Keruntuhan LUST


---


Ruangan itu tidak benar-benar gelap, tapi terasa seperti ditelan sesuatu yang tidak punya bentuk. Udara menjadi berat, seolah setiap tarikan napas membawa pikiran orang lain masuk ke dalam kepala.


Di sudut kesadaran Rittel, sesuatu mulai retak.


Bukan suara keras.


Tapi bisikan.


Pelan… licin… dan sangat dekat.


> “Tidak ada yang melihat…”

“Tidak ada yang perlu ditahan…”




Bayangan itu tidak punya wajah. Tapi ia tahu tepat di mana kelemahan manusia tinggal.


Rittel menunduk sedikit. Tangannya sempat mengepal, lalu melemah.


Bukan karena dia ingin jatuh.


Tapi karena pikirannya mulai kehilangan arah.


Di depan sana, Granti berdiri diam.


Tidak bergerak agresif. Tidak berteriak. Tidak memaksa keadaan.


Hanya diam.


Tapi diamnya terasa berbeda.


Seperti ruang yang tidak bisa disentuh oleh kebohongan.


Bisikan itu kembali, kali ini lebih tajam.


> “Dekatkan diri… tidak apa-apa…”

“Ini hanya keinginan…”




Rittel menghela napas pendek. Matanya sedikit goyah, seolah ada dua dunia yang saling tarik-menarik di dalam dirinya.


Namun Granti tidak memotong.


Tidak menegur dengan keras.


Ia hanya mengangkat pandangan sedikit.


Tenang.


Dan di dalam ketenangan itu, ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh LUST.


Bukan perlawanan.


Bukan penolakan panik.


Tapi kejernihan yang tidak bisa dipelintir.


Bisikan itu mulai berubah nada.


Tidak lagi menggoda.


Mulai memaksa.


Mulai gelisah.


> “Kamu… seharusnya bisa…”

“Kenapa tidak…?”




Dan untuk pertama kalinya, ada retakan pada suara itu sendiri.


Seperti sesuatu yang kehilangan pegangan pada dunia ini.


Rittel terhenti.


Tangannya turun sepenuhnya.


Napasnya kembali stabil—bukan karena dia menang, tapi karena sesuatu di dalam dirinya tidak jadi runtuh.


Granti tidak mendekat.


Tidak perlu.


Karena yang terjadi bukan pertarungan dua orang.


Tapi runtuhnya sesuatu yang hanya bisa hidup dari keraguan.


LUST mencoba bertahan, mencari celah terakhir.


Namun tidak ada.


Tidak di Rittel.


Tidak di Granti.


Hanya ruang kosong yang tidak bisa lagi diisi oleh kotoran niat.


Dan akhirnya…


suara itu pecah.


Bukan meledak.


Tapi seperti kabut yang kehilangan tempat untuk menggantung.


Lenyap.


Sunyi kembali.


Untuk pertama kalinya, sunyi itu tidak menakutkan.


Rittel mengangkat wajahnya perlahan, seperti orang yang baru saja selamat tanpa sadar dari sesuatu yang bahkan tidak sempat ia pahami sepenuhnya.


Granti masih berdiri di tempatnya.


Lalu pelan, sangat pelan, ia berkata:


“Sudah selesai.”



---


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Kelahiran Granti

Sebuah Catatan Usang (2015) edisi revisi 2026

Nasti