Permata Zenezarfan
Anak kecil ini tumbuh dalam didikan seorang ibu berlatar belakang militer, yang membentuknya menjadi pribadi mandiri, tegar, dan sulit digoyahkan oleh keadaan. Namun di balik keteguhannya, masa remajanya menyimpan gejolak yang semakin dalam ketika ia mulai menemukan kembali ingatan tentang silsilah keluarganya—sebuah garis keturunan yang tak pernah lepas dari peperangan, selalu dipicu oleh perebutan warisan yang tak berkesudahan.
Kesadaran itu membuatnya goyah. Ia keluar dari lingkaran itu, dan dalam titik tertentu, amarahnya meledak—seolah menolak takdir yang diwariskan kepadanya.
Di sisi lain, anak ini memiliki kecerdasan dan semangat literasi yang tinggi. Suatu ketika, ia menyusup ke ruangan Nasti, dan di sana ia menemukan sebuah buku karya Ilman berjudul “Monster Monster Nagari Batang.”
Di dalam buku tersebut, Ilman menuliskan berbagai legenda dan entitas yang berasal dari tanah Batang: Mata Iblis Pembunuh, Palasik, Gasiang Tangkurak, Cirik Barandang, Inyiak Balang, Serigala Bukit Mati, Talang Pitunang, Santuang Palalai, serta berbagai unsur mistis dan legenda urban lainnya yang membentuk bayangan gelap Nagari Batang.
Ilman sendiri bukan penulis biasa. Ia adalah seorang Resonator, seseorang yang mampu menangkap dan menyusun ulang fragmen informasi dari Nagari Batang tanpa harus hadir secara fisik di dalamnya. Melalui mekanisme yang tidak dipahami sepenuhnya, ia dapat menulis dengan akurat seolah-olah menyaksikan langsung peristiwa-peristiwa di dalamnya.
Dalam sistem Nagari Batang yang dijaga ketat oleh Dubalang Parik Paga Nagari di gapura utama, Ilman tidak pernah benar-benar menyusup secara fisik. Namun ia mampu mengakses bayangan informasinya melalui resonansi yang tidak terlihat oleh sistem penjagaan tersebut.
Dan tentang kedua mata itu…
yang sebenarnya sejak awal adalah miliknya.
Bagaimana Permata akan mendapatkannya kembali?
Tunggu saja.





Komentar
Posting Komentar