Sebuah Catatan Usang (2015) edisi revisi 2026
Februari 2011
Granti menghela napas panjang, matanya tetap fokus ke jalan.
“Kurasa... itulah jawaban yang seharusnya Uda berikan atas pertanyaan yang tadi aku tanyakan.”
Farhis menoleh.
“Maksudmu?”
Granti tersenyum kecil.
“Sudahlah, Da.”
Ia memperlambat laju mobil saat memasuki tikungan panjang.
“Ada tiga perkara yang memang bukan urusan manusia untuk terlalu diperdebatkan.”
Farhis terdiam, menunggu.
“Apa itu?”
Granti menjawab pelan,
“Rezeki... jodoh... dan maut.”
Ia menatap lurus ke depan.
“Itu semua rahasia Tuhan.”
Kalimat itu membuat Farhis terdiam cukup lama.
Ia sadar, ada banyak hal yang selama ini ia paksa pahami dengan logika, padahal mungkin jawabannya memang tak pernah dititipkan untuk manusia.
Farhis menarik napas panjang.
“Kamu benar.”
Granti melirik sekilas.
“Kalau begitu, jangan lagi sibuk membandingkan.”
Farhis menatap buku catatan lusuh di tangannya.
“Tujuan kita menemukan Laila bukan untuk membuka luka lama.”
Granti mengangguk.
“Tapi untuk menemukan kebenaran.”
Farhis melanjutkan,
“Dan memberi dia kekuatan... supaya bisa melanjutkan hidupnya dengan bahagia.”
Granti terdiam.
Namun tak lama, perdebatan kecil kembali muncul.
Keduanya masih membawa pandangan masing-masing.
Farhis tetap merasa ia perlu menjelaskan semuanya.
Sementara Granti percaya, tidak semua luka harus dijawab dengan penjelasan.
Suasana sempat memanas.
Argumen demi argumen saling bertabrakan.
Tetapi pada akhirnya—
mereka sama-sama paham.
Bahwa tujuan mereka bukan untuk memenangkan pendapat.
Melainkan untuk menyelamatkan seseorang...
yang mungkin sudah terlalu lama berjuang sendirian.
CHAPTER V
Kado Ulang Tahun untuk Laila
Perjalanan lebih dari delapan jam menggunakan mobil terasa begitu melelahkan bagi Granti dan Farhis.
Namun sepanjang perjalanan itu, keduanya hampir tak berhenti berbicara.
Tentang masa lalu.
Tentang pilihan.
Dan tentang seseorang yang sedang mereka cari.
Menjelang sore, mobil Pajero milik Granti akhirnya memasuki Kota Bukittinggi.
Jam menunjukkan hampir pukul lima sore.
Granti tidak langsung menuju rumah Laila.
Ia justru membawa Farhis ke tempat Laila bekerja.
“Aku rasa... lebih baik kita temui dia di sini dulu,” kata Granti.
Farhis mengangguk.
Sesampainya di depan kantor, Granti segera menghubungi Laila.
Beberapa dering, lalu panggilan tersambung.
“Bagaimana perjalanan kalian?” suara Laila terdengar dari seberang.
“Alhamdulillah, menyenangkan,” jawab Granti ringan.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Kamu makin cantik saja, La.”
Laila tertawa kecil.
“Alhamdulillah. Kata orang yang kemarin baru pulang dari Pekanbaru. Jalur satu masih sistem buka tutup, ya?”
Granti mengangguk, walau Laila tak bisa melihat.
“Iya. Tapi syukurlah lancar.”
Farhis hanya diam mendengarkan suara itu.
Suara yang sudah lama tak ia dengar.
Suara yang dulu terasa biasa...
tapi kini terasa asing.
“Masih banyak kerjaan, La? Jam segini masih di kantor?” tanya Granti.
“Iya, tapi sebenarnya sudah mau pulang.”
Laila terdengar heran.
“Kok kamu tahu aku masih di kantor?”
Granti tersenyum tipis.
“Aku melacak GPS ponselmu.”
“Pakai aplikasi lama yang dulu dibuat Rittel. Kusambungkan ke GPS mobil.”
Laila tertawa kecil.
“Ternyata masih aktif, ya.”
Tak lama kemudian, Granti memarkir mobil di depan gedung kantor.
Beberapa menit berselang, Laila keluar sambil membawa beberapa map dan berkas.
Farhis menatapnya dari kejauhan.
Tubuh Laila terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu.
Wajahnya masih sama.
Tapi sorot matanya berbeda.
Lebih lelah.
Lebih dingin.
Laila mendekat.
Namun anehnya, ia sama sekali tak menoleh pada Farhis.
Seolah keberadaan lelaki itu tak ada.
Farhis merasakan kecanggungan yang menyesakkan.
“Laila...”
Farhis akhirnya memberanikan diri membuka pembicaraan.
Laila berhenti.
Menoleh sebentar.
“Ya, Kak?”
Jawabannya pendek.
Dingin.
Jarak yang dulu tak pernah ada... kini terasa nyata.
Farhis menelan ludah.
“Kamu nggak sakit, kan? Kamu baik-baik saja?”
Laila tersenyum tipis.
Senyum yang sulit dibaca.
“Nggak apa-apa, Kak.”
Ia mengalihkan pandangan.
“Kita bicara di rumah saja.”
Lalu ia mengangkat berkas di tangannya.
“Masih ada beberapa tugas yang harus kuselesaikan. Tapi ini bisa dikerjakan di rumah.”
Farhis mengangguk pelan.
“Baiklah.”
Tanpa pikir panjang, Farhis segera membantu membawa berkas-berkas itu.
Tangannya sempat menyentuh jemari Laila.
Dan untuk sesaat—
Laila terdiam.
Begitu pula Farhis.
Sebuah keheningan singkat...
yang terasa seperti menghidupkan kembali seluruh masa lalu mereka.
Namun Laila segera menarik tangannya.
Dan berjalan lebih dulu.
Meninggalkan Farhis berdiri diam dengan dada yang tiba-tiba terasa berat.
Granti memperhatikan semuanya.
Dan dalam hati ia tahu—
perjalanan mereka baru saja dimulai.
Karena kadang...
yang paling sulit bukanlah menemukan seseorang yang hilang.
Tapi menghadapi seseorang yang ternyata masih menyimpan luka.
Setelah sampai di area parkir kantor, Laila mengeluarkan kunci kontak dan menghidupkan skuter matic miliknya.
Baru saja mesin menyala, tiba-tiba Farhis datang dan memegang setang motornya.
“Biar aku yang antar kamu.”
Laila terdiam.
Farhis perlahan melepaskan tangan Laila dari kendali motor.
Saat jemarinya menyentuh tangan Laila, Farhis langsung merasakan sesuatu yang aneh.
Dingin.
Terlalu dingin untuk suhu tubuh manusia normal.
Sekitar tiga puluh derajat.
Farhis menatapnya.
“Kamu sakit?”
Laila langsung menarik tangannya.
“Enggak.”
Jawabannya cepat.
Terlalu cepat.
Farhis tahu itu bohong.
“Kalau kamu bawa motor dalam keadaan begini, itu berbahaya.”
Laila mengalihkan pembicaraan.
“Ya kak... Granti mana?”
Farhis menunjuk ke arah mobil Pajero yang terparkir beberapa meter di belakang.
“Dia pakai mobil.”
Lalu Farhis menatap Laila lebih dalam.
“Atau... kamu maunya sama Granti saja? Mungkin itu lebih aman buatmu.”
Laila terdiam beberapa detik.
Entah kenapa kalimat itu terdengar lebih seperti luka daripada pertanyaan.
“Enggak, Kak.”
Laila menggeleng pelan.
“Kita naik motor saja. Aku biasanya mabuk kalau naik mobil.”
Farhis menarik napas.
“Baiklah.”
Ia naik ke motor itu.
“Kamu yang tunjukkan jalannya, ya La.”
Untuk pertama kalinya hari itu, Laila duduk di belakang Farhis.
Bukan sebagai kenangan.
Tapi sebagai kenyataan yang terasa begitu asing.
Motor melaju perlahan.
Di belakang mereka, mobil Granti mengikuti.
Langit Bukittinggi mulai gelap.
Udara dingin turun bersama angin sore.
Namun bagi Farhis, yang terasa justru suhu tubuh Laila yang tak biasa.
Sepanjang perjalanan, ia tak bisa berhenti memikirkan itu.
Sampai akhirnya mereka tiba di rumah Laila.
Rumah itu sederhana, rapi, dan sunyi.
Seperti mencerminkan pemiliknya.
Malam mulai turun.
Setelah menunaikan shalat, Farhis keluar dari kamarnya dan mendapati Laila sedang sibuk di dapur.
Tangannya cekatan menyiapkan makan malam.
Seolah tak terjadi apa-apa.
Farhis mendekat.
“Bagaimana kalau makan malam kita cari di luar saja, La?”
Laila tak menoleh.
“Hm.”
Hanya itu jawabannya.
Pendek.
Lalu kembali melanjutkan memasak.
Farhis memperhatikan.
Malam itu adalah ulang tahun Laila yang ke dua puluh delapan.
Dan diam-diam, Laila ingin membuat malam itu menjadi sesuatu yang berkesan.
Mungkin bukan untuk dirinya.
Tapi untuk Farhis...
dan Granti.
Laila kemudian menyerahkan beberapa piring kotor.
“Tolong cuci ini.”
Farhis terdiam sesaat.
Lalu tersenyum kecil.
“Baik.”
Ia tak ingin lagi memaksa pembicaraan.
Tak malam ini.
Sementara itu, Granti berada di kamar Laila.
Setelah selesai shalat dan membaca Al-Qur’an, ia kembali membuka buku catatan Laila.
Menerjemahkan halaman demi halaman.
Semakin jauh ia membaca, semakin berat dadanya.
Ada banyak luka yang selama ini tak pernah Laila tunjukkan.
Ada banyak air mata yang hanya hidup dalam tulisan.
Dan malam itu—
untuk pertama kalinya,
Granti menangis.
Bukan karena ia baru tahu isi hati sahabatnya.
Tapi karena akhirnya ia tahu...
betapa dalam Laila telah mencintai seseorang,
yang bahkan tak pernah benar-benar menyadarinya.
Pagi itu, udara Bukittinggi terasa lebih dingin dari biasanya.
Jam dinding baru menunjukkan pukul 04.20.
Biasanya, di jam seperti ini, Laila sudah berjalan menuju masjid untuk menunaikan shalat Subuh.
Namun pagi ini berbeda.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memilih tetap di rumah.
Di ruang tengah, Laila telah menyiapkan tiga sajadah berjajar rapi.
Satu untuk dirinya.
Satu untuk Granti.
Dan satu lagi...
untuk Farhis.
Seolah tanpa sadar, pagi itu ia ingin menghidupkan sesuatu yang selama ini hanya hidup dalam angan.
Granti terbangun lebih dulu.
Melihat Laila yang sudah siap dengan mukena putihnya, ia tersenyum kecil.
“Jarang-jarang nggak ke masjid.”
Laila tersenyum tipis.
“Pagi ini... di rumah saja.”
Granti mengerti.
Ia lalu berjalan ke ruang tamu dan melihat Farhis masih tertidur di sofa, selimut masih menutupi tubuhnya.
“Da... bangun.”
Farhis mengerutkan kening.
“Subuh.”
Farhis membuka mata perlahan.
Wajahnya terlihat lelah.
Begadang semalaman membaca catatan Laila dan memikirkan semuanya membuat tidurnya tak benar-benar nyenyak.
Ia duduk perlahan.
Beberapa detik kemudian mereka bertiga sudah berdiri di atas sajadah.
Farhis maju sebagai imam.
Laila berdiri di belakangnya.
Jarak hanya beberapa langkah.
Namun bagi Laila, itu terasa seperti jarak yang selama ini tak pernah bisa ia tempuh.
Subuh itu terasa lebih panjang.
Lebih khusyuk.
Dan lebih berat.
Seolah masing-masing membawa doa yang berbeda.
Setelah salam terakhir, mereka tak langsung beranjak.
Ketiganya mengambil mushaf Al-Qur’an.
Membaca dalam diam.
Suara ayat-ayat suci memenuhi ruang rumah yang sederhana itu.
Menenangkan.
Menghangatkan.
Seperti menambal sesuatu yang selama ini retak.
Setelah selesai, Laila berdiri.
Seperti kebiasaannya sejak dulu, ia menuju dapur dan menyiapkan teh hangat.
Minuman yang selalu ia buat setiap selesai Subuh sebelum sarapan.
Granti duduk di meja makan.
Farhis masih memperhatikan setiap gerak Laila.
Semua kebiasaannya terasa begitu sederhana.
Tapi justru itu yang membuatnya terasa istimewa.
Tak lama, ponsel BB Bold 9900 Laila berdering.
Nama di layar:
Imam
Laila mengangkat.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, Kak.”
Suara Imam terdengar hangat.
“Selamat ulang tahun ya, Kak.”
Laila tersenyum kecil.
“Makasih.”
“Semoga tahun ini Kakak diberi kebahagiaan yang selama ini dicari.”
Laila terdiam sesaat.
“Aamiin.”
Lalu dengan nada bercanda, Laila berkata,
“Kadonya mana?”
Imam tertawa.
“Nanti kalau pulang kampung.”
Laila ikut tertawa kecil.
Percakapan sederhana itu terdengar jelas.
Dan entah kenapa—
Farhis merasa kalimat itu seperti bukan hanya untuk Imam.
Seolah Laila sedang menagih sesuatu...
yang seharusnya datang darinya.
Sesuatu yang tak pernah ia berikan.
Sebuah pengakuan.
Atau mungkin...
sebuah kepastian.
Farhis terdiam.
Lalu berdiri perlahan.
Tanpa banyak bicara, ia berjalan menuju laptop Laila yang masih terbuka di ruang tengah.
Granti menatap heran.
“Apa yang Uda lakukan?”
Farhis menjawab pelan.
“Perlindungan.”
Sejak semalam, diam-diam Farhis telah memasang beberapa perangkat kecil di sekitar rumah.
Sistem pengawas.
CCTV mini.
Dan satu drone anti-maling yang terhubung langsung ke laptop Laila.
Ia mengaktifkan semuanya.
Layar monitor menampilkan beberapa sudut rumah.
Halaman depan.
Pagar.
Atap.
Sisi belakang.
Granti menatap.
“Kau masih sama.”
Farhis tak menjawab.
Matanya tetap fokus.
“Kalau Laila memang sedang diburu sesuatu...”
Ia berhenti.
“Setidaknya sekarang dia nggak sendirian.”
Di dapur, Laila menatap teh hangat yang mulai mengeluarkan uap.
Tanpa ia sadari—
untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
ada dua orang di rumahnya...
yang benar-benar sedang menjaganya.
Setelah memastikan seluruh sistem keamanan aktif, Farhis menyempurnakan jaringan yang ia buat semalaman.
Laptop Laila kini terhubung langsung dengan drone T-Savior, kamera CCTV di beberapa sudut rumah, dan ponsel pribadi Laila.
Semuanya saling terintegrasi.
Jika ada gangguan, pergerakan mencurigakan, atau akses paksa—
semuanya akan langsung terkirim ke perangkat utama.
Bukan hanya lebih aman.
Tapi jauh lebih kuat.
Farhis menatap layar sebentar.
“Sekarang setidaknya rumah ini punya mata.”
Tak lama setelah panggilan dengan Imam selesai, ponsel Laila bergetar.
Layar menampilkan notifikasi:
T-Savior: Silakan menuju lantai atas. Ada seseorang yang menunggu Anda.
Laila mengernyit.
“Apa lagi ini?”
Sebuah drone kecil berbentuk bulat melayang turun dari tangga.
Lampu birunya berkedip.
“Selamat pagi, Nona Laila. Mohon ikuti saya.”
Granti tertawa kecil melihat ekspresi bingung sahabatnya.
“Naik saja.”
Laila mengikuti drone itu ke lantai atas.
Di sana, Farhis sudah berdiri di depan meja kerja dengan laptop terbuka.
Drone itu berhenti di sampingnya.
Farhis tersenyum kecil.
“Perkenalkan.”
Ia menunjuk drone itu.
“T-Savior.”
Laila mengangkat alis.
“Apa itu?”
“Robot drone buatanku.”
Farhis menyentuh panel kecil di badannya.
“Dirancang khusus untuk mengusir kegalauan.”
Laila tertawa kecil.
“Serius?”
Farhis mengangguk.
“Memori dua ratus ribu kosakata. Respon sekitar dua puluh milidetik.”
Farhis memberi perintah.
“T-Savior.”
Lampu drone menyala.
“Ya, Tuan.”
Farhis tersenyum.
“Beri salam.”
Drone itu berputar kecil menghadap Laila.
“Assalamualaikum, Nona Laila.”
Laila tersenyum.
“Waalaikumsalam.”
Farhis lalu berkata,
“Sekarang... ucapkan selamat ulang tahun.”
Drone itu menjawab cepat.
“Selamat ulang tahun, Nona Laila Fauzania. Semoga kebahagiaan selalu menyertai Anda.”
Laila terdiam.
Matanya melembut.
Farhis lalu menunjukkan layar ponsel.
“Semua ini bisa dikendalikan dari sini.”
Laila melihat tampilan CCTV, sensor gerak, dan navigasi drone yang semuanya tersambung.
“Kakak bikin ini semalam?”
Farhis mengangguk.
“Biar rumahmu lebih aman.”
Laila memandang Farhis beberapa detik.
Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan.
Tapi tak jadi.
Farhis kemudian bersandar.
Menatap Laila.
“Kalau ada seseorang yang ingin menikahimu... bagaimana?”
Laila tertawa kecil.
“Siapa yang mau sama aku?”
Farhis menggeleng.
“Jangan bercanda.”
Laila menatapnya.
Farhis berkata pelan,
“Kamu perempuan tercantik yang pernah aku kenal.”
Kalimat itu membuat Laila terdiam.
Matanya sedikit menghindar.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Kalau memang berjodoh... tentu akan aku terima.”
Farhis menatapnya lebih dalam.
“Jodoh seperti apa yang kamu inginkan?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Dan untuk sesaat—
Laila merasa,
mungkin pagi itu...
takdir sedang mulai mengetuk pintunya.
Laila terdiam cukup lama setelah mendengar pertanyaan Farhis.
Angin pagi dari jendela lantai atas berhembus pelan.
Matanya memandang jauh ke arah pegunungan yang berdiri kokoh di kejauhan.
Lalu ia berkata pelan,
“Dulu... Pak Datuak pernah menjelaskan tiga tipe jodoh.”
Farhis mendengarkan.
Laila berhenti sejenak.
Dan suaranya menjadi lebih lembut.
“Aku ingin tipe ketiga.”
Farhis menatapnya.
Laila tersenyum tipis.
Farhis terdiam.
Laila melanjutkan,
“Kalau soal poligami... bagiku itu tanggung jawab yang berat.”
Ia menatap langit.
“Harus adil.”
“Harus punya rasa kasihan pada istri yang lain.”
“Dan harus rela berbagi.”
Ia tersenyum pahit.
“Aku nggak tahu apakah aku mampu.”
Farhis hanya diam.
Laila lalu berkata lagi,
“Dan perceraian...”
Ia menarik napas.
“Itu hal yang paling dibenci Allah.”
Kalimat itu membuat dada Farhis terasa sesak.
Karena untuk pertama kalinya—
ia merasa sedang berbicara dengan perempuan yang memandang pernikahan bukan sekadar cinta.
Tapi amanah.
Farhis menggenggam pagar balkon erat.
Lalu akhirnya berkata,
“Kalau begitu... sebenarnya aku ingin menikahimu.”
Laila membeku.
Matanya membesar.
“Apa?”
Farhis menatap lurus.
“Aku ingin menikahimu, La.”
“Tapi... aku bingung.”
Laila menatapnya dengan napas tak teratur.
Bingung.
Terkejut.
Tak siap.
Ia mundur perlahan.
Lalu berjalan ke sisi lain lantai dua.
Duduk di kursi kayu dekat jendela.
Memandang pegunungan.
Diam.
Farhis mendekat perlahan.
“Aku tahu semuanya.”
Laila tak menoleh.
Farhis melanjutkan.
“Granti yang cerita.”
Laila menunduk.
“Aku juga tahu... dari buku catatanmu.”
Tangannya menggenggam erat ujung kursi.
“Dan dari Imam.”
Farhis menarik napas panjang.
“Dulu... waktu aku lihat akun sosial mediamu.”
“Ada status kalau kamu sudah menikah.”
Laila memejamkan mata.
“Aku hancur saat itu.”
Farhis tertawa pahit.
“Aku pikir... aku benar-benar kehilanganmu.”
Laila tetap diam.
Farhis melanjutkan dengan suara berat.
“Setelah aku baca semua catatanmu... setelah dengar semuanya...”
Ia menunduk.
“Aku sadar.”
“Aku yang salah.”
Sunyi.
Hanya suara angin.
Farhis akhirnya berkata pelan,
“Maafkan aku, La.”
Laila menutup matanya.
Air mata mulai jatuh.
Tapi suaranya tetap tegas.
“Aku nggak mau kejadian masa lalu terulang lagi.”
Farhis menatapnya.
Laila akhirnya menoleh.
Tatapannya penuh luka.
“Aku nggak mau berharap lagi... lalu kehilangan lagi.”
Kalimat itu menghantam Farhis.
Tapi kali ini—
ia tak mundur.
Ia melangkah mendekat.
Dan berkata dengan suara yang tak lagi ragu.
“Kalau kali ini aku datang...”
Ia menatap mata Laila.
“Aku datang untuk tinggal.”
Farhis menggenggam tangan Laila perlahan.
“Aku ingin bersamamu selamanya.”
Laila menarik tangannya perlahan dari genggaman Farhis.
Air matanya belum berhenti.
Namun kali ini bukan karena pengakuan Farhis.
Melainkan karena ada sesuatu yang selama ini ia kubur terlalu dalam.
Sesuatu yang belum pernah ia ceritakan pada siapa pun.
“Kalau Kakak benar-benar ingin tahu kenapa aku seperti ini...”
Laila menatap jauh ke pegunungan.
“Dengarkan baik-baik.”
Farhis diam.
Laila menatap kosong ke depan.
“Lebih dari dua puluh delapan tahun lalu… ada seorang laki-laki bernama Amal.”
“Ia mencintai ibuku, Rona.”
“Dan ibuku… juga mencintainya.”
“Tapi keluarga ibu tidak pernah setuju.”
“Karena Amal bukan siapa-siapa. Tidak punya harta. Tidak punya masa depan.”
Laila menarik napas.
“Lalu mereka tetap bersama.”
“Dan dari hubungan itu… lahirlah kami bertiga.”
“Aku… Imam… dan Arqam.”
Farhis terdiam.
“Tapi cinta yang dipaksakan oleh keadaan… tidak selalu tumbuh menjadi kebahagiaan.”
“Amal masih terlalu muda.”
“Begitu juga ibuku.”
“Mereka bahkan belum mengerti bagaimana menjadi orang tua.”
Laila menunduk.
“Yang ada hanya pertengkaran.”
“Amarah.”
“Dan pukulan.”
Farhis mengepalkan tangan.
“Amal sering melampiaskan semuanya pada ibu.”
“Dan kadang… pada kami.”
Suaranya mulai melemah.
“Waktu aku kecil, aku pernah sakit parah.”
“Tubuhku lemah… hampir tidak bisa bergerak.”
“Ibuku pikir aku akan mati.”
Laila tersenyum tipis.
“Dan saat itu… ibu seperti kehilangan akal sehatnya.”
Sunyi.
“Tak lama setelah itu… Amal pergi.”
“Entah diusir… atau memang memilih pergi.”
“Yang jelas…”
“Dia meninggalkan kami.”
Angin berembus pelan.
“Ibu yang tidak sanggup membesarkan kami… menitipkan kami pada kakek dan nenek.”
“Mereka yang merawat kami.”
“Mereka yang mengajarkan kami bertahan.”
Laila menggigit bibirnya.
“Tapi kebahagiaan itu sebentar.”
“Satu per satu… mereka meninggal.”
Farhis menatap Laila dengan mata berat.
“Dan sejak saat itu…”
“Kami hidup sendiri.”
Farhis tak mampu berkata apa-apa.
“Beberapa tahun kemudian...”
“Amal kembali.”
Laila menggertakkan rahangnya.
“Dan bukannya menyesal...”
“Dia memaksaku mengamen di Bukittinggi.”
Farhis mengepalkan tangan.
“Dia mengambil semua uangnya?”
Laila mengangguk.
“Semua.”
Lalu ia melanjutkan,
“Setelah itu... Amal menggunakan ilmu pelet.”
Farhis mengernyit.
“Untuk menikahi seorang janda kaya bernama Eli.”
“Dan setelah orang tua Eli meninggal...”
“Amal mendadak jadi orang kaya.”
Laila tertawa lagi.
“Cepat sekali, ya?”
Namun tawanya kosong.
Farhis merasakan kemarahan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Laila menatap lurus.
“Dan tahu apa yang dia lakukan setelah kaya?”
Farhis diam.
“Dia menghancurkan rumah tempat kami tinggal.”
Rumah kecil.
Satu-satunya tempat yang menyimpan kenangan Rona.
Satu-satunya tempat yang tersisa.
Farhis tak bisa bicara.
Kini ia mengerti.
Kenapa Laila begitu takut kehilangan.
Kenapa ia selalu bekerja keras.
Kenapa ia tak pernah meminta apa pun.
Dan kenapa cinta baginya bukan permainan.
Laila menatap Farhis dengan mata merah.
“Jadi...”
Suaranya pelan.
“Kalau Kakak bilang ingin bersamaku selamanya...”
Ia tersenyum pahit.
“Pikirkan baik-baik.”
“Aku bukan perempuan yang lahir dari kisah yang indah.”
Farhis mendekat.
Tatapannya tak goyah.
Lalu ia berkata pelan,
“Justru karena itu...”
Ia menggenggam tangan Laila lagi.
“Aku ingin jadi akhir yang indah dari semua lukamu.”
Berikut versi yang lebih rapi, emosional, dan lebih natural alurnya, tanpa mengubah inti cerita:
---
“…rumah baru itu besar, mewah, dan bertingkat. Amal membawa ketiga anaknya tinggal di sana.”
Laila Fauzania terdiam setelah penjelasan panjang itu. Bibirnya bergetar, seakan ingin menangis, tetapi air matanya tertahan oleh terlalu banyak luka yang telah ia simpan bertahun-tahun.
Farhis menarik tubuh Laila ke dalam pelukannya.
Saat itulah air mata Laila akhirnya jatuh.
Setetes.
Dua tetes.
Membasahi bahu dan punggung Farhis.
Namun air mata itu bukan air mata biasa.
Cairan asam itu perlahan membakar kain baju Farhis, menembus kulit, melukai dagingnya hingga darah mulai merembes.
Farhis tetap diam.
Tetap memeluknya erat.
Seolah rasa sakit itu tak sebanding dengan luka yang selama ini dipendam Laila.
“Bagaimana perlakuan Bu Eli pada kalian?” tanya Farhis pelan, masih ingin tahu akhir dari kisah itu.
Laila terisak.
“Seperti pembantu... bukan anak.”
Tangisnya pecah lagi.
Farhis mengusap rambutnya perlahan.
“Menangislah, Laila. Tidak ada manusia yang sanggup menahan semuanya sendirian. Bahkan orang terkuat pun pernah hancur dan menangis.”
Laila menjauh sedikit, menatap luka di bahu Farhis.
“Tapi Kakak terluka karena air mataku...”
Farhis tersenyum kecil.
“Kamu tahu aku, kan?”
Ia mengangkat tangannya, lalu menyeka sisa air mata di pipi Laila dengan ujung jarinya.
Beberapa detik kemudian kulit jarinya mulai melepuh dan robek.
Darah mengalir.
Namun perlahan, luka itu menutup sendiri.
Pulih seperti semula.
“Itulah kenapa Granti bilang... satu-satunya orang yang bisa hidup bersamamu... mungkin cuma aku.”
Laila menatapnya dalam diam.
“Sekarang... lanjutkan.”
Laila menarik napas panjang.
“Aku kembali mengamen di Bukittinggi. Aku harus mencari biaya sekolah untukku dan Imam.”
“Kadang aku pulang sangat malam.”
“Dan setiap kali itu terjadi... Eli selalu marah.”
Suaranya melemah.
“Dia memukulku.”
Laila membuka bagian belakang bajunya.
Farhis membeku.
Di sana, puluhan bekas luka sayatan panjang memenuhi punggung Laila.
Bekas luka dalam.
Seolah dagingnya pernah diiris tanpa ampun.
Luka-luka yang jika dulu dibawa ke rumah sakit mungkin membutuhkan puluhan jahitan.
Tanpa berpikir panjang, Farhis menggigit ujung jarinya sendiri.
Darah segar menetes.
“Pejamkan matamu kalau kamu tak sanggup melihat darah, maaf... ini mungkin sedikit sakit.”
Farhis mengoleskan darahnya ke bekas luka itu.
Laila menahan napas.
Perlahan...
bekas-bekas luka itu mulai memudar.
Menutup.
Menghilang.
Seakan tak pernah ada.
Air mata kembali jatuh dari mata Laila.
“Apakah dia masih pantas dipanggil ibu, Kak?”
Farhis terdiam sejenak.
“Laila... bersabarlah.”
Ia menatap punggung yang kini kembali bersih.
Bukan hanya ingin menyembuhkan tubuhnya—
tetapi juga ingin menghapus sebagian luka masa lalunya.
Laila merapikan bajunya kembali.
“Aku tak lebih dari anak haram... Aku malu dengan diriku sendiri.”
Farhis menatapnya tegas.
“Tidak.”
“Manusia lahir ke dunia dalam keadaan suci.”
“Kamu tidak berdosa karena bagaimana kamu dilahirkan.”
Laila menunduk.
“Aku malu menceritakan semua ini.”
“Kalau ini rahasia bagimu... maka rahasia itu akan tetap bersamaku.”
Farhis menggenggam tangannya.
“Dan aku serius... aku ingin menikahimu.”
Laila tersenyum pahit.
“Kakak sudah menemukan orang baik.”
“Bahkan Kakak sudah punya putri yang cantik.”
“Biarkan Laila seperti ini.”
“Laila bahagia... kalau Kakak bahagia.”
“Seperti waktu di Ngarai... Kakak dan Granti sudah sama-sama bahagia.”
Farhis menggeleng pelan.
“Aku cuma ingin melihat kamu tersenyum... di depanku, atau bahkan di belakangku.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Laila benar-benar tersenyum.
Ia bangkit dari duduknya.
“Ayo turun, Kak.”
“Granti pasti sudah menunggu.”
Saat mereka turun ke bawah, Lousiyana Granti Azzhura menatap mereka dengan tangan bersedekap.
“Kirain lagi siap-siap. Ternyata dari tadi berduaan di atas. Habis ngapain?”
Farhis tersenyum tipis.
“Cuma ngobrol.”
Granti menyipitkan mata.
Tatapannya jatuh pada bercak darah yang masih segar di baju Laila.
Sebagai dokter, ia mengenali bau darah itu dalam sekejap.
Namun ia memilih diam.
“Sudahlah. Ayo siap-siap.”
“Hari ini kita liburan dulu.”
“Baik,” jawab Laila.
Ia masuk ke kamar, mengganti bajunya, lalu mengenakan jilbab baru yang tadi diberikan Granti.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
dadanya terasa sedikit lebih ringan.
---
CHAPTER VII
Rahasia di Atas Rahasia (Part 2)
Farhis kembali mengaktifkan T-Savior melalui smartphone milik Laila Fauzania. Ia sempat sibuk mengambil beberapa foto selfie dan merekam video singkat, membuat Laila hanya menggeleng sambil tersenyum kecil.
“Yuk, berangkat,” panggil Lousiyana Granti Azzhura.
Farhis dan Granti menunggu di ruang depan sampai akhirnya pintu kamar terbuka.
Laila keluar.
Mengenakan jilbab baru pemberian Granti.
Sederhana.
Tapi sangat anggun.
Granti langsung memutar kepala Farhis ke arah Laila.
“Subhanallah... cantiknya calon istriku.”
Farhis tersenyum lebar.
Granti buru-buru menutup mata Farhis dengan tangannya.
“Belum muhrim. Jangan lihat lama-lama.”
Laila tersipu.
Mereka pun berangkat menuju Danau Maninjau.
Pukul sepuluh pagi, udara di Maninjau masih terasa dingin. Matahari masih tertutup awan tebal, membuat suasana terasa teduh dan damai.
Hari itu, untuk sesaat, mereka bertiga seperti melupakan seluruh beban hidup.
Granti sibuk mengabadikan pemandangan dengan kamera DSLR-nya.
Sementara Farhis dan Laila duduk berdua di tepi pagar pembatas.
Farhis memandang danau yang tenang.
“Laila... apa kamu benar-benar mengenalku?”
Laila mengernyit.
“Tentu saja.”
Farhis menoleh.
“Kalau begitu... ceritakan aku.”
Laila terdiam.
“Untuk apa? Bukankah masa lalu lebih baik dilupakan?”
“Aku cuma ingin tahu... bagaimana aku hidup di ingatanmu.”
Laila menarik napas panjang.
“Baiklah.”
Ia menatap jauh.
“Muhammad Farhis Zarfan. Lahir pada sebelas September. Anak dari Hamidah... dan Bagindo.”
Farhis diam.
“Farhis adalah keturunan terakhir Palasik... darah monster pemakan darah manusia dari garis ayahnya.”
Laila menunduk.
“Sejak kecil orang-orang menjauhimu. Mereka bilang kau monster yang membunuh ibumu saat dilahirkan.”
Laila ragu.
“Maaf... apa itu benar?”
Farhis tersenyum pahit.
“Itu benar.”
Ia menatap Laila.
“Kamu tidak takut?”
Laila menggeleng.
“Tidak.”
“Bagiku... Kak Farhis adalah monster yang punya hati.”
Ia tersenyum tipis.
“Aku lebih takut pada manusia yang berhati monster.”
Farhis terdiam cukup lama.
Untuk pertama kalinya, seseorang menerima dirinya tanpa takut.
“Lanjutkan.”
Laila melanjutkan.
“Farhis pernah jatuh hati pada seseorang yang sejak kecil tumbuh bersamanya.”
Farhis tertawa kecil.
“Lanjut.”
“Tapi Farhis patah hati saat Granti memilih orang lain.”
“Farhis merasa janji di peristiwa Ngarai telah dikhianati.”
Laila menatapnya sebentar.
“Lalu rumahnya diserang Bujur Sangkar Putih. Ayahnya dibunuh.”
Farhis mengepalkan tangan.
“Tapi Farhis tidak pernah dendam.”
“Dan itu membuktikan... Farhis bukan monster seperti yang dikatakan orang.”
Farhis menunduk.
Laila melanjutkan dengan suara lirih.
“Kesedihan demi kesedihan membuat Farhis kehilangan arah.”
“Bahkan kuliahnya sempat terbengkalai.”
“Tapi seseorang... sahabat Granti... selalu membantunya bangkit.”
Farhis mulai memahami ke mana arah cerita itu.
“Farhis akhirnya kembali menyelesaikan S1 Teknik Robotika.”
“Dan di hari wisudanya...”
Laila berhenti.
Farhis menatapnya.
“Wanita yang kelak menjadi istrinya... datang lebih dulu daripada seseorang yang diam-diam selalu berharap padanya.”
Sunyi.
Angin Maninjau berembus pelan.
Air mata Farhis jatuh.
Laila tersentak.
“Maaf... kalau itu membuat Kakak mengingat semuanya.”
Farhis menghapus air matanya.
“Tidak...”
“Kadang kita butuh orang lain untuk mengingatkan siapa diri kita.”
Tiba-tiba Granti datang sambil mengangkat kameranya.
“Cheers!”
Klik.
Foto itu menangkap momen Farhis yang masih bermata basah dan Laila yang menatapnya penuh iba.
Setelah dari Danau Maninjau, mereka melanjutkan perjalanan ke Puncak Lawang.
Mereka mencoba paralayang.
Bermain outbound.
Dan saling menembak dengan airsoft gun.
Seharian penuh.
Berusaha mengembalikan tawa yang tadi sempat runtuh oleh masa lalu.
Menjelang sore, Granti mengajak mereka makan bakso di sebuah kedai kecil.
Saat itulah seorang pengamen cilik masuk.
Bajunya lusuh.
Wajahnya lelah.
Laila memandang anak itu cukup lama.
Seolah melihat dirinya sendiri di masa lalu.
Ia meminjam gitar kecil itu.
Lalu mulai memainkan lagu.
Petikan gitarnya halus.
Suaranya lembut.
Seluruh kedai mendadak sunyi mendengarkan.
Setelah selesai, Laila menyerahkan gitar itu kembali.
“Nak, kumpulkan uang sawerannya.”
Anak kecil itu tersenyum bahagia.
Farhis dan Granti sama-sama mengeluarkan selembar uang seratus ribu.
Laila menepuk kepala anak itu.
“Walaupun kamu mengamen... tetap sekolah setinggi mungkin, ya.”
Anak itu mengangguk cepat.
“Iya, Kak.”
Laila tersenyum.
Namun di matanya...
ada luka lama yang belum benar-benar sembuh.
Karena ia tahu persis rasanya menjadi anak kecil yang harus bertahan hidup terlalu cepat.
---
CHAPTER VIII
Perpisahan sebagai Awal
Setelah liburan yang hangat dan penuh tawa itu, akhirnya tiba waktunya kembali ke kehidupan masing-masing.
Lousiyana Granti Azzhura mengantar Laila Fauzania pulang ke rumahnya di Lubuk Basung.
Hari mulai sore.
Langit mulai menguning.
Seakan ikut mengantar perpisahan yang tak ingin cepat selesai.
Di depan rumah sederhana itu, Farhis dan Granti bersiap berpamitan.
Farhis akan kembali ke Amerika.
Dan Granti kembali ke Pekanbaru untuk melanjutkan tugasnya.
“Hati-hati bawa mobilnya, Ti,” kata Farhis sambil memeluk Granti erat.
Pelukan itu bukan sekadar pertemanan.
Itu pelukan dua orang yang sudah melewati terlalu banyak luka bersama.
Granti tersenyum.
“Sip. Dan kamu...” Granti menoleh pada Laila.
“Cepat cari orang yang bisa jagain kamu, La.”
Laila tersenyum kecil.
Tapi senyumnya terasa rapuh.
Farhis mendekat.
Memegang kedua bahu Laila.
Menatap matanya lurus.
“Jaga diri.”
“Jaga kesehatan.”
“Jangan terlalu banyak pikiran.”
“Jangan terlalu sering sedih.”
Ia berhenti sebentar.
Lalu tersenyum.
“Karena bagiku... kamu adalah orang terkuat yang pernah kutemui.”
Laila membeku.
Seperti ada banyak kata yang ingin keluar—
tetapi semuanya tertahan di tenggorokan.
Ia hanya bisa menatap Farhis.
Lama.
Sampai akhirnya bibirnya bergerak pelan.
“Iya, Kak... hati-hati di jalan.”
Laila mengantar mereka sampai ke mobil milik Granti.
Mobil itu perlahan bergerak meninggalkan halaman.
Dan untuk beberapa saat...
Laila tetap berdiri di sana.
Menatap sampai mobil itu benar-benar hilang dari pandangan.
Seperti menatap sesuatu yang belum tentu kembali.
---
Lanjutan ini sangat kuat karena bukan cuma membahas cinta, tapi juga takdir, pilihan, dan makna janji lama. Saya rapikan supaya dialognya lebih alami, filosofinya lebih tajam, dan emosinya lebih mengalir:
---
Di tengah perjalanan menuju Kota Padang, suasana di dalam mobil cukup hening.
Farhis masih memikirkan kalimat yang diucapkan Laila Fauzania tadi.
“Dulu Pak Datuak pernah cerita soal jodoh tipe ketiga...”
Lousiyana Granti Azzhura menoleh sekilas sambil menyetir.
“Memangnya Da Far belum tahu?”
Farhis menggeleng.
“Belum. Baru dengar kemarin dari Laila.”
“Kenapa nggak tanya langsung?”
Farhis tersenyum kecil.
“Lupa.”
Granti tertawa pelan.
“Baiklah, Buk Ustadzah jelaskan.”
Farhis menghela napas.
Granti mulai bicara.
“Jodoh itu ada tiga macam.”
“Yang pertama...”
“Kalau Da Far mencintai Anna, lalu melakukan maksiat dengannya sampai akhirnya harus menikahinya... itu namanya jodoh dari setan.”
Farhis mengangguk.
“Yang kedua...”
“Kalau Da Far mencintai Anna, lalu mendatangi pondok perdukunan kaum Parewa, menggunakan guna-guna supaya Anna mau menikah dengan Da Far... itu namanya jodoh dari jin.”
Farhis tertawa kecil.
“Makasih, Buk Ustadzah. Tausiyahnya mantap. Sekarang aku paham.”
Granti tersenyum tipis.
“Dan yang terakhir...”
“Kalau Da Far mencintai Anna, lalu saat kalian saling memandang, kalian merasakan hal yang sama...”
“Lalu Da Far datang dengan niat baik, bertemu keluarga, melakukan ta’aruf, mendekatkan hati dengan cara yang halal, berdoa... lalu Allah merestui sampai ke pelaminan...”
Granti menatap jalan di depannya.
“Itulah yang disebut jodoh dari Allah.”
Mobil kembali sunyi beberapa saat.
Farhis menatap keluar jendela.
“Terus...”
“Apakah salah kalau aku membuka hati untuk Laila, sementara aku sudah punya Anna?”
Granti menghela napas panjang.
“Tapi bukankah Da Far sudah memilih Anna?”
“Perasaan Anna pasti terluka kalau Da Far menikah lagi.”
Farhis memejamkan mata.
“Andai dulu aku tahu semua luka yang Laila simpan…”
Granti tersenyum kecil.
“Apa yang terjadi dalam hidup itu adalah kiriman terbaik dari Allah.”
“Kalau setelah itu ada sesuatu yang lebih baik datang menghampiri...”
“Itu bukan hadiah.”
“Itu ujian tanggung jawab Da Far atas apa yang sudah terjadi.”
“Pertanda Da Far sudah cukup kuat untuk diuji lebih besar.”
Farhis terdiam.
“Laila tahu semuanya.”
“Asal-usulku.”
“Darah Palasikku.”
“Dan dia tidak takut.”
“Dia juga berani membuka rahasia dirinya sendiri.”
Farhis menunduk.
“Aku memang menyayangi Anna...”
“Tapi Laila...aku kasihan pada Laila.”
Granti langsung memotong.
“Kasihan itu bukan cinta.”
“Hanya beda setipis rambut.”
“Tapi tetap berbeda.”
Farhis diam.
Granti melanjutkan.
“Hidup itu aneh.”
“Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi setahun lagi.”
“Sebulan lagi.”
“Besok.”
“Atau bahkan satu detik lagi.”
“Itu semua rahasia Tuhan.”
“Yang bisa kita lakukan cuma bersyukur... dan membahagiakan orang-orang yang masih ada di sekitar kita.”
Farhis menatap Granti.
Wajahnya terlihat buram.
Penuh pikiran.
Granti perlahan menghentikan mobil di tepi jalan.
Lalu mengangkat jari kelingkingnya.
“Da Far masih ingat ini?”
Farhis membeku.
Seketika memorinya kembali ke dua puluh tahun lalu.
Peristiwa Ngarai Sianok.
Saat seorang anak kecil bernama Lou menunjukkan jari kelingkingnya.
“Itu janji kita.”
“Kalau yang satu terluka, yang lain melindungi.”
“Kalau yang satu bahagia... yang lain juga harus bahagia.”
Farhis tersenyum kecil.
Lalu mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Granti.
“Aku ingat.”
Granti tersenyum.
“Da Far nggak perlu khawatir soal Laila.”
“Aku lihat dia sudah mulai kembali ceria sejak kita datang lagi.”
Farhis mengangguk pelan.
“Aku dulu pikir Laila adalah orang paling beruntung... karena masih punya orang tua.”
“Ternyata kita semua di GMX cuma sekumpulan survivor.”
Granti tersenyum pahit.
“Bayangan Putih juga sama.”
“Mungkin Ketua GMX juga begitu.”
“Mungkin itulah kenapa kita semua bisa dekat.”
“Bukan karena darah.”
“Tapi karena luka yang mirip.”
Farhis memandang jalan panjang di depan.
“Kamu benar, Lou.”
“Mungkin… misi ini mulai menemukan jalannya.”
Granti mengernyit.
“Maksudnya?”
“Misi Ngarai Sianok.”
Farhis tersenyum tipis.
“Itu hampir tercapai.”
“Kamu sudah menemukan pelindungmu.”
“Aku juga sebentar lagi menemukan pelindungku.”
Farhis menatap Granti.
“Aku bahagia.”
“Tapi... apakah kamu sudah bahagia, Iou?”
Granti terdiam cukup lama.
Lalu membuka sebuah kotak kecil berwarna hijau.
Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah penjepit rambut bergambar kepala kelinci.
Farhis langsung mengenalinya.
“Itu... punya Lou Granti kecil.”
Granti mengangguk.
“Aku ingin memberikannya pada putrimu.”
“Kalau suatu hari nanti penjepit ini dipakai anakmu...”
Granti tersenyum.
“Aku akan percaya... bahwa Misi Ngarai Sianok benar-benar berhasil.”
Farhis memegang penjepit rambut itu dengan hati-hati.
Seolah memegang seluruh masa kecil mereka.
Granti kembali menyalakan mesin mobil.
Melanjutkan perjalanan menuju Bandara Internasional Minangkabau.
Sebelum kembali ke Amerika, Farhis harus transit lebih dulu ke Jakarta.
Lalu esoknya terbang jauh.
Meninggalkan tanah yang menyimpan terlalu banyak luka...
dan terlalu banyak janji yang belum selesai.
==========





Komentar
Posting Komentar