar kepala Farhis.

“Jangan tanya aku harus bagaimana.”

“Lihat dia.”

Suara tamparan itu terdengar sampai ke ruang tengah.

Laila spontan menoleh.

Dilihatnya Farhis sedang dipegang wajahnya oleh Granti.

Laila membeku.

"Astaghfirullah..."

batinnya.

"Apa yang mereka lakukan?"

Namun ia memilih kembali menatap layar laptop.

Berusaha menganggap tidak ada apa-apa.

Granti menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.

Lalu berkata dengan suara biasa,

“Daripada bosan... nyalakan TV saja, Ti.”

Farhis mengangguk pelan.

Ia menyalakan televisi agar suasana terlihat normal.

Sementara itu, Granti mengambil ponselnya.

Mengetik sesuatu.

Lalu menyerahkannya pada Farhis.

Farhis membaca:

"Maaf sudah menampar Uda. Aku cuma mau menyadarkan Uda. Sekarang Uda harus putuskan... apa yang akan Uda lakukan."

Farhis terdiam.

Lalu ia membalas di ponsel itu:

"Baik. Tapi ajari aku caranya, Ti."

Granti membaca pesan itu.

Lalu membalas:

"Tidak ada yang bisa mengajari soal ini."

Ia melirik ke arah Laila.

"Mungkin hanya Uda sendiri yang tahu caranya."

Beberapa detik kemudian, pesan baru muncul.

"Tapi satu hal yang Ti tahu..."

"Malam ini Laila sudah melakukan lebih dari sekadar menyambut tamu."

Farhis membaca pelan.

"Dia membuat makan malam ini... dengan seluruh hatinya."

Farhis menatap meja makan yang masih menyisakan kehangatan.

Lalu memandang Laila.

Dan untuk pertama kalinya—

ia mulai memahami bahwa cinta terbesar...

sering kali bukan yang paling keras berbicara.

Melainkan yang paling lama bertahan dalam diam.
.
Granti kembali menatap Laila dari kejauhan.

Cara Laila memasak, menyiapkan meja, memastikan semuanya lengkap, bahkan memperhatikan hal-hal kecil seperti makanan favorit mereka—

semuanya terasa terlalu personal.

Terlalu tulus.

Dan tiba-tiba Granti mengerti.

Malam ini...

Laila sedang memperlakukan Farhis seperti seseorang yang seharusnya menjadi suaminya.

Bukan dengan kata-kata.

Tapi dengan tindakan.

Malam ini adalah penyaluran dari semua perasaan yang selama ini tak pernah sempat ia sampaikan.

Granti menggenggam ponselnya erat.

Lalu mengetik cepat dan menyerahkannya kepada Farhis.

"Sekarang Uda tahu kenapa aku marah?"

Farhis membaca.

Lalu menoleh.

Granti kembali menulis:

"Laila pernah bilang padaku... dia hanya akan menunjukkan seluruh kemampuan dan jati dirinya kepada laki-laki yang kelak menjadi suaminya."

Farhis membeku.

Matanya perlahan beralih ke arah Laila.

Ke arah perempuan yang sejak tadi sibuk bekerja, seolah semua ini hanyalah malam biasa.

Padahal ternyata...

tidak.

Granti kembali menatap sahabatnya itu.

Di dalam hatinya ada keputusan berat yang harus ia hadapi.

Ia pernah mencintai Farhis.

Dan kini ia tahu—

Laila mencintainya jauh lebih dalam.

Granti tersenyum kecil, meski matanya masih basah.

"Terima kasih, La..." batinnya.

"Karena kamu pernah hadir. Meski mungkin hanya sebagai fatamorgana dalam hidup kami."

Baginya, masa lalu sudah cukup menjadi kesedihan.

Ia tidak ingin masa depan Laila menjadi kesedihan berikutnya.

Dan untuk pertama kalinya, Granti merasa optimis—

masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya.

Apa pun yang bisa ia bantu...

ia akan membantu.

Karena itulah arti sahabat.

Karena rasa lelah mulai menyerangnya, Granti berdiri.

“Aku ke kamar dulu, ya. Capek.”

Laila mengangguk kecil tanpa menoleh dari layar laptop.

Farhis hanya memperhatikannya berjalan masuk ke kamar.

Kini ruang tengah terasa lebih sunyi.

Hanya ada suara ketikan keyboard.

Farhis lalu menghampiri Laila.

“Masih banyak kerjaan?”

Laila tetap fokus pada layar.

“Sedikit lagi.”

Farhis berdiri di sampingnya.

“Tidur saja kalau sudah ngantuk.”

Laila tersenyum kecil.

“Harusnya Kakak yang tidur.”

Farhis menggeleng.

“Aku belum ngantuk. Mau kubantu?”

Laila menoleh sebentar.

Tatapan mereka bertemu.

“Enggak usah.”

Lalu ia kembali menatap layar.

“Tinggal edit sedikit, simpan... selesai.”

Farhis mengangguk.

Ia kembali ke sofa dekat televisi.

Buku catatan Laila masih ada di sana.

Ia membuka kembali beberapa halaman.

Mencoba memahami tulisan-tulisan itu lebih dalam.

Setiap kalimat terasa seperti potongan hati yang tertinggal.

Sedikit demi sedikit rasa kantuk mulai datang.

Sementara itu, setelah pekerjaannya selesai, Laila menutup laptopnya.

Ia berjalan ke dapur.

Mengambil segelas susu cokelat hangat.

Kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap selesai lembur.

Setelah meminumnya perlahan, ia kembali ke ruang tengah.

Farhis terlihat setengah tertidur di sofa.

Laila duduk di sampingnya.

Meregangkan jemari tangannya yang pegal setelah bekerja.

Dalam diam—

untuk pertama kalinya malam itu,

tak ada pekerjaan,
tak ada tamu,
tak ada kepura-puraan.

Hanya dua orang...

dan seluruh masa lalu yang belum selesai.
Setelah hampir satu jam bekerja tanpa henti, jemari Laila mulai terasa lelah.

Laptopnya akhirnya ditutup perlahan.

Malam semakin sunyi.

Hanya suara jam dinding yang terdengar berdetak pelan.

Untuk menghibur dirinya, Laila mengambil gitar akustik yang tergantung di sudut ruang tengah.

Gitar yang sudah lama menjadi teman sunyinya.

Ia duduk kembali di sofa.

Memetik senar pelan.

Lalu memainkan lagu dari musisi idolanya, Siti Nurhaliza—

"Betapa Ku Cinta Padamu."

Nada-nada itu mengalun lembut.

Penuh rasa.

Penuh sesuatu yang tak bisa diucapkan.

Di sofa seberang, Farhis yang belum benar-benar tertidur perlahan membuka mata.

Suara gitar itu membangunkannya.

Ia menatap Laila yang sedang memainkan lagu dengan kepala sedikit menunduk.

Laila menyadari itu.

Ia berhenti.

“Maaf, Kak...”

Farhis mengangkat kepala.

“Aku ganggu tidur Kakak ya?”

Farhis menggeleng pelan.

“Enggak.”

Ia duduk lebih tegak.

“Lanjutkan.”

Laila tersenyum kecil.

Farhis memandang gitar itu.

“Kalau boleh... mainkan Diary Hati.”

Laila membeku sesaat.

Lagu itu.

Lagu yang dulu sering ia dengar diam-diam ketika mencoba memahami isi hatinya sendiri.

Namun ia tak menolak.

Jemarinya kembali bergerak.

Memetik melodi lagu itu dengan begitu piawai.

Setiap nada terdengar hidup.

Seolah menyampaikan semua yang tak pernah sempat ia katakan.

Farhis mendengarkan.

Pelan.

Hingga matanya kembali berat.

Dan akhirnya ia tertidur.

Dengan suara gitar Laila sebagai pengantar.

Jam dinding menunjukkan pukul 23.45 ketika lagu itu berhenti.

Laila meletakkan gitar perlahan.

Matanya menangkap sesuatu di meja.

Buku catatan hariannya.

Buku lama yang ia tulis sewaktu masih di kampung.

Ia menatapnya lama.

Lalu melihat Farhis yang kini sudah benar-benar terlelap di sofa.

Wajahnya terlihat lelah.

Seperti seseorang yang baru selesai memikul terlalu banyak pikiran.

Laila berdiri.

Mengambil selimut tipis miliknya.

Dan menyelimuti Farhis dengan hati-hati.

Tangannya sempat menyentuh rambut Farhis sebentar.

Namun ia segera menariknya kembali.

Seolah takut perasaannya terbaca.

“Selamat tidur...” bisiknya pelan.

Lalu ia berjalan menuju kamarnya.

Saat masuk, matanya tertuju pada sebuah kotak kecil di atas meja rias.

Sebuah kado.

Ia mendekat.

Di atasnya ada tulisan tangan yang sangat ia kenal.

Dari Lousiyana Granti Azzhura.

Laila membuka kado itu perlahan.

Di dalamnya ada sebuah jilbab pashmina berwarna biru.

Warna favoritnya.

Dan secarik pesan kecil.

"Selamat ulang tahun, Laila Fauzania."

"Semoga tahun ini bukan lagi tentang kehilangan."

Air mata Laila jatuh.

Bukan karena sedih.

Tapi karena merasa...

masih ada seseorang yang tidak pernah melupakannya.

Ia menoleh.

Granti sudah tertidur di samping tempat tidur.

Laila perlahan berbaring di samping sahabatnya itu.

Menatap wajah Granti dalam diam.

Lalu tersenyum kecil.

“Terima kasih, Ti...”

Suaranya hampir tak terdengar.

“Karena tidak pernah lupa.”

Malam itu—

di antara luka,
kenangan,
dan perasaan yang belum selesai—

Laila akhirnya tidur...

dengan satu perasaan hangat yang sudah lama tak ia rasakan:

diingat.

CHAPTER VI
RDR 1

Pagi itu, udara Bukittinggi terasa lebih dingin dari biasanya.

Jam dinding baru menunjukkan pukul 04.20.

Biasanya, di jam seperti ini, Laila sudah berjalan menuju masjid untuk menunaikan shalat Subuh.

Namun pagi ini berbeda.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memilih tetap di rumah.

Di ruang tengah, Laila telah menyiapkan tiga sajadah berjajar rapi.

Satu untuk dirinya.

Satu untuk Granti.

Dan satu lagi...

untuk Farhis.

Seolah tanpa sadar, pagi itu ia ingin menghidupkan sesuatu yang selama ini hanya hidup dalam angan.

Granti terbangun lebih dulu.

Melihat Laila yang sudah siap dengan mukena putihnya, ia tersenyum kecil.

“Jarang-jarang nggak ke masjid.”

Laila tersenyum tipis.

“Pagi ini... di rumah saja.”

Granti mengerti.

Ia lalu berjalan ke ruang tamu dan melihat Farhis masih tertidur di sofa, selimut masih menutupi tubuhnya.

“Da... bangun.”

Farhis mengerutkan kening.

“Subuh.”

Farhis membuka mata perlahan.

Wajahnya terlihat lelah.

Begadang semalaman membaca catatan Laila dan memikirkan semuanya membuat tidurnya tak benar-benar nyenyak.

Ia duduk perlahan.

Beberapa detik kemudian mereka bertiga sudah berdiri di atas sajadah.

Farhis maju sebagai imam.

Laila berdiri di belakangnya.

Jarak hanya beberapa langkah.

Namun bagi Laila, itu terasa seperti jarak yang selama ini tak pernah bisa ia tempuh.

Subuh itu terasa lebih panjang.

Lebih khusyuk.

Dan lebih berat.

Seolah masing-masing membawa doa yang berbeda.

Setelah salam terakhir, mereka tak langsung beranjak.

Ketiganya mengambil mushaf Al-Qur’an.

Membaca dalam diam.

Suara ayat-ayat suci memenuhi ruang rumah yang sederhana itu.

Menenangkan.

Menghangatkan.

Seperti menambal sesuatu yang selama ini retak.

Setelah selesai, Laila berdiri.

Seperti kebiasaannya sejak dulu, ia menuju dapur dan menyiapkan teh hangat.

Minuman yang selalu ia buat setiap selesai Subuh sebelum sarapan.

Granti duduk di meja makan.

Farhis masih memperhatikan setiap gerak Laila.

Semua kebiasaannya terasa begitu sederhana.

Tapi justru itu yang membuatnya terasa istimewa.

Tak lama, ponsel BB Bold 9900 Laila berdering.

Nama di layar:

Imam

Laila mengangkat.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam, Kak.”

Suara Imam terdengar hangat.

“Selamat ulang tahun ya, Kak.”

Laila tersenyum kecil.

“Makasih.”

“Semoga tahun ini Kakak diberi kebahagiaan yang selama ini dicari.”

Laila terdiam sesaat.

“Aamiin.”

Lalu dengan nada bercanda, Laila berkata,

“Kadonya mana?”

Imam tertawa.

“Nanti kalau pulang kampung.”

Laila ikut tertawa kecil.

Percakapan sederhana itu terdengar jelas.

Dan entah kenapa—

Farhis merasa kalimat itu seperti bukan hanya untuk Imam.

Seolah Laila sedang menagih sesuatu...

yang seharusnya datang darinya.

Sesuatu yang tak pernah ia berikan.

Sebuah pengakuan.

Atau mungkin...

sebuah kepastian.

Farhis terdiam.

Lalu berdiri perlahan.

Tanpa banyak bicara, ia berjalan menuju laptop Laila yang masih terbuka di ruang tengah.

Granti menatap heran.

“Apa yang Uda lakukan?”

Farhis menjawab pelan.

“Perlindungan.”

Sejak semalam, diam-diam Farhis telah memasang beberapa perangkat kecil di sekitar rumah.

Sistem pengawas.

CCTV mini.

Dan satu drone anti-maling yang terhubung langsung ke laptop Laila.

Ia mengaktifkan semuanya.

Layar monitor menampilkan beberapa sudut rumah.

Halaman depan.

Pagar.

Atap.

Sisi belakang.

Granti menatap.

“Kau masih sama.”

Farhis tak menjawab.

Matanya tetap fokus.

“Kalau Laila memang sedang diburu sesuatu...”

Ia berhenti.

“Setidaknya sekarang dia nggak sendirian.”

Di dapur, Laila menatap teh hangat yang mulai mengeluarkan uap.

Tanpa ia sadari—

untuk pertama kalinya setelah sekian lama,

ada dua orang di rumahnya...

yang benar-benar sedang menjaganya.

Setelah memastikan seluruh sistem keamanan aktif, Farhis menyempurnakan jaringan yang ia buat semalaman.


Laptop Laila kini terhubung langsung dengan drone T-Savior, kamera CCTV di beberapa sudut rumah, dan ponsel pribadi Laila.


Semuanya saling terintegrasi.


Jika ada gangguan, pergerakan mencurigakan, atau akses paksa—


semuanya akan langsung terkirim ke perangkat utama.


Bukan hanya lebih aman.


Tapi jauh lebih kuat.


Farhis menatap layar sebentar.


“Sekarang setidaknya rumah ini punya mata.”


Tak lama setelah panggilan dengan Imam selesai, ponsel Laila bergetar.


Layar menampilkan notifikasi:


T-Savior: Silakan menuju lantai atas. Ada seseorang yang menunggu Anda.


Laila mengernyit.


“Apa lagi ini?”


Sebuah drone kecil berbentuk bulat melayang turun dari tangga.


Lampu birunya berkedip.


“Selamat pagi, Nona Laila. Mohon ikuti saya.”


Granti tertawa kecil melihat ekspresi bingung sahabatnya.


“Naik saja.”


Laila mengikuti drone itu ke lantai atas.


Di sana, Farhis sudah berdiri di depan meja kerja dengan laptop terbuka.


Drone itu berhenti di sampingnya.


Farhis tersenyum kecil.


“Perkenalkan.”


Ia menunjuk drone itu.


“T-Savior.”


Laila mengangkat alis.


“Apa itu?”


“Robot drone buatanku.”


Farhis menyentuh panel kecil di badannya.


“Dirancang khusus untuk mengusir kegalauan.”


Laila tertawa kecil.


“Serius?”


Farhis mengangguk.


“Memori dua ratus ribu kosakata. Respon sekitar dua puluh milidetik.”


Farhis memberi perintah.


“T-Savior.”


Lampu drone menyala.


“Ya, Tuan.”


Farhis tersenyum.


“Beri salam.”


Drone itu berputar kecil menghadap Laila.


“Assalamualaikum, Nona Laila.”


Laila tersenyum.


“Waalaikumsalam.”


Farhis lalu berkata,


“Sekarang... ucapkan selamat ulang tahun.”


Drone itu menjawab cepat.


“Selamat ulang tahun, Nona Laila Fauzania. Semoga kebahagiaan selalu menyertai Anda.”


Laila terdiam.


Matanya melembut.


Farhis lalu menunjukkan layar ponsel.


“Semua ini bisa dikendalikan dari sini.”


Laila melihat tampilan CCTV, sensor gerak, dan navigasi drone yang semuanya tersambung.


“Kakak bikin ini semalam?”


Farhis mengangguk.


“Biar rumahmu lebih aman.”


Laila memandang Farhis beberapa detik.


Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan.


Tapi tak jadi.


Farhis kemudian bersandar.


Menatap Laila.


“Kalau ada seseorang yang ingin menikahimu... bagaimana?”


Laila tertawa kecil.


“Siapa yang mau sama aku?”


Farhis menggeleng.


“Jangan bercanda.”


Laila menatapnya.


Farhis berkata pelan,


“Kamu perempuan tercantik yang pernah aku kenal.”


Kalimat itu membuat Laila terdiam.


Matanya sedikit menghindar.


Lalu ia tersenyum kecil.


“Kalau memang berjodoh... tentu akan aku terima.”


Farhis menatapnya lebih dalam.


“Jodoh seperti apa yang kamu inginkan?”


Pertanyaan itu menggantung di udara.


Dan untuk sesaat—


Laila merasa,

mungkin pagi itu...


takdir sedang mulai mengetuk pintunya.

Laila terdiam cukup lama setelah mendengar pertanyaan Farhis.


Angin pagi dari jendela lantai atas berhembus pelan.


Matanya memandang jauh ke arah pegunungan yang berdiri kokoh di kejauhan.


Lalu ia berkata pelan,


“Dulu... Pak Datuak pernah menjelaskan tiga tipe jodoh.”


Farhis mendengarkan.


Laila berhenti sejenak.


Dan suaranya menjadi lebih lembut.


“Aku ingin tipe ketiga.”


Farhis menatapnya.


Laila tersenyum tipis.


Farhis terdiam.


Laila melanjutkan,


“Kalau soal poligami... bagiku itu tanggung jawab yang berat.”


Ia menatap langit.


“Harus adil.”


“Harus punya rasa kasihan pada istri yang lain.”


“Dan harus rela berbagi.”


Ia tersenyum pahit.


“Aku nggak tahu apakah aku mampu.”


Farhis hanya diam.


Laila lalu berkata lagi,


“Dan perceraian...”


Ia menarik napas.


“Itu hal yang paling dibenci Allah.”


Kalimat itu membuat dada Farhis terasa sesak.


Karena untuk pertama kalinya—


ia merasa sedang berbicara dengan perempuan yang memandang pernikahan bukan sekadar cinta.


Tapi amanah.


Farhis menggenggam pagar balkon erat.


Lalu akhirnya berkata,


“Kalau begitu... sebenarnya aku ingin menikahimu.”


Laila membeku.


Matanya membesar.


“Apa?”


Farhis menatap lurus.


“Aku ingin menikahimu, La.”


“Tapi... aku bingung.”


Laila menatapnya dengan napas tak teratur.


Bingung.


Terkejut.


Tak siap.


Ia mundur perlahan.


Lalu berjalan ke sisi lain lantai dua.


Duduk di kursi kayu dekat jendela.


Memandang pegunungan.


Diam.


Farhis mendekat perlahan.


“Aku tahu semuanya.”


Laila tak menoleh.


Farhis melanjutkan.


“Granti yang cerita.”


Laila menunduk.


“Aku juga tahu... dari buku catatanmu.”


Tangannya menggenggam erat ujung kursi.


“Dan dari Imam.”


Farhis menarik napas panjang.


“Dulu... waktu aku lihat akun sosial mediamu.”


“Ada status kalau kamu sudah menikah.”


Laila memejamkan mata.


“Aku hancur saat itu.”


Farhis tertawa pahit.


“Aku pikir... aku benar-benar kehilanganmu.”


Laila tetap diam.


Farhis melanjutkan dengan suara berat.


“Setelah aku baca semua catatanmu... setelah dengar semuanya...”


Ia menunduk.


“Aku sadar.”


“Aku yang salah.”


Sunyi.


Hanya suara angin.


Farhis akhirnya berkata pelan,


“Maafkan aku, La.”


Laila menutup matanya.


Air mata mulai jatuh.


Tapi suaranya tetap tegas.


“Aku nggak mau kejadian masa lalu terulang lagi.”


Farhis menatapnya.


Laila akhirnya menoleh.


Tatapannya penuh luka.


“Aku nggak mau berharap lagi... lalu kehilangan lagi.”


Kalimat itu menghantam Farhis.


Tapi kali ini—


ia tak mundur.


Ia melangkah mendekat.


Dan berkata dengan suara yang tak lagi ragu.


“Kalau kali ini aku datang...”


Ia menatap mata Laila.


“Aku datang untuk tinggal.”


Farhis menggenggam tangan Laila perlahan.


“Aku ingin bersamamu selamanya.”


Laila menarik tangannya perlahan dari genggaman Farhis.

Air matanya belum berhenti.

Namun kali ini bukan karena pengakuan Farhis.

Melainkan karena ada sesuatu yang selama ini ia kubur terlalu dalam.

Sesuatu yang belum pernah ia ceritakan pada siapa pun.

“Kalau Kakak benar-benar ingin tahu kenapa aku seperti ini...”

Laila menatap jauh ke pegunungan.

“Dengarkan baik-baik.”

Farhis diam.

Laila menatap kosong ke depan.

“Lebih dari dua puluh delapan tahun lalu… ada seorang laki-laki bernama Amal.”

“Ia mencintai ibuku, Rona.”

“Dan ibuku… juga mencintainya.”

“Tapi keluarga ibu tidak pernah setuju.”

“Karena Amal bukan siapa-siapa. Tidak punya harta. Tidak punya masa depan.”

Laila menarik napas.

“Lalu mereka tetap bersama.”

“Dan dari hubungan itu… lahirlah kami bertiga.”

“Aku… Imam… dan Arqam.”

Farhis terdiam.

“Tapi cinta yang dipaksakan oleh keadaan… tidak selalu tumbuh menjadi kebahagiaan.”

“Amal masih terlalu muda.”

“Begitu juga ibuku.”

“Mereka bahkan belum mengerti bagaimana menjadi orang tua.”

Laila menunduk.

“Yang ada hanya pertengkaran.”

“Amarah.”

“Dan pukulan.”

Farhis mengepalkan tangan.

“Amal sering melampiaskan semuanya pada ibu.”

“Dan kadang… pada kami.”

Suaranya mulai melemah.

“Waktu aku kecil, aku pernah sakit parah.”

“Tubuhku lemah… hampir tidak bisa bergerak.”

“Ibuku pikir aku akan mati.”

Laila tersenyum tipis.

“Dan saat itu… ibu seperti kehilangan akal sehatnya.”

Sunyi.

“Tak lama setelah itu… Amal pergi.”

“Entah diusir… atau memang memilih pergi.”

“Yang jelas…”

“Dia meninggalkan kami.”

Angin berembus pelan.

“Ibu yang tidak sanggup membesarkan kami… menitipkan kami pada kakek dan nenek.”

“Mereka yang merawat kami.”

“Mereka yang mengajarkan kami bertahan.”

Laila menggigit bibirnya.

“Tapi kebahagiaan itu sebentar.”

“Satu per satu… mereka meninggal.”

Farhis menatap Laila dengan mata berat.

“Dan sejak saat itu…”

“Kami hidup sendiri.”

Farhis tak mampu berkata apa-apa.

“Beberapa tahun kemudian...”

“Amal kembali.”

Laila menggertakkan rahangnya.

“Dan bukannya menyesal...”

“Dia memaksaku mengamen di Bukittinggi.”

Farhis mengepalkan tangan.

“Dia mengambil semua uangnya?”

Laila mengangguk.

“Semua.”

Lalu ia melanjutkan,

“Setelah itu... Amal menggunakan ilmu pelet.”

Farhis mengernyit.

“Untuk menikahi seorang janda kaya bernama Eli.”

“Dan setelah orang tua Eli meninggal...”

“Amal mendadak jadi orang kaya.”

Laila tertawa lagi.

“Cepat sekali, ya?”

Namun tawanya kosong.

Farhis merasakan kemarahan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Laila menatap lurus.

“Dan tahu apa yang dia lakukan setelah kaya?”

Farhis diam.

“Dia menghancurkan rumah tempat kami tinggal.”

Rumah kecil.

Satu-satunya tempat yang menyimpan kenangan Rona.

Satu-satunya tempat yang tersisa.

Farhis tak bisa bicara.

Kini ia mengerti.

Kenapa Laila begitu takut kehilangan.

Kenapa ia selalu bekerja keras.

Kenapa ia tak pernah meminta apa pun.

Dan kenapa cinta baginya bukan permainan.

Laila menatap Farhis dengan mata merah.

“Jadi...”

Suaranya pelan.

“Kalau Kakak bilang ingin bersamaku selamanya...”

Ia tersenyum pahit.

“Pikirkan baik-baik.”

“Aku bukan perempuan yang lahir dari kisah yang indah.”

Farhis mendekat.

Tatapannya tak goyah.

Lalu ia berkata pelan,

“Justru karena itu...”

Ia menggenggam tangan Laila lagi.

“Aku ingin jadi akhir yang indah dari semua lukamu.”

Berikut versi yang lebih rapi, emosional, dan lebih natural alurnya, tanpa mengubah inti cerita:



---


“…rumah baru itu besar, mewah, dan bertingkat. Amal membawa ketiga anaknya tinggal di sana.”


Laila Fauzania terdiam setelah penjelasan panjang itu. Bibirnya bergetar, seakan ingin menangis, tetapi air matanya tertahan oleh terlalu banyak luka yang telah ia simpan bertahun-tahun.


Farhis menarik tubuh Laila ke dalam pelukannya.


Saat itulah air mata Laila akhirnya jatuh.


Setetes.


Dua tetes.


Membasahi bahu dan punggung Farhis.


Namun air mata itu bukan air mata biasa.


Cairan asam itu perlahan membakar kain baju Farhis, menembus kulit, melukai dagingnya hingga darah mulai merembes.


Farhis tetap diam.


Tetap memeluknya erat.


Seolah rasa sakit itu tak sebanding dengan luka yang selama ini dipendam Laila.


“Bagaimana perlakuan Bu Eli pada kalian?” tanya Farhis pelan, masih ingin tahu akhir dari kisah itu.


Laila terisak.


“Seperti pembantu... bukan anak.”


Tangisnya pecah lagi.


Farhis mengusap rambutnya perlahan.


“Menangislah, Laila. Tidak ada manusia yang sanggup menahan semuanya sendirian. Bahkan orang terkuat pun pernah hancur dan menangis.”


Laila menjauh sedikit, menatap luka di bahu Farhis.


“Tapi Kakak terluka karena air mataku...”


Farhis tersenyum kecil.


“Kamu tahu aku, kan?”


Ia mengangkat tangannya, lalu menyeka sisa air mata di pipi Laila dengan ujung jarinya.


Beberapa detik kemudian kulit jarinya mulai melepuh dan robek.


Darah mengalir.


Namun perlahan, luka itu menutup sendiri.


Pulih seperti semula.


“Itulah kenapa Granti bilang... satu-satunya orang yang bisa hidup bersamamu... mungkin cuma aku.”


Laila menatapnya dalam diam.


“Sekarang... lanjutkan.”


Laila menarik napas panjang.


“Aku kembali mengamen di Bukittinggi. Aku harus mencari biaya sekolah untukku dan Imam.”


“Kadang aku pulang sangat malam.”


“Dan setiap kali itu terjadi... Eli selalu marah.”


Suaranya melemah.


“Dia memukulku.”


Laila membuka bagian belakang bajunya.


Farhis membeku.


Di sana, puluhan bekas luka sayatan panjang memenuhi punggung Laila.


Bekas luka dalam.


Seolah dagingnya pernah diiris tanpa ampun.


Luka-luka yang jika dulu dibawa ke rumah sakit mungkin membutuhkan puluhan jahitan.


Tanpa berpikir panjang, Farhis menggigit ujung jarinya sendiri.


Darah segar menetes.


“Pejamkan matamu kalau kamu tak sanggup melihat darah, maaf... ini mungkin sedikit sakit.”


Farhis mengoleskan darahnya ke bekas luka itu.


Laila menahan napas.


Perlahan...


bekas-bekas luka itu mulai memudar.


Menutup.


Menghilang.


Seakan tak pernah ada.


Air mata kembali jatuh dari mata Laila.


“Apakah dia masih pantas dipanggil ibu, Kak?”


Farhis terdiam sejenak.


“Laila... bersabarlah.”


Ia menatap punggung yang kini kembali bersih.


Bukan hanya ingin menyembuhkan tubuhnya—


tetapi juga ingin menghapus sebagian luka masa lalunya.


Laila merapikan bajunya kembali.


“Aku tak lebih dari anak haram... Aku malu dengan diriku sendiri.”


Farhis menatapnya tegas.


“Tidak.”


“Manusia lahir ke dunia dalam keadaan suci.”


“Kamu tidak berdosa karena bagaimana kamu dilahirkan.”


Laila menunduk.


“Aku malu menceritakan semua ini.”


“Kalau ini rahasia bagimu... maka rahasia itu akan tetap bersamaku.”


Farhis menggenggam tangannya.


“Dan aku serius... aku ingin menikahimu.”


Laila tersenyum pahit.


“Kakak sudah menemukan orang baik.”


“Bahkan Kakak sudah punya putri yang cantik.”


“Biarkan Laila seperti ini.”


“Laila bahagia... kalau Kakak bahagia.”


“Seperti waktu di Ngarai... Kakak dan Granti sudah sama-sama bahagia.”


Farhis menggeleng pelan.


“Aku cuma ingin melihat kamu tersenyum... di depanku, atau bahkan di belakangku.”


Untuk pertama kalinya malam itu, Laila benar-benar tersenyum.


Ia bangkit dari duduknya.


“Ayo turun, Kak.”


“Granti pasti sudah menunggu.”


Saat mereka turun ke bawah, Lousiyana Granti Azzhura menatap mereka dengan tangan bersedekap.


“Kirain lagi siap-siap. Ternyata dari tadi berduaan di atas. Habis ngapain?”


Farhis tersenyum tipis.


“Cuma ngobrol.”


Granti menyipitkan mata.


Tatapannya jatuh pada bercak darah yang masih segar di baju Laila.


Sebagai dokter, ia mengenali bau darah itu dalam sekejap.


Namun ia memilih diam.


“Sudahlah. Ayo siap-siap.”


“Hari ini kita liburan dulu.”


“Baik,” jawab Laila.


Ia masuk ke kamar, mengganti bajunya, lalu mengenakan jilbab baru yang tadi diberikan Granti.


Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...


dadanya terasa sedikit lebih ringan.


---


CHAPTER VII

Rahasia di Atas Rahasia (Part 2)


Farhis kembali mengaktifkan T-Savior melalui smartphone milik Laila Fauzania. Ia sempat sibuk mengambil beberapa foto selfie dan merekam video singkat, membuat Laila hanya menggeleng sambil tersenyum kecil.


“Yuk, berangkat,” panggil Lousiyana Granti Azzhura.


Farhis dan Granti menunggu di ruang depan sampai akhirnya pintu kamar terbuka.


Laila keluar.


Mengenakan jilbab baru pemberian Granti.


Sederhana.


Tapi sangat anggun.


Granti langsung memutar kepala Farhis ke arah Laila.


“Subhanallah... cantiknya calon istriku.”


Farhis tersenyum lebar.


Granti buru-buru menutup mata Farhis dengan tangannya.


“Belum muhrim. Jangan lihat lama-lama.”


Laila tersipu.


Mereka pun berangkat menuju Danau Maninjau.


Pukul sepuluh pagi, udara di Maninjau masih terasa dingin. Matahari masih tertutup awan tebal, membuat suasana terasa teduh dan damai.


Hari itu, untuk sesaat, mereka bertiga seperti melupakan seluruh beban hidup.


Granti sibuk mengabadikan pemandangan dengan kamera DSLR-nya.


Sementara Farhis dan Laila duduk berdua di tepi pagar pembatas.


Farhis memandang danau yang tenang.


“Laila... apa kamu benar-benar mengenalku?”


Laila mengernyit.


“Tentu saja.”


Farhis menoleh.


“Kalau begitu... ceritakan aku.”


Laila terdiam.


“Untuk apa? Bukankah masa lalu lebih baik dilupakan?”


“Aku cuma ingin tahu... bagaimana aku hidup di ingatanmu.”


Laila menarik napas panjang.


“Baiklah.”


Ia menatap jauh.


“Muhammad Farhis Zarfan. Lahir pada sebelas September. Anak dari Hamidah... dan Bagindo.”


Farhis diam.


“Farhis adalah keturunan terakhir Palasik... darah monster pemakan darah manusia dari garis ayahnya.”


Laila menunduk.


“Sejak kecil orang-orang menjauhimu. Mereka bilang kau monster yang membunuh ibumu saat dilahirkan.”


Laila ragu.


“Maaf... apa itu benar?”


Farhis tersenyum pahit.


“Itu benar.”


Ia menatap Laila.


“Kamu tidak takut?”


Laila menggeleng.


“Tidak.”


“Bagiku... Kak Farhis adalah monster yang punya hati.”


Ia tersenyum tipis.


“Aku lebih takut pada manusia yang berhati monster.”


Farhis terdiam cukup lama.


Untuk pertama kalinya, seseorang menerima dirinya tanpa takut.


“Lanjutkan.”


Laila melanjutkan.


“Farhis pernah jatuh hati pada seseorang yang sejak kecil tumbuh bersamanya.”


Farhis tertawa kecil.


“Lanjut.”


“Tapi Farhis patah hati saat Granti memilih orang lain.”


“Farhis merasa janji di peristiwa Ngarai telah dikhianati.”


Laila menatapnya sebentar.


“Lalu rumahnya diserang Bujur Sangkar Putih. Ayahnya dibunuh.”


Farhis mengepalkan tangan.


“Tapi Farhis tidak pernah dendam.”


“Dan itu membuktikan... Farhis bukan monster seperti yang dikatakan orang.”


Farhis menunduk.


Laila melanjutkan dengan suara lirih.


“Kesedihan demi kesedihan membuat Farhis kehilangan arah.”


“Bahkan kuliahnya sempat terbengkalai.”


“Tapi seseorang... sahabat Granti... selalu membantunya bangkit.”


Farhis mulai memahami ke mana arah cerita itu.


“Farhis akhirnya kembali menyelesaikan S1 Teknik Robotika.”


“Dan di hari wisudanya...”


Laila berhenti.




Farhis menatapnya.


“Wanita yang kelak menjadi istrinya... datang lebih dulu daripada seseorang yang diam-diam selalu berharap padanya.”


Sunyi.


Angin Maninjau berembus pelan.


Air mata Farhis jatuh.


Laila tersentak.


“Maaf... kalau itu membuat Kakak mengingat semuanya.”


Farhis menghapus air matanya.


“Tidak...”


“Kadang kita butuh orang lain untuk mengingatkan siapa diri kita.”


Tiba-tiba Granti datang sambil mengangkat kameranya.


“Cheers!”


Klik.


Foto itu menangkap momen Farhis yang masih bermata basah dan Laila yang menatapnya penuh iba.



Setelah dari Danau Maninjau, mereka melanjutkan perjalanan ke Puncak Lawang.


Mereka mencoba paralayang.


Bermain outbound.


Dan saling menembak dengan airsoft gun.


Seharian penuh.


Berusaha mengembalikan tawa yang tadi sempat runtuh oleh masa lalu.


Menjelang sore, Granti mengajak mereka makan bakso di sebuah kedai kecil.


Saat itulah seorang pengamen cilik masuk.


Bajunya lusuh.


Wajahnya lelah.


Laila memandang anak itu cukup lama.


Seolah melihat dirinya sendiri di masa lalu.


Ia meminjam gitar kecil itu.


Lalu mulai memainkan lagu.


Petikan gitarnya halus.


Suaranya lembut.


Seluruh kedai mendadak sunyi mendengarkan.


Setelah selesai, Laila menyerahkan gitar itu kembali.


“Nak, kumpulkan uang sawerannya.”


Anak kecil itu tersenyum bahagia.


Farhis dan Granti sama-sama mengeluarkan selembar uang seratus ribu.


Laila menepuk kepala anak itu.


“Walaupun kamu mengamen... tetap sekolah setinggi mungkin, ya.”


Anak itu mengangguk cepat.


“Iya, Kak.”


Laila tersenyum.


Namun di matanya...


ada luka lama yang belum benar-benar sembuh.


Karena ia tahu persis rasanya menjadi anak kecil yang harus bertahan hidup terlalu cepat.



---


CHAPTER VIII


Perpisahan sebagai Awal


Setelah liburan yang hangat dan penuh tawa itu, akhirnya tiba waktunya kembali ke kehidupan masing-masing.


Lousiyana Granti Azzhura mengantar Laila Fauzania pulang ke rumahnya di Lubuk Basung.


Hari mulai sore.


Langit mulai menguning.


Seakan ikut mengantar perpisahan yang tak ingin cepat selesai.


Di depan rumah sederhana itu, Farhis dan Granti bersiap berpamitan.


Farhis akan kembali ke Amerika.


Dan Granti kembali ke Pekanbaru untuk melanjutkan tugasnya.


“Hati-hati bawa mobilnya, Ti,” kata Farhis sambil memeluk Granti erat.


Pelukan itu bukan sekadar pertemanan.


Itu pelukan dua orang yang sudah melewati terlalu banyak luka bersama.


Granti tersenyum.


“Sip. Dan kamu...” Granti menoleh pada Laila.


“Cepat cari orang yang bisa jagain kamu, La.”


Laila tersenyum kecil.


Tapi senyumnya terasa rapuh.


Farhis mendekat.


Memegang kedua bahu Laila.


Menatap matanya lurus.


“Jaga diri.”


“Jaga kesehatan.”


“Jangan terlalu banyak pikiran.”


“Jangan terlalu sering sedih.”


Ia berhenti sebentar.


Lalu tersenyum.


“Karena bagiku... kamu adalah orang terkuat yang pernah kutemui.”


Laila membeku.


Seperti ada banyak kata yang ingin keluar—


tetapi semuanya tertahan di tenggorokan.


Ia hanya bisa menatap Farhis.


Lama.


Sampai akhirnya bibirnya bergerak pelan.


“Iya, Kak... hati-hati di jalan.”


Laila mengantar mereka sampai ke mobil milik Granti.


Mobil itu perlahan bergerak meninggalkan halaman.


Dan untuk beberapa saat...


Laila tetap berdiri di sana.


Menatap sampai mobil itu benar-benar hilang dari pandangan.


Seperti menatap sesuatu yang belum tentu kembali.


---

Lanjutan ini sangat kuat karena bukan cuma membahas cinta, tapi juga takdir, pilihan, dan makna janji lama. Saya rapikan supaya dialognya lebih alami, filosofinya lebih tajam, dan emosinya lebih mengalir:



---


Di tengah perjalanan menuju Kota Padang, suasana di dalam mobil cukup hening.


Farhis masih memikirkan kalimat yang diucapkan Laila Fauzania tadi.


“Dulu Pak Datuak pernah cerita soal jodoh tipe ketiga...”


Lousiyana Granti Azzhura menoleh sekilas sambil menyetir.


“Memangnya Da Far belum tahu?”


Farhis menggeleng.


“Belum. Baru dengar kemarin dari Laila.”


“Kenapa nggak tanya langsung?”


Farhis tersenyum kecil.


“Lupa.”


Granti tertawa pelan.


“Baiklah, Buk Ustadzah jelaskan.”


Farhis menghela napas.


Granti mulai bicara.


“Jodoh itu ada tiga macam.”


“Yang pertama...”


“Kalau Da Far mencintai Anna, lalu melakukan maksiat dengannya sampai akhirnya harus menikahinya... itu namanya jodoh dari setan.”


Farhis mengangguk.


“Yang kedua...”


“Kalau Da Far mencintai Anna, lalu mendatangi pondok perdukunan kaum Parewa, menggunakan guna-guna supaya Anna mau menikah dengan Da Far... itu namanya jodoh dari jin.”


Farhis tertawa kecil.


“Makasih, Buk Ustadzah. Tausiyahnya mantap. Sekarang aku paham.”


Granti tersenyum tipis.


“Dan yang terakhir...”


“Kalau Da Far mencintai Anna, lalu saat kalian saling memandang, kalian merasakan hal yang sama...”


“Lalu Da Far datang dengan niat baik, bertemu keluarga, melakukan ta’aruf, mendekatkan hati dengan cara yang halal, berdoa... lalu Allah merestui sampai ke pelaminan...”


Granti menatap jalan di depannya.


“Itulah yang disebut jodoh dari Allah.”


Mobil kembali sunyi beberapa saat.


Farhis menatap keluar jendela.


“Terus...”


“Apakah salah kalau aku membuka hati untuk Laila, sementara aku sudah punya Anna?”

Granti menghela napas panjang.


“Tapi bukankah Da Far sudah memilih Anna?”


“Perasaan Anna pasti terluka kalau Da Far menikah lagi.”


Farhis memejamkan mata.


“Andai dulu aku tahu semua luka yang Laila simpan…”

Granti tersenyum kecil.


“Apa yang terjadi dalam hidup itu adalah kiriman terbaik dari Allah.”


“Kalau setelah itu ada sesuatu yang lebih baik datang menghampiri...”


“Itu bukan hadiah.”


“Itu ujian tanggung jawab Da Far atas apa yang sudah terjadi.”


“Pertanda Da Far sudah cukup kuat untuk diuji lebih besar.”


Farhis terdiam.


“Laila tahu semuanya.”


“Asal-usulku.”


“Darah Palasikku.”


“Dan dia tidak takut.”


“Dia juga berani membuka rahasia dirinya sendiri.”


Farhis menunduk.


“Aku memang menyayangi Anna...”


“Tapi Laila...aku kasihan pada Laila.”


Granti langsung memotong.


“Kasihan itu bukan cinta.”


“Hanya beda setipis rambut.”


“Tapi tetap berbeda.”


Farhis diam.


Granti melanjutkan.


“Hidup itu aneh.”


“Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi setahun lagi.”


“Sebulan lagi.”


“Besok.”


“Atau bahkan satu detik lagi.”


“Itu semua rahasia Tuhan.”


“Yang bisa kita lakukan cuma bersyukur... dan membahagiakan orang-orang yang masih ada di sekitar kita.”


Farhis menatap Granti.


Wajahnya terlihat buram.


Penuh pikiran.


Granti perlahan menghentikan mobil di tepi jalan.


Lalu mengangkat jari kelingkingnya.


“Da Far masih ingat ini?”


Farhis membeku.


Seketika memorinya kembali ke dua puluh tahun lalu.


Peristiwa Ngarai Sianok.


Saat seorang anak kecil bernama Lou menunjukkan jari kelingkingnya.


“Itu janji kita.”


“Kalau yang satu terluka, yang lain melindungi.”


“Kalau yang satu bahagia... yang lain juga harus bahagia.”


Farhis tersenyum kecil.


Lalu mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Granti.


“Aku ingat.”


Granti tersenyum.


“Da Far nggak perlu khawatir soal Laila.”


“Aku lihat dia sudah mulai kembali ceria sejak kita datang lagi.”


Farhis mengangguk pelan.


“Aku dulu pikir Laila adalah orang paling beruntung... karena masih punya orang tua.”


“Ternyata kita semua di GMX cuma sekumpulan survivor.”


Granti tersenyum pahit.


“Bayangan Putih juga sama.”


“Mungkin Ketua GMX juga begitu.”


“Mungkin itulah kenapa kita semua bisa dekat.”


“Bukan karena darah.”


“Tapi karena luka yang mirip.”


Farhis memandang jalan panjang di depan.


“Kamu benar, Lou.”


“Mungkin… misi ini mulai menemukan jalannya.”

Granti mengernyit.


“Maksudnya?”


“Misi Ngarai Sianok.”


Farhis tersenyum tipis.


“Itu hampir tercapai.”


“Kamu sudah menemukan pelindungmu.”


“Aku juga sebentar lagi menemukan pelindungku.”


Farhis menatap Granti.


“Aku bahagia.”


“Tapi... apakah kamu sudah bahagia, Iou?”


Granti terdiam cukup lama.


Lalu membuka sebuah kotak kecil berwarna hijau.


Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah penjepit rambut bergambar kepala kelinci.


Farhis langsung mengenalinya.


“Itu... punya Lou Granti kecil.”


Granti mengangguk.


“Aku ingin memberikannya pada putrimu.”


“Kalau suatu hari nanti penjepit ini dipakai anakmu...”


Granti tersenyum.


“Aku akan percaya... bahwa Misi Ngarai Sianok benar-benar berhasil.”


Farhis memegang penjepit rambut itu dengan hati-hati.


Seolah memegang seluruh masa kecil mereka.


Granti kembali menyalakan mesin mobil.


Melanjutkan perjalanan menuju Bandara Internasional Minangkabau.


Sebelum kembali ke Amerika, Farhis harus transit lebih dulu ke Jakarta.


Lalu esoknya terbang jauh.


Meninggalkan tanah yang menyimpan terlalu banyak luka...


dan terlalu banyak janji yang belum selesai.

==========

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Kelahiran Granti

Nasti