Romantic Gemmanallarexa
Bagian II
"Granti, ayo naik ke mobil. Kita harus segera berangkat!" seru Tante Rosa.
"Iya, Wa. Sebentar lagi selesai," jawab Granti sambil bergegas membereskan barang-barangnya.
Di saat yang sama, jauh di Bukittinggi, sebuah percakapan serius terjadi melalui sambungan telepon.
"Nana ingin menikah, Pa," ujar suara di seberang.
"Waduh, anak gadis Papa. Tidak terasa kamu sudah menjadi dokter yang dewasa," jawab sang ayah dengan nada haru.
"Pa, doakan saja Nana bisa melupakan Farhis."
Kalimat itu membuat suasana hening sejenak.
"Nana, Papa tahu kamu sangat mencintainya. Tapi hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita."
Lunar Zenetity menundukkan kepala. Meski tak terlihat oleh ayahnya, air matanya hampir jatuh.
"Aku tidak ingin kehilangan Farhis lagi, Pa. Dia adalah pangeran dalam fantasi yang pernah aku impikan."
"Nana sekarang berada di Bukittinggi bersama nenekmu. Cobalah menenangkan diri dulu. Papa ingin kamu memprioritaskan masa depanmu."
Telepon pun berakhir.
Tak lama kemudian, nenek menghampiri cucunya yang masih termenung.
"Mudah-mudahan Papa dan Mamamu bisa menemukan jalan terbaik untuk perasaanmu itu."
Lunar hanya tersenyum tipis.
Sementara itu, Farhis sedang menghadapi pergulatan batin yang tidak kalah berat.
"Aku benar-benar tidak mengerti harus bagaimana lagi, Dep," keluhnya kepada Adep, sahabat yang sejak tadi menemaninya.
"Kalau memang serius, bicaralah baik-baik dengan mamaknya. Jangan terus menghindar."
Farhis menghela napas panjang.
"Sebelum semuanya terlambat, aku harus menemui Lunar Zenetity."
Adep mengangguk.
"Kalau itu yang kau yakini, aku akan membantumu."
Mereka pun berangkat dengan sepeda motor menuju tempat yang mereka tuju.
Sesampainya di rumah nenek, Granti, Dante, dan beberapa kerabat telah lebih dahulu berkumpul. Suasana rumah yang biasanya tenang mendadak ramai oleh suara tamu yang datang silih berganti.
"Nek, siapa yang datang?" tanya Lunar sambil melongok ke luar jendela.
"Nazar dan keluarganya."
Belum sempat Lunar berkata apa-apa, suara salam terdengar dari depan rumah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Pertemuan itu berlangsung hangat. Namun hati Lunar tetap gelisah. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tetapi belum menemukan keberanian untuk mengungkapkannya.
Setelah salat berjamaah, ia memberanikan diri menemui kakaknya.
"Kak, aku ingin bicara."
Mereka berjalan menuju tempat yang lebih sepi.
"Nana, ada apa?"
Lunar menarik napas dalam-dalam.
"Aku sudah berusaha melupakan Farhis. Sungguh. Tapi semakin aku mencoba menjauh, semakin aku sadar bahwa perasaanku belum berubah."
Kakaknya menatapnya penuh pengertian.
"Perasaan memang tidak bisa dipaksa hilang begitu saja."
Lunar menunduk.
"Aku hanya ingin hidup yang tenang. Tapi setiap kali mengingatnya, aku merasa semua kenangan itu kembali."
Di sisi lain, Farhis akhirnya memberanikan diri menemui ibunya.
"Mak, aku ingin meminta restu."
Sang ibu terdiam.
"Untuk siapa?"
"Untuk Nana."
Wajah wanita itu berubah.
"Kau tahu jalan ini tidak akan mudah."
"Aku tahu, Mak. Tapi aku tidak ingin menyesal seumur hidup karena menyerah sebelum berjuang."
Perkataan itu membuat ibunya terdiam cukup lama.
Akhirnya, wanita itu menghela napas.
"Kalau memang itu pilihanmu, buktikan bahwa kau mampu membahagiakannya."
Mata Farhis berbinar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia melihat secercah harapan.
Dan tanpa mereka sadari, takdir perlahan sedang mempertemukan kembali dua hati yang selama ini berusaha saling melupakan.
Komentar
Posting Komentar