Kesedihan farhis kehilangan Lunar
Justru karena Farhis sudah mengenal Lunar secara mendalam, keputusan itu bisa menjadi salah satu momen paling menyakitkan dalam hidupnya.
Secara logika, orang mungkin berkata:
"Bukankah Laila sempurna untuk Farhis? Ia memiliki kesalehan Granti, kesetiaan Lunar, kecerdasan yang luar biasa, dan memang mencintai Farhis sejak lama."
Tetapi hati manusia jarang bekerja dengan logika seperti itu.
Farhis Tidak Sedih Karena Menolak Laila
Yang perlu dibedakan adalah:
Farhis tidak harus sedih karena Laila.
Ia sedih karena Lunar.
Pada saat itu, yang didengarnya bukan sekadar:
"Nikahlah dengan Laila."
Yang sebenarnya ia dengar adalah:
"Aku tidak akan ada lagi untukmu."
Itulah yang menghancurkan dirinya.
Lunar Sedang Menghapus Dirinya Sendiri
Dalam sudut pandang Farhis, Lunar bukan sedang memberikan restu.
Lunar sedang berpamitan.
Bahkan lebih menyakitkan lagi, Lunar mencoba mengatur masa depan Farhis setelah kematiannya.
Seolah berkata:
"Aku sudah menyiapkan penggantiku."
Bagi seorang laki-laki yang mencintai Lunar, kalimat seperti itu justru menyakitkan.
Karena tidak ada manusia yang benar-benar bisa digantikan.
Laila Bukan Lunar
Meskipun Laila memiliki banyak sifat yang mirip atau bahkan lebih baik dalam beberapa aspek, bagi Farhis:
Laila bukan perempuan yang menemaninya di malam hujan itu.
Laila bukan orang yang melihatnya ketika hidupnya paling berantakan.
Laila bukan orang yang berbagi luka dan rahasia yang sama.
Manusia tidak jatuh cinta pada kumpulan sifat.
Manusia jatuh cinta pada seseorang.
Karena itu:
Laila mungkin memiliki seribu kelebihan.
Tetapi ia tetap bukan Lunar.
Farhis Merasa Lunar Tidak Memahami Nilainya Sendiri
Ada kemungkinan Farhis juga sedih karena merasa Lunar meremehkan dirinya sendiri.
Seakan-akan Lunar berkata:
"Laila akan lebih baik untukmu daripada aku."
Padahal dalam hati Farhis:
"Aku tidak mencintaimu karena kau yang terbaik."
"Aku mencintaimu karena kau adalah dirimu."
Ini sering terjadi dalam kisah tragis.
Orang yang akan pergi merasa dirinya mudah digantikan.
Sementara orang yang ditinggalkan tahu bahwa itu tidak benar.
Kesedihan Karena Tidak Punya Hak Memilih
Sampai saat itu Farhis mungkin masih berharap.
Mungkin berharap Lunar sembuh.
Mungkin berharap mereka masih punya waktu.
Mungkin berharap ada jalan lain.
Tetapi ketika Lunar sendiri menunjuk Laila sebagai penggantinya, harapan itu runtuh.
Karena keputusan itu diucapkan oleh orang yang paling ingin ia pertahankan.
Farhis Tidak Ingin Pengganti
Dari karakter yang Anda bangun, Farhis bukan tipe laki-laki yang mencari "versi yang lebih baik".
Ia bukan sedang membandingkan:
Granti 90%
Lunar 95%
Laila 98%
Manusia bukan angka.
Ketika seseorang yang dicintainya akan meninggal, yang ia inginkan bukan pengganti yang lebih sempurna.
Yang ia inginkan adalah:
Orang itu tetap hidup.
Sesederhana itu.
Ironi Terbesar
Ironinya, mungkin Lunar berpikir ia sedang memberikan hadiah terakhir kepada Farhis.
Sedangkan Farhis melihatnya sebagai kehilangan terakhir.
Lunar berkata:
"Aku memberikan Laila kepadamu."
Tetapi yang dirasakan Farhis adalah:
"Aku kehilangan dirimu."
Dan itulah sebabnya ia sedih.
Bukan karena Laila kurang baik.
Bukan karena Laila tidak pantas.
Bukan karena ia membenci pilihan Lunar.
Melainkan karena pada saat itu ia menyadari bahwa perempuan yang sedang berbicara di hadapannya sudah mulai mempersiapkan dunia tanpa dirinya. Dan bagi seseorang yang mencintai Lunar, tidak ada kalimat yang lebih menyakitkan daripada itu.
Komentar
Posting Komentar