Laila, Anak Orang Gila!



"Anak orang gila!"

Kalimat itu selalu mengikuti langkah Laila Fauzania ke mana pun ia pergi.

Di sekolah, di jalan, bahkan di pasar.

Orang-orang tidak memanggil namanya. Mereka memanggilnya dengan luka yang bukan miliknya.

Laila hanya menunduk.

Bukan karena ia tidak sakit hati.

Tetapi karena ia sudah terlalu lelah untuk menjelaskan bahwa ibunya tidak dilahirkan gila.

Ibunya bernama Rona.

Dahulu ia adalah perempuan biasa yang penuh kasih sayang. Hidupnya sederhana bersama suaminya, Amal Suganda, pemilik toko kelontong kecil di Nagari Batang. Mereka bukan keluarga kaya, tetapi rumah mereka selalu dipenuhi tawa.

Sampai sebuah tragedi menghancurkan semuanya.

Ketika adik bungsu Laila masih berusia satu setengah tahun, Laila mengalami sakit keras. Amal memberikan obat racikannya sendiri untuk menolong putrinya. Namun setelah itu tubuh Laila tidak bergerak lagi.

Ia dinyatakan meninggal.

Tangisan memenuhi rumah.

Keluarga Rona menuduh Amal telah membunuh anaknya sendiri.

Rumah tangga mereka hancur dalam satu malam.

Amal diusir.

Rona kehilangan kewarasannya karena tidak mampu menerima kematian putri yang paling dicintainya.

Beberapa hari kemudian, keajaiban terjadi.

Laila bangun.

Ia ternyata hanya mengalami mati suri.

Namun semuanya sudah terlambat.

Keluarganya telah pecah berkeping-keping.

Ayahnya telah pergi.

Ibunya telah kehilangan akal sehatnya.

Dan dirinya sendiri tidak lagi memiliki rumah untuk pulang.

Tak lama kemudian, kondisi Rona semakin memburuk hingga akhirnya ia dibawa ke rumah sakit jiwa di kota. Sejak hari itu, Laila tidak pernah lagi bertemu ibunya.

Bertahun-tahun.

Tidak sekali pun.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada nasihat.

Tidak ada ucapan selamat ulang tahun.

Yang tersisa hanya kenangan.

Sementara itu, Laila dan kedua adiknya, Imam dan Arqam, diasuh oleh Eli.

Namun Eli tidak pernah menganggap mereka sebagai anak.

Laila diperlakukan seperti pembantu.

Kadang lebih buruk dari itu.

Meski demikian, ia tidak pernah membenci siapa pun.

Ia hanya memiliki satu tujuan:

Menyelamatkan masa depan kedua adiknya.

Sejak usia belasan tahun ia menjadi pengamen di kota.

Pagi sekolah.

Sore mengamen.

Malam belajar.

Lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari.

Saat anak-anak lain tidur nyenyak, Laila masih membuka buku pelajaran dengan mata sembab karena kelelahan.

Ia sering lapar.

Sering sakit.

Sering menangis diam-diam.

Tetapi ia tidak pernah menyerah.

Karena setiap kali ingin berhenti, ia teringat Imam dan Arqam.

Dan teringat ibunya yang entah sedang menangis atau tertawa sendiri di suatu bangsal rumah sakit jiwa.

Di sekolah, prestasinya luar biasa.

Tiga tahun berturut-turut ia menjadi juara umum SMA.

Guru-guru bangga.

Teman-teman kagum.

Namun tidak ada satu pun piala yang mampu menghapus satu kalimat yang terus menghantuinya.

"Anak orang gila."

Setelah lulus, perjuangan Laila belum berakhir.

Ia bekerja apa saja.

Menjadi guru les.

Menjadi penjaga toko.

Menjadi buruh administrasi.

Apa pun yang halal dan bisa menghasilkan uang.

Berkali-kali ia gagal mengikuti seleksi pegawai negeri.

Berkali-kali pula ia bangkit.

Orang-orang mulai berkata bahwa mimpinya terlalu tinggi.

Bahwa anak pengamen tidak mungkin berhasil.

Bahwa anak orang gila tidak akan ke mana-mana.

Namun mereka lupa satu hal.

Orang yang sudah terbiasa hidup dalam penderitaan tidak mudah dikalahkan oleh kegagalan.

Tahun demi tahun berlalu.

Sampai pada suatu pagi.

Namanya muncul dalam daftar kelulusan.

Laila Fauzania.

Lulus.

Menjadi pegawai negeri.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, gadis yang selalu kuat itu menangis seperti anak kecil.

Bukan karena jabatan.

Bukan karena gaji.

Tetapi karena satu orang.

Ibunya.

Hari pertama menerima surat keputusan pengangkatan, ia tidak pulang ke rumah.

Ia pergi ke kota.

Ke rumah sakit jiwa tempat ibunya dirawat selama bertahun-tahun.

Tangannya gemetar ketika berjalan menyusuri koridor.

Jantungnya berdebar begitu keras hingga terasa menyakitkan.

Ia tidak tahu apakah ibunya masih mengenal dirinya.

Ia tidak tahu apakah ibunya masih mengingat namanya.

Ia bahkan tidak tahu apakah ibunya masih hidup dalam dunia yang sama.

Di ujung bangsal, seorang wanita tua duduk menatap jendela.

Rambutnya telah memutih.

Tubuhnya kurus.

Wajahnya menyimpan jejak waktu dan penderitaan.

Laila langsung mengenalinya.

Ibunya.

Kakinya terasa lemas.

Bertahun-tahun ia memimpikan pertemuan ini.

Namun kini ia tidak sanggup melangkah.

Air matanya jatuh satu per satu.

"Ibu..."

Suara itu hampir tidak terdengar.

Wanita tua itu perlahan menoleh.

Tatapannya kosong.

Laila mendekat.

Berlutut.

Menggenggam kedua tangan ibunya yang dingin.

"Ibu... ini Laila."

Tidak ada jawaban.

Laila mulai menangis.

Tangis yang selama puluhan tahun ia tahan.

"Aku sudah sekolah, Bu."

Air mata membasahi pipinya.

"Aku menjaga Imam dan Arqam."

Suaranya semakin pecah.

"Aku berhasil, Bu..."

Ia mengeluarkan map berisi surat pengangkatannya.

Tangannya gemetar hebat.

"Aku jadi pegawai negeri sekarang."

Laila tersedu.

"Aku datang menjemput Ibu pulang."

Ruangan menjadi sunyi.

Sangat sunyi.

Lalu perlahan, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mata Rona berubah.

Seakan ada cahaya kecil yang kembali menyala dari dalam dirinya.

Wanita itu menatap wajah Laila.

Lama.

Sangat lama.

Kemudian bibirnya bergetar.

Air mata mengalir dari kedua matanya.

Dan dengan suara yang lemah, nyaris seperti bisikan angin, ia berkata,

"Laila... anak Ibu..."

Dunia seakan berhenti.

Semua penderitaan.

Semua hinaan.

Semua rasa lapar.

Semua malam yang penuh tangis.

Semua perjuangan yang ia jalani seorang diri.

Hancur dalam satu kalimat sederhana itu.

Laila memeluk ibunya erat-erat.

Seperti anak kecil yang akhirnya menemukan rumah setelah tersesat bertahun-tahun.

Dan untuk pertama kalinya sejak tragedi itu terjadi, Rona menangis dalam pelukan putrinya.

Bukan sebagai pasien rumah sakit jiwa.

Bukan sebagai wanita yang kehilangan kewarasannya.

Melainkan sebagai seorang ibu.

Yang akhirnya bisa melihat bahwa putrinya tidak hancur oleh takdir.

Putrinya telah tumbuh menjadi perempuan hebat.

Perempuan yang menyelamatkan adik-adiknya.

Perempuan yang mengalahkan kemiskinan.

Perempuan yang mengalahkan hinaan.

Perempuan yang selama bertahun-tahun disebut "anak orang gila".

Padahal sebenarnya...

ia adalah anak dari seorang ibu yang sangat mencintainya.


Silsilah Laila



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Kelahiran Granti

Sebuah Catatan Usang (2015) edisi revisi 2026

Nasti