Tangisan Nasti Saat Kepergian Lunar
tidak ada tokoh yang lebih menderita atas kematian Lunar selain Nasti sendiri.
Bukan karena Lunar adalah pahlawan.
Bukan karena Lunar pewaris MEANGLE.
Tetapi karena Lunar adalah anak yang tidak pernah sempat memanggilnya "Ibu".
Kesedihan Seorang Ibu yang Tidak Bisa Mengaku
Nasti mungkin sudah menerima banyak kehilangan dalam hidupnya.
Ia menyaksikan kematian teman-teman.
Melihat pengkhianatan.
Menyembunyikan identitas puluhan tahun.
Hidup dalam bayang-bayang.
Namun semua itu masih bisa ia tanggung.
Yang tidak bisa ia tanggung adalah melihat Lunar meninggal sambil tetap percaya bahwa ibunya sudah lama tiada.
Bayangkan saat berada di rumah sakit.
Lunar terbaring lemah.
Farhis ada di sana.
Laila ada di sana.
Mungkin T-SAVIOR merekam semuanya.
Dan Nasti mungkin juga ada.
Tidak sebagai ibu.
Tidak sebagai keluarga.
Hanya sebagai seseorang yang berdiri jauh di sudut ruangan.
Melihat anaknya untuk terakhir kali.
Penyesalan yang Tidak Bisa Diperbaiki
Mungkin berkali-kali Nasti bertanya kepada dirinya sendiri:
"Apakah aku salah?"
"Haruskah aku memberitahunya sejak awal?"
"Haruskah aku memeluknya sekali saja sebagai ibu?"
Karena sekarang semuanya sudah terlambat.
Lunar sudah meninggal.
Dan jawaban itu tidak akan pernah sampai kepadanya.
Mengingat Lunar Kecil
Yang paling menyakitkan biasanya bukan saat kematian itu sendiri.
Melainkan kenangan.
Nasti mungkin teringat:
saat pertama kali menggendong Lunar,
saat Lunar belajar berjalan,
saat Lunar menangis,
saat Lunar tertawa.
Kenangan yang selama bertahun-tahun ia paksa kubur demi menjaga identitas Bayangan Putih.
Dan sekarang semua kenangan itu kembali menyerangnya sekaligus.
Saat Menonton Rekaman T-SAVIOR
Menurut saya, momen yang paling menghancurkan Nasti bukan saat Lunar meninggal.
Melainkan saat T-SAVIOR menayangkan ulang detik-detik terakhir Lunar.
Karena kematian biasanya berlangsung beberapa menit.
Tetapi rekaman bisa diputar tanpa akhir.
Setiap kali diputar:
suara Lunar kembali terdengar,
wajah Lunar kembali terlihat,
senyumnya kembali muncul.
Lalu berakhir lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Seolah luka itu dibuka berulang kali.
Kesedihan yang Tidak Bisa Ditunjukkan
Yang membuat Nasti berbeda dari Farhis atau Laila adalah:
Farhis bisa menangis.
Laila bisa menangis.
Masyarakat bisa berkabung.
Tetapi Nasti tidak.
Karena secara resmi:
Nasti sudah mati.
Ia tidak bisa datang ke pemakaman.
Ia tidak bisa berdiri di samping makam.
Ia tidak bisa mengatakan:
"Anakku."
Karena satu kata itu saja bisa membongkar rahasia yang ia jaga puluhan tahun.
Jadi ia harus berduka sendirian.
Mengapa Nasti Tetap Bertahan?
Mungkin karena sebelum meninggal, Lunar masih melakukan satu hal yang membuat Nasti bangga.
Lunar tetap menjadi orang baik.
Lunar tidak menggunakan MEANGLE untuk menindas.
Tidak mengejar kekuasaan.
Tidak menjadi seperti Daxinom.
Lunar memilih melindungi orang lain.
Mungkin saat melihat itu, Nasti sadar:
"Aku memang gagal hidup bersama anakku."
"Aku memang gagal menjadi ibu yang bisa ia panggil setiap hari."
"Tetapi aku tidak gagal membesarkannya."
Dan itu menjadi satu-satunya penghiburan yang tersisa baginya.
Jika ditulis sebagai adegan novel, saya membayangkan Nasti berdiri sendirian di depan makam Lunar setelah semua orang pulang. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menjadi Bayangan Putih, ia tidak sedang menjalankan misi apa pun. Tidak sedang menyamar. Tidak sedang mengawasi siapa pun.
Ia hanya seorang ibu yang kehilangan anaknya.
Lalu meletakkan tangannya di atas batu nisan dan berbisik pelan:
"Maafkan Ibu, Lunar... Ibu datang terlambat."
Dan tidak ada seorang pun di Nagari Batang yang mendengar kalimat itu. Karena bagi dunia, Nasti sudah lama meninggal. Tetapi bagi Nasti, pada hari itulah ia benar-benar merasa kehilangan.
Ya, memang sangat menyedihkan.
Bahkan menurut saya, kesedihan Nasti bukan hanya karena Lunar meninggal. Yang lebih menyakitkan adalah bahwa ia kehilangan hak untuk menjadi seorang ibu.
Selama bertahun-tahun Nasti mungkin menghibur dirinya dengan berkata:
"Suatu hari nanti aku akan menjelaskan semuanya."
"Suatu hari nanti aku akan mengatakan siapa diriku sebenarnya."
"Suatu hari nanti aku akan memanggilnya anakku."
Namun kematian Lunar merampas semua kemungkinan itu.
Yang tersisa hanyalah kata-kata yang tidak pernah terucapkan.
Ada ironi yang sangat tragis dalam lore Anda.
Lunar menghabiskan hidupnya mencari kebenaran tentang orang lain.
Ia membaca pikiran kriminal.
Mengungkap rahasia organisasi.
Membongkar identitas musuh.
Tetapi rahasia terbesar dalam hidupnya sendiri tidak pernah ia ketahui.
Bahwa ibunya masih hidup.
Dan ibunya diam-diam mengawasinya.
Saya bahkan membayangkan Nasti mungkin pernah melihat Lunar dari kejauhan berkali-kali.
Mungkin saat Lunar masih remaja.
Mungkin saat Lunar pertama kali menjalankan misi.
Mungkin saat Lunar tertawa bersama teman-temannya.
Mungkin saat Lunar menangis sendirian.
Dan setiap kali itu terjadi, Nasti harus menahan diri untuk tidak mendekat.
Karena sekali saja ia mengatakan:
"Aku ibumu."
Maka seluruh penyamaran Bayangan Putih bisa runtuh.
Yang membuatnya semakin pilu adalah kenyataan bahwa Lunar bukan anak yang membenci ibunya.
Justru sebaliknya.
Dari semua yang Anda ceritakan, Lunar tampaknya tumbuh menjadi pribadi yang tetap menghormati sosok ibu yang diyakininya telah meninggal.
Artinya Nasti tidak kehilangan cinta anaknya.
Ia kehilangan kesempatan untuk menerimanya secara langsung.
Dalam banyak cerita, kematian menjadi akhir dari hubungan.
Tetapi pada Nasti dan Lunar, hubungan mereka sudah "terputus" jauh sebelum kematian itu terjadi.
Mereka saling mencintai.
Tetapi tidak bisa saling mengenali.
Dan ketika akhirnya kematian datang, tidak ada lagi kesempatan kedua.
Itulah yang membuat tragedi mereka terasa sangat manusiawi.
Bukan karena ada mata sakti, teleportasi, atau organisasi rahasia.
Melainkan karena di balik semua itu, ada seorang ibu yang tidak bisa memeluk anaknya, dan ada seorang anak yang meninggal tanpa pernah tahu bahwa ibunya tidak pernah benar-benar meninggalkannya.
Komentar
Posting Komentar