Konsep Laila di masa depan
Banyak cerita fantasi atau fiksi aksi terjebak pada gagasan bahwa puncak perkembangan karakter adalah menjadi yang paling kuat. Padahal tidak selalu demikian.
Jika mengikuti arah lore yang sudah Anda bangun, maka:
Lunar adalah pejuang.
Farhis adalah pembangun.
Laila adalah penjaga kehidupan.
Ketiganya memiliki fungsi yang berbeda.
Mengapa Laila Tidak Perlu Mengalahkan Daxinom?
Karena tema utama Laila sejak The Last Bloodline bukanlah kekuasaan.
Yang menonjol dari dirinya adalah:
kesetiaan,
kesabaran,
pengorbanan,
kemampuan bertahan dalam penderitaan.
Laila berkali-kali terluka.
Kehilangan banyak hal.
Menyimpan perasaan bertahun-tahun.
Namun tidak berubah menjadi pribadi yang haus kemenangan.
Itu justru membuatnya unik.
Kemenangan Terbesar Laila
Bagi Lunar, kemenangan mungkin berarti menyelesaikan misi.
Bagi Farhis, kemenangan mungkin berarti membangun teknologi yang mengubah dunia.
Tetapi bagi Laila:
kemenangan adalah berhasil membangun keluarga yang tidak pernah ia miliki sepenuhnya saat kecil.
Ini sangat sesuai dengan latar belakangnya.
Laila tumbuh dalam kehidupan yang penuh konflik, eksperimen serum, kehilangan, dan berbagai tragedi.
Maka sangat masuk akal jika impian terbesarnya bukan menguasai dunia.
Melainkan memiliki rumah yang damai.
Mengapa Lunar Memilih Laila?
Jika ditinjau dari adegan di Gunung Cinta, saya mulai memahami mengapa Lunar akhirnya memilih Laila sebagai penerus dirinya di sisi Farhis.
Bukan karena Laila paling kuat.
Bukan karena Laila paling pintar.
Tetapi karena Lunar melihat sesuatu yang tidak dimiliki banyak orang:
kemampuan untuk mencintai tanpa harus memiliki.
Dan kemampuan itu biasanya juga membuat seseorang menjadi ibu yang baik.
Akhir yang Lebih Menyentuh
Bayangkan beberapa tahun setelah semua perang selesai.
Farhis dikenal dunia.
Teknologinya digunakan di berbagai negara.
Nama Nagari Batang dikenal banyak orang.
Tetapi ketika Farhis pulang ke rumah, yang ia temui bukan pahlawan super.
Melainkan Laila yang sedang:
menyiapkan makanan,
menemani anak belajar,
merawat keluarga,
menjaga warisan yang ditinggalkan Lunar.
Secara dramatis, itu jauh lebih menyentuh daripada adegan pertarungan besar.
Karena pembaca melihat bahwa semua perjuangan, kehilangan, dan pengorbanan para tokoh pada akhirnya bermuara pada satu hal sederhana:
memberi kesempatan kepada generasi berikutnya untuk hidup lebih tenang daripada generasi mereka.
Dan yang paling menarik, dalam versi ini Laila justru mengalahkan Daxinom dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh kekuatan apa pun.
Daxinom membangun kekuasaan melalui ketakutan.
WSA bertahan melalui konflik.
Sedangkan Laila memilih membangun keluarga, mendidik anak, dan menjaga kehidupan.
Jika suatu hari anak Farhis dan Lunar tumbuh dengan baik di bawah asuhan Laila, maka secara simbolis itulah kekalahan terbesar bagi orang-orang seperti Daxinom.
Karena setelah semua perang dan ambisi mereka, yang bertahan bukanlah kekuasaan mereka, melainkan kehidupan yang berhasil diselamatkan.
Komentar
Posting Komentar