The Last Bloodline (2006)

 


























CHAPTER ONE: INTRODUKSI

Dalam tatanan masyarakat adat yang menganut sistem matrilineal, kehadiran seorang anak perempuan bukanlah sekadar pelengkap keluarga. Mereka adalah penentu keberlangsungan sebuah suku atau kaum.

Melalui garis ibu, nama suku diwariskan dari generasi ke generasi. Di tangan para perempuan pula hak guna atas harta pusaka tinggi yang sakral dititipkan dan dijaga.

Bagi masyarakat adat, putusnya garis keturunan perempuan merupakan sebuah malapetaka besar. Sebab tanpa penerus wanita, sebuah kaum akan kehilangan kesinambungan nama, warisan, dan kedudukannya dalam tatanan adat.

Kaum yang kehilangan penerus perempuan akan dipandang rendah oleh masyarakat. Mereka dianggap sebagai kaum yang telah punah, sebab tidak lagi memiliki penerus untuk melanjutkan garis keturunan dan menjaga harta pusaka.

Jauh dari hiruk-pikuk perkembangan zaman, terdapat sebuah perkampungan bernama Nagari Batang. Tempat ini dikenal sebagai wilayah yang tertutup dan menjaga jarak dari pengaruh dunia luar.

Masyarakatnya hidup dalam aturan yang ketat, dengan pemerintah nagari yang mengontrol arus informasi yang masuk maupun keluar. Tidak semua kabar dari luar dapat dengan mudah diketahui oleh warga.

Kehidupan masyarakat di sana sangat sederhana. Sebagian besar bekerja sebagai petani dan menggantungkan hidup pada hasil tanah. Sebagian lainnya berdagang atau bekerja sebagai pegawai.

Akses terhadap dunia luar sangat terbatas. Bagi sebagian besar warga, kehidupan hanya berputar di sekitar rumah, ladang, sekolah, dan tempat ibadah.

Secara administratif, Nagari Batang terbagi menjadi tujuh jorong yang saling terhubung satu sama lain.

Di antara ketujuh jorong tersebut, Jorong Baringin memiliki ciri ciri yang menjadikannya berbeda satu sama lain. Jorong ini menjadi tempat tinggal para pemangku adat sekaligus pusat pemerintahan Nagari Batang.

Segala urusan besar yang berkaitan dengan adat, tanah pusaka, serta persoalan kaum biasanya dibahas dan diputuskan di sana.

Karena itulah, Jorong Baringin dikenal sebagai pusat kehidupan adat di Nagari Batang.

Berbeda dengan Jorong Baringin yang menjadi pusat adat, Jorong Kundua memiliki perkembangan yang lebih terbuka.

Terletak di wilayah sub-urban dan berbatasan langsung dengan Kota Bukittinggi di sebelah selatan, Kundua menjadi kawasan yang lebih ramai oleh aktivitas perdagangan dan percampuran budaya.

Penduduknya terdiri dari masyarakat pribumi serta para perantau asal Jawa dan Batak yang bekerja di Bukittinggi.

Karena letaknya yang cukup jauh dari pusat adat, masyarakat Kundua tidak terlalu terlibat dalam berbagai persoalan yang terjadi di Jorong Baringin.

Kehidupan di Kundua lebih berfokus pada pendidikan, perdagangan, dan kegiatan keagamaan.

Hal ini terlihat dari keberadaan satu-satunya sekolah di seluruh Nagari Batang yang berdiri di jorong tersebut, berdampingan dengan satu masjid besar dan lima surau yang tersebar di sekitarnya.


CHAPTHER TWO: 
DARI PAGI HINGGA WAKTU ITU


Kesadaran perlahan kembali setelah semalam menjelajahi dunia mimpi. Gadis remaja itu membuka matanya dengan anggun. Bersamaan dengan itu, sebersit tanya yang selalu mengusik jiwanya kembali bangkit: siapa sebenarnya jati diri dirinya?
Sambil menepis lamunan, jemari lentiknya dengan cekatan merapikan tempat peraduan. Langkah kakinya kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu. Di Nagari Batang, sudah menjadi rahasia umum bahwa gadis ini memiliki kekuatan spiritual yang melekat kuat. Garis keturunannya yang terkenal alim dan taat beragama tak perlu diragukan lagi. Watak dan kepribadian luhur itu telah mendarah daging dalam dirinya semenjak ia masih belia.
Selesai menunaikan ibadah salat Subuh, ia tak pernah membiarkan tubuhnya kembali terbuai kantuk. Seperti biasa, ia langsung menyibukkan diri mempersiapkan segala keperluan sekolah. Di meja sudut kamarnya, ia meraih tas sekolah lalu memasukkan buku-buku latihan yang semalam bertumpuk rapi. Di halaman sampul buku itu, tertera sebuah nama dengan tulisan yang tegas: Lousyana Granti Azzura, Kelas III IPA 2, SMA N 1 Batang. Ujian Akhir Nasional sudah di depan mata. Hari-harinya belakangan ini dihabiskan dengan tumpukan tugas dan pekerjaan rumah yang seolah tiada habisnya. Maka wajar saja jika meja belajarnya selalu dipenuhi buku-buku tebal, terutama buku latihan Kimia yang menjadi santapan tiap malam.

"Sudah jam setengah tujuh pagi, Ante. Granti pergi dulu, ya!" pamitnya hangat.
Granti merangkul tangan wanita paruh baya yang dipanggilnya Ante itu, lalu mengecupnya dengan takzim dan mencium Tangan Tante Erza.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumussalam," balas sang Ante lembut.
Granti selalu terbiasa berangkat lebih awal dibanding teman-teman sebayanya. Jarak dari rumah menuju sekolahnya terbilang paling jauh di antara yang lain—lebih dari satu kilometer—dan semua itu harus ia tempuh dengan berjalan kaki.
Perjalanan pagi itu semula terasa biasa, hingga langkahnya tiba di sebuah jembatan. Instingnya mendadak menegang. Atmosfer di sekitarnya berubah ganjil.
"Siapa itu? Aku tahu kau mengikutiku dari tadi, pas lepas jembatan!" seru Granti, mencoba memecah keheningan semak belukar di kanan-kirinya.
"Granti...!" sebuah bisikan memanggil namanya.
"Siapa? Kau siapa?!" Rasa takut mulai merayapi dada Granti. Tubuhnya bergetar sedikit, namun ia mencoba menguatkan hati.
Ia mempercepat langkah kaki menembus jalanan semi-aspal yang membelah belukar sepi tersebut. Biasanya, jalur ini aman-aman saja. Namun pagi ini, Granti merasa dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya. Perasaan naas menggelayuti pikirannya sepanjang jalan.

Bahkan setelah menginjakkan kaki di lingkungan sekolah, suara aneh yang menerornya tadi pagi masih saja berputar-putar di kepala Granti. Sekolahnya terletak di kawasan sub-urban dan menjadi sekolah favorit bagi anak-anak di wilayah sekitar. Karena popularitasnya, desas-desus atau berita apa pun yang terjadi di sekolah ini akan dengan sangat cepat menyebar ke seluruh penjuru perkampungan, bahkan hingga ke kota terdekat.
Granti memiliki banyak teman, namun hanya ada satu orang yang benar-benar ia percayai sebagai tempat menumpahkan isi hatinya: Laila. Gadis anak pedagang kain dari Jorong Lubuk Dalam itu adalah sahabat sejati Granti. Laila tahu betul bagaimana kepribadian Granti, liku-liku kehidupannya, termasuk teror suara misterius yang baru saja dialami Granti pagi tadi.
Tanda tanya besar di dalam benak Granti kian menumpuk. Bukan cuma soal asal-usul orang tuanya yang diselimuti misteri karena tak banyak ia ketahui, melainkan kini ditambah lagi dengan teror-teror aneh yang mengganggu ketenangan jiwanya. Meskipun sudah menceritakan semuanya kepada Laila, hatinya tetap saja tidak tenang.
"Sudahlah, lupakan saja!" Granti mencoba berdialog dengan dirinya sendiri, berusaha mengusir rasa cemas. Namun, ingatan akan bisikan di jembatan itu tetap melintas dengan pekat.
Bagian 4: Hukum Alam di Kampung Tangah
Sayup-sayup terdengar kumandang azan dari Masjid Kampuang Tangah. Di sekitar masjid, masyarakat mulai bersiap-siap melangkah memenuhi panggilan ibadah. Granti pun bergegas.
Namun, pemandangan berbeda terlihat di sebuah lapau (warung) tak jauh dari sana.
“Sabanyak nan lai, sabanyak itu pulo nan indak!” (Sebanyak yang ada, sebanyak itu pula yang tidak).
Begitulah sebuah pepatah lokal yang menggambarkan situasi di sana. Di dalam lapau, sekelompok laki-laki tampak asyik dengan permainan batu domino mereka, mengabaikan panggilan salat. Sesekali terdengar bunyi letakan keras batu gaplek yang dihantamkan ke atas meja kayu.
"Lah Coki!" seru salah seorang dari mereka.
Begitulah gambaran nyata dari daerah ini. Sebuah hukum alam yang tak terbantahkan: sebanyak apa pun orang-orang yang berjalan di atas jalan kebenaran, akan sebanyak itu pula orang-orang yang memilih jalan sebaliknya dan menentangnya. Ada yang paham akan hakikat hidup, namun ada pula yang tenggelam dalam kebingungan.
-------
Di tepian sawah yang menghijau, seorang pemuda masih sibuk mengayunkan sabitnya, memotong rerumputan liar dengan ritme yang teratur. Sesekali ia menengok ke arah kerbau peliharaannya yang baru berumur dua tahun—hewan yang kini sedang lahap-lahapnya makan. Kerbau itu telah menjadi tanggung jawab penuh dirinya semenjak sang ayah jatuh sakit.
Ayah pemuda itu kini hanya bisa terbaring lemah di atas katil sebuah pondok kecil. Sudah beberapa bulan ini sang ayah menderita penyakit kaki yang aneh hingga tidak bisa banyak bergerak.
"Sudah selesai, saatnya mengantarkan dua rajut ini ke kandang!" gumam pemuda itu dalam hati.
Ia menjunjung satu rajut (keranjang jaring) penuh rumput di atas kepalanya, sementara tangan kanannya memegang sabit yang tertancap di tepi pematang sawah. Satu rajut rumput lagi ditinggalkannya di sawah, rencananya akan dijemput nanti sore. Sambil berjalan, ia sesekali menyapa ramah para petani lain yang masih sibuk menggarap sawah mereka.
"Pulang dulu Tek, lah Ashar!" sapanya sopan.
"Yo!" balas wanita paruh baya di sawah itu.
Setelah meletakkan rumput di kandang, pemuda itu bergegas pulang demi mengejar waktu salat Ashar di rumahnya—sebuah pondok yang sangat sederhana. Keadaan ekonomi dan kewajiban mengurus ayahnya membuat pemuda ini tak bisa sesering teman-temannya untuk salat berjamaah di masjid. Kesibukan ini telah menjadi sahabat keduanya selepas pulang sekolah.
------
Malam harinya, ketika suasana nagari telah senyap, pemuda itu masih terjaga di bawah pendar lampu. Ia harus mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir sekolah yang tinggal menghitung hari.
"Farhis! Ambilkan air panas," panggil sebuah suara lirih dari kamar.
Pemuda itu bernama Muhammad Farhis Zarfan. Ia segera melangkah ke dapur, lalu membawakan segelas air hangat kuku untuk ayahnya yang malang. Saat menerima gelas, tangan sang ayah tampak gemetar hebat. Penyakit aneh itu seolah merayap, menggerogoti kekuatannya hingga ke ujung jemari.
Farhis adalah siswa kelas 3 SMA, sama seperti Granti. Ia merupakan anak perempuan dari mendiang Nasti, yang merupakan keturunan Urang Kayo Raisah. Berbeda dengan Granti yang memiliki pembawaan menonjol dan misterius, Farhis adalah sosok yang bersahaja. Tidak ada yang terlalu spesial dari fisiknya, melainkan sikapnya yang sangat ramah, ringan tangan, tekun, serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Baginya, sifat-sifat itulah satu-satunya harta berharga yang ia miliki.
Kepribadian Farhis yang apa adanya membuat ia sangat dipercaya dan disegani oleh teman-temannya di sekolah. Buktinya, ia berhasil menjabat sebagai Ketua OSIS selama dua periode berturut-turut, dan sekarang adalah tahun keduanya memimpin.
Secara akademik, Farhis bukanlah pemuda bodoh yang berambisi muluk-muluk untuk melampaui kepintaran Laila—sang juara umum bertahan di sekolah. Meskipun Farhis tercatat sebagai siswa kelas 3 IPA 6—kelas yang terkenal sebagai sarang lokal perusuh sejati dan tidak diunggulkan—namun di antara kerumunan siswa nakal itu, Farhis adalah yang paling pintar dan berwibawa. Kemantapan jiwanya begitu kuat meski berada di lingkungan yang keras.
Hubungan antara Farhis dan Granti sebenarnya tidaklah asing; mereka dihubungkan oleh ikatan tali keluarga. Nenek mereka, Raisah (nenek Granti) dan Enab (nenek Farhis) adalah saudara kandung. Namun nasib memisahkan kedekatan mereka. Semenjak kematian ibunya, Nasti, Granti diasuh dan dibesarkan oleh Tante Erza —saudara kembar dari istri Haji Gafar, yang tak lain merupakan adik dari ayah Farhis yang bernama Bagindo.

CHAPTHER THREE
MENGAPA HARUS AKU?(Page 7-9)

​“Jadi begitu ya, aku akan bergabung dengan kelompok Paga Nagari untuk tau siapa bayangan putih itu, Laila harus aku ajak juga karena dia yang paling kuat dari keseluruhan teman-teman ku di harimau sakti!” dengan penuh keyakinan gumaman itu seolah mimpi baru Granti untuk mengetahui siapa dia, dan siapa bayangan putih yang sudah mengusik fikirnya semalam.
​Berbunyi sesuatu di arah samping luar kamar nya
​“Siapa?”
​“Mungkin cuma tikus got atau kucing, ya sudah lah.” Katanya dalam hati
​Tak lama kemudian datang Farhis kerumah
​“Granti, keluar nak, ini ada Farhis mencari mu!” Ante Erza bergegas masuk setelah sibuk merapikan tanaman bonsai di depan rumahnya. Tak lama granti keluar dari rumahnya.
​“Duduk lah Farhis, tunggu sebentar aku kebelakang dulu” seperti bukan orang asing memang farhis di rumah itu, Granti bermaksud hendak menyuguhi Farhis selayaknya menerima tamu.
​“gak usah repot-repot ti, ini cuma kabar penting, kalau boleh kita bicara di dalam saja”
​“yuk Far, ada kabar apa?” setelah mereka pindah duduk kembali ke ruang tamu Farhis melanjutkan pembicaraan yang dia anggap penting itu.
​“mereka sudah mulai ti, kamu harus jaga diri” kata Farhis
​“Kemarin sore aku tanpa sengaja mencuri dengar dari seorang parewa yang suka main di lapau simpang belakang parak, kalau Mak Itam dan Mak Kari sudah sepakat hendak menghabisi kamu ti, mereka parewa itu bilang kalau keadaaan itu akan menguntungkan bagi mereka. Aku juga gak paham ti yang jelas kamu harus lebih berhati hati”
​“Aku sudah sering dengar kabar itu, tapi Alhamdulillah lah far kita masih punya Tuhan” Granti menyela dengan cepat.
​“Makasih ya Far, oh ya Bagai mana dengan Mak Gindo? Ayah mu itu?”
“Makin parah Ti, gak ada perkembangan yang membaik. Bidan Kampung dan Dukun pun sudah menyerah dibuatnya”
“Semoga diberi kemudahan dalam penyakitnya ya Far”
“Amin..Hati-hati aja ya Ti, aku pamit dulu urusan pribadi yang satu ini gak bisa dilewatkan”
“Owh..Pasti masalah dengan hewan ternak mu ya...”
“Farhis makanlah dulu, buru-buru sekali” Tante erza kembali terdengar suaranya dari ruangan tengah kemudian dia bergegas ke depan ke ruangan tamu.
“Gak usah tante masih kenyang, permisi Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam Wr. Wb.”
Ada tiga hal yang masih belum terungkap yaitu siapa itu Bayangan Putih, Parewa dan Paga Nagari. Yang jelas Paga Nagari adalah sejenis organisasi, sepertinya organisasi orang baik-baik dan parewa adalah perkumpulan jahat. Sejauh ini tentang Bayangan Putih hanya Granti sendiri yang menyebut istilah itu, belum cukup banyak informasi tentang itu.
Tak ada waktu istirahat dalam kamus kehidupan Granti, seolah setiap detik itu adalah untuk nya. Dan seolah kematian itu sudah dekat. Saat malam selepas isya pun masih ada juga kegiatannya yaitu berlatih bela diri silat bersama teman-temannya di perguruan silat tapak suci harimau sakti, Tempat latihannya tidak sejauh perjalanan ke sekolah. Tempat ini arah ke timur dari rumahnya tepatnya di belakang kantor wali nagari batang. Tempatnya tidak terlalu menarik cuma lapangan dengan alas pasir putih dan di sekelilingnya tumbuh rumpun bambu. Pak Datuak, kerap kali para senior memanggilnya Inyiak mungkin karena usianya yang tua, adalah instruktur di harimau sakti ini sudah tiga generasi namun dia masih setia mengabdi untuk perguruan.
Walau latihan silat di Harimau Sakti paling lama cuma satu setengah jam namun ini cukup untuk membekali pemuda dan pemudi di Nagari Batang jika harus merantau kelak suatu hari. Untuk saat ini jumlah murid di Harimau sakti sudah mencapai ratusan lebih. Laila juga ada di perguruan ini, begitu pun farhis dan teman teman sekelasnya di sekolah.
“Kenapa Ti Capek kah?” laila menghampiri Granti yang duduk di pinggir lapangan pada salah satu kursi kayu yang memang di sediakan untuk murid peguruan.
“Nggak!”
“Oh ya masalah bayangan putih itu bagaimana ti? Aku juga merasa ada sesuatu yang aneh setelah bayangan putih itu menghampiriku melalui mimpi semalam?”
Mendadak sebuah tanda tanya muncul dalam kepala Granti “apa maksud nya laila?”
“Iya semalam sesosok bayangan putih itu menghampiriku, kita harus bergabung dengan paga nagari untuk mengetahui maksud dari bayangan putih itu Ti! Bayangan putih menyuruh ku ”
“Untuk masuk paga nagari tidaklah mudah Laila, kita cuma anak kelas III SMA. Masih terlalu bocah bagi mereka menerima kita.” Paga Nagari bukanlah organisasi biasa, di dalamnya berkumpul orang-orang dengan intelektualitas tinggi, kecakapan fisik dan mental, tanggung jawab, berwawasan luas terhadap nilai-nilai agama, adat dan sistem pemerintahan. Jadi secara logika memang bukan mudah bagi mereka untuk menerima anggota yang baru punya ilmu secuil seperti mereka berdua.
“Pikir-pikir dulu lah laila, kan masih 2 bulan lagi ada penerimaan anggota baru. Yuk latihan lagi.” Granti kembali berdiri untuk kembali ke tengah lapangan. Di sela-sela rumpun bambu terdengar suara langkah kaki yang berlari, seolah olah ada orang yang baru saja mendengarkan percakapan mereka berdua.

---


CHAPTHER FOUR
KESUMAT PARA PAREWA(Page 10-11)

​Masalah dalam suku, dan kelompok parewa yang semakin menjadi-jadi adalah keseharian yang pelik bagi masyarakat batang, tampak ketegangan mulai terjadi. Jalanan menjadi sunyi, pasar menjadi seperti kuburan. Masyarakat semakin resah dengan perilaku para parewa. Penegak hukum seperti kehilangan kuku, tidak ada yang berani melerai konflik ini karena status penjahat ini yang sudah terlindung dari luar oleh dekingan Urang Bagak yang disebut parewa.
​Siapa parewa? Teknologi parewa sudah lebih canggih dari penegak hukum pemerintah, pelindung adat (Paga Nagari), atau bahkan CIA sekalipun. Memata-matai, membunuh, menjarah, membantai adalah sudah menjadi makanan sehari-harinya. Ilmu pengetahuan yang masuk ke luar masuk nagari terbatas karena ketatnya pengawasan mereka, masyarakat ditekan dalam kebodohan, dan mereka merdeka dalam itu. keluarga parewa memiliki kebebasan hidup dalam status yang kaya raya, anak keluarga mereka aman hidup dan bebas menuntut ilmu keluar daerah. Sedangkan warga sipil yang tak berdaya hanya mampu menyekolahkannya anak mereka sampai SMU saja.
​Terbangun dari mimpi yang tidak jelas Farhis termenung sesaat mengingat kembali mimpinya.
​“Ruangan yang menyilaukan mata, puluhan atau mungkin ratusan orang yang tak aku kenali satu orang pun. Kemudian seseorang yang tak bisa aku melihat wajahnya memberikan benda itu kepadaku, kemudian aku menyimpannya kedalam saku celanaku” Dirogohnya kantong celananya kemudian dia menemukan benda seperti batu itu.
​“Benda apa ini?” Dilihatnya kembali batu itu, kemudian dia melihat kearah jam dinding usang di kamarnya itu. Disimpannya batu itu lalu beranjak dari katil seraya bergegas pergi ke kamar mandi. Seperti biasanya dia selalu menyiapkan sarapan untuk dia berdua dengan ayahnya yang masih terbaring sakit.
​“ Seorang lagi dari Jorong Lubuk Dalam”.
​“Kalau cuma Kemenakan Mak Itam itu akan mudah bagi kita untuk menghabisinya, ini juga akan berpengaruh kepada serangan kita ke jorong baringin” Semua orang di tempat itu menggunakan baju serba hitam, terikat pada lengan kanan mereka masing-masing kain hitam berlogo bujur sangkar putih.
“... namanya Laila murid angkatan ke IV terbaik di perguruan Harimau Sakti, aku yakin Inyiak sudah mengajari Gumam Batin kepada anak itu...”
“begitu... Keadaan itu akan jadi masalah jika memang anak itu merencanakan bergabung bersama Paga Nagari...”. Pembicaraan Laila dan Granti malam itu menjadi petaka bagi keduanya. Bagi kelompok parewa, paga nagari saat ini bukanlah apa-apa tapi jika harus ada bantuan dari perguruan Harimau Sakti itu akan menjadi sulit. Harimau sakti adalah tempat dari sebagian besar anggota kelompok parewa menimba ilmu silat dan kebatinan, mereka tau seperti apa jika ada tandingan mereka masuk ke organisasi paga nagari.
Misteri keberadaan bayangan putih sudah mulai terkuak, keinginan atas perdamaian dan keadaan yang seperti sediakalanya, impian-impian dari semua masyarakat jorong dan nagari. Cita-cita bayangan putih untuk menyatukan anak-anak yang mempunyai kebersihan hati untuk bersatu membela pihak yang berada pada kebenaran.
Setelah dua bulan berlalu Laila dan Granti sudah mengajukan pendaftaran ke Paga Nagari, sudah bulat tekad keduanya untuk mengikuti organisasi pelindung nagari itu. Sesudah pendaftaran itu tinggal menunggu waktunya saja untuk mengikuti tes masuk. Kelompok parewa sudah mengetahui hal ini, malam harinya terjadi serangan ke perguruan Harimau Sakti saat itu para pemuda pemudi nagari batang sedang sibuk latihan seperti biasanya. Kelompok ini berhasil di usir keluar dari perguruan, namun banyak murid yang terluka dan ada 2 orang yang meninggal saat melakukan perlawanan, ini menjadi duka bagi murid perguruan Harimau Sakti. Parewa tidak berhasil mendapatkan Granti dan Laila. Usaha pertama kelompok parewa gagal.

CHAPTHER FIVE
MIMPI PAGA NAGARI(Page12-14)

Sebagian besar murid perguruan kesal dengan kelompok parewa, kemudian perwakilan dari Harimau Sakti mengunjungi Paga Nagari dan mengadakan pembicaraan, mereka mempertanyakan tentang paga nagari yang tidak berdaya saat perguruan Harimau Sakti diserang, mereka merasa kecewa dengan paga nagari atas serangan kemaren malam itu. Kemudian perwakilan dari paga nagari muncul dengan pendapat nya dan menyesalkan atas kejadian malam itu. Dari perdebatan panjang itu akhirnya paga nagari memberikan data tentang penyebaran parewa di nagari batang. Paga Nagari(PN) mau ikut membantu menyerang balik ke perkampungan para Parewa.
Tidak menunggu waktu yang lama, malam harinya di perguruan Harimau sakti sudah berkumpul sekelompok murid dan beberapa anggota PN. Malam itu juga perkampungan Kelompok Parewa dibumihanguskan berdasarkan peta dari data yang diberikan PN. Seolah semua kekesalan murid peguruan Hasimau Sakti sudah berhasil dilampiaskan.
Mak Itam dan Mak Kari, dua mamak (sebutan bagi saudara laki-laki dari ibu di minangkabau) bagi Granti yang kontan. Keduanya memiliki pribadi yang berbeda, Mak itam sosoknya tinggi besar dengan kulit berwarna hitam sesuai panggilannya. Profesinya sebagai tuan tanah di Nagari Batang dikenal karena kekayaannya yang tersohor. Semua petani di nagari Batang sudah pasti cuma bisa menyewa tanahnya dan persawahan yang dia miliki untuk bertahan hidup. Mak itam memiliki sifat rakus terhadap harta, rasa puas yang tidak pernah ada. Sifat temperamental nya serta juga ingin menguasai hak milik orang lain membuat dia menjadi seseorang yang ditakuti, namun dalam status yang dia miliki sebagai seorang bangsawan dia tidak memiliki rasa aman dalam dirinya oleh karena itu dia selalu didampingi algojo dan pengawalan yang ketat dari anak buahnya.
Lain pula dengan mak kari, adik laki-laki Nasti (Ibu Granti) ini merupakan anak bungsu yang selalu dimanja di waktu kecilnya, sehingga tidak ada yang menyangka sifat egois telah melekat erat dalam perilakunya sehari-hari, profesinya sebagai seorang Urang Siak (Sebutan orang alim di minang kabau) telah menutup jati dirinya sebenarnya sebagai seorang pembunuh. Rahasia yang hanya orang persukuan yang mengetahuinya.

Farhis, Laila dan Granti dinyatakan lulus menjadi anggota Paga Nagari yang baru. Meskipun ketiganya tidak ikut dalam pembakaran tempat Kelompok parewa namun Paga nagari sudah yakin 3 orang didikan terbaik dari Harimau Sakti itu mampu menaikkan kembali semangat Paga Nagari menjadi pelindung Nagari.
Farhis semakin penasaran dengan batu yang waktu itu diperolehnya, Istilah the stone pertama dia menyebutnya kemudian farhis kembali mencoba untuk berkonsentrasi pada batu itu. Sekejap mata dia masuk keruangan bawah sadarnya seperti sediakala dia bermimpi. Ruangan itu ramai dengan orang namun tidak satu pun orang yang dia kenali. Bayangan Putih menghampirinya melalui mimpi dalam bentuk sebenarnya seorang perempuan dengan tanda bulan sabit di keningnya. “Inilah ruang tingkat satu dari makhluk hidup, kamu dapat berbicara dengan siapa saja yang ada disini dan bertanya tentang apa saja yang mereka ketahui”. Kemudian Farhis tersadar dalam keadaan itu tangan kirinya sudah terpasang peralatan aneh yang berbentuk sarung tangan punggung baja dengan bagian tengah berupa sebuah kubah cahaya berwarna merah terang. “Keren, sarung tangan ini bagus sekali”. Farhis menyembunyikan sarung tangan yang baru saja didapatkannya tadi di dalam lemari pakaiannya.
Paginya disekolah waktu jam istirahat pertama, seperti biasanya Farhis cuma duduk sendirian bangku samping kelasnya, pada saat itu biasanya siswa SMU akan bergegas memanfaatkan waktu yang sedikit itu untuk mengganjal perut bagi yang tidak sempat untuk sarapan ketika akan berangkat kesekolah. Farhis hanya termenung sendiri, memang sejak kematian ibunya dia lebih suka menyendiri. Dengan iseng Laila berhasil mengagetkan Farhis yang larut jauh bersama lamunannya.
“Yah belum siang sudah banyak melamun aja, ada masalah apa?”
“Gak ada masalah Laila, mungkin karena kurang istirahat aja”
“Bohong nih, Laila bisa baca fikiran kamu, ayo…Far, nih ada kue kalau mau ambil aja” Laila mengeluarkan kantong plastic berisikan jajanannya tadi dari kantin.
“apa pendapatmu tetang mimpi Laila”
“mimpi itu tandanya kita tidur, adakala orang bilang mimpi itu bunganya tidur, dan ada lagi orang billing mimpi itu kebalikan dari kenyataan”
“apa yang kamu lakukan jika mimpi menjadi kenyataan”
“aku akan bahagia”

“jika mimpi benar kebalikan dari kenyataan berarti sekarang kamu tidak bahagia? hehe”
Laila hanya terdiam, difikirannya hanya memimpikan dimasa depannya bisa bersama orang seperti Farhis, kemudian dia tersenyum sendiri.
“ini kemarin ada mimpiku yang menjadi kenyataan” laila menunjukkan batu yang sama dengan yang dimiliki farhis perbedaannya cuma laila memiliki batu berwarna biru.
“the stone, bagaimana kamu juga memilikinya?”
“jiga memiliki? Maksud kamu apa?”
“ini bayangan putih yang memberikan kepadaku melalui mimpi dua malam yang lalu, sudah ku buang namun batu ini kembali lagi datang padaku” Laila sekarang serius memikirkan mimpinya saat itu.
“Bayangan putih itu maksudmu sosok cahaya dengan bulan sabit di keningnya, aku juga memiliki the stone, bahkan kemarin aku juga mendapatkan sarung tangan baja dari bayangan putih.”
“Pejamkan mata kepalkan tangan kemudian saat fikiran fokus pada batu ini, batu ini kembali lagi…aneh ya Far padahal sudah aku buang kemaren”
“Jadi begitu…” Farhis memejamkan matanya kemudian melakukan seperti yang pernah dilakukan Laila.
“Kamu ternyata benar” the stone merah milik farhis kembali ke genggamannya, padahal seharusnya berada di rumah didalam sarung tangan besi itu.
“Entah untuk apa ini aku tidak tau, ya sudahlah kusimpan saja ”
“Memanggil sarung tangan besi seperti punyaku, mungkin!?!?”Kata farhis menyela
“Aku ke kelas dulu ya udah bel”
“OK, Jajanannya gak dibawa?”
“Semua buat kamu, dah ya”
“Terima kasih” Sedekat ini dengan orang paling cerdas di Nagari Batang merupakan pengalaman istimewa hari ini. Seolah lebih dari mimpi terindah, walau tidak tefikir menjadikan teman dekatnya paling tidak farhis sudah mendapatkan kesempatan berbicara empat mata bersama Laila Fauzania sang siswa teladan.

CHAPTHER SIX

GARIS DARAH PENGHABISAN(page16-18)

​Hari Sabtu selesai subuh, Granti hanya sendiri di rumah, tante Erza kembali dari dinas luar kota nya malam harinya jam 22. Kehausan granti meminum air yang dia masak sendiri, kerongkongannya kering setelah membaca hafalan ayat buat nanti lomba pidato disekolah. Tak disangka dia keracunan dan pingsan.

​Kesempatan ini digunakan oleh dua orang berpakaian seperti parewa membawa granti dan menyekap granti yang masih dalam keadaan pingsan dalam sebuah gudang tua.

​Pagi hari sabtu itu Sekolah pun diserang Kelompok parewa, banyak siswa yang terluka komentar ruang kelas berantakan dan kaca jendela pecah. Farhis masih bertarung untuk mempertahankan sekolah. Laila belum bisa dengan cepat mengeluarkan Commoarm dengan reflek tangan kirinya memblok sayatan pedang Kelompok sadis itu akhirnya laila terluka dan tulang hasta kiri nya patah terkena oleh pedang penjahat itu. Farhis menyelamatkan laila di detik-detik terakhir dia hampir dihabisi.

​“Bertahanlah La! Ada lihat Granti?”

​“Granti, gak masuk dari pagi” Begegas anggota uks menolong Laila membawa ke posko.

​Korban terus berjatuhan guru-guru banyak yang terluka. Regu UKS bergegas menyelamatkan siswa dan guru yang terluka. Kebrutalan terus terjadi namun akhirnya semua parewa berhasil di pukul mundur oleh farhis dan rekan-rekan nya yang sama latihan di tempat pak datuak.

​Rumah Farhis diserang, Ayah Farhis meninggal karena dianiaya kelompok Parewa Commoarm Farhis dicuri. Hujan dari siang menjelang sore Sabtu itu. Semua masalah sekaligus menimpa pemuda itu, air mata yang mengucur deras. Sebuah pemandangan yang mengharukan dalam Nagari. Mengetahui kabar bahwa ayah farhis sudah diserang di kediamannya Laila memaksakan diri untuk membawa dirinya yang masih sakit itu ke kediaman farhis. Suasana belasungkawa begitu tulus dari seorang pengagum rahasia, bacaan yasin dari laila sudah mengurangi luka perih di dalam sanubari seorang farhis.

​“Kemana Granti?” Laila semakin resah tidak ada kabar dari Granti hari ini, teman sejolinya itu tak terlihat batang hidungnya dari tadi pagi. Dalam lantunan yasin dia mengingat granti kemudian Laila tiba tiba pingsan. Farhis melihatnya dan bergegas melihat laila yang pingsan itu kemudian memindahkan tubuh laila yang pingsan itu agak ke tepi ruangan. Denyut nadi laila berhenti, detak jantung Laila terdengar namun melemah.

“jika sampai ini terjadi aku tidak akan merelakan satu orang parewa pun hidup di bumi, Aku bersumpah akan menghabisi kau parewa” raungan farhis seolah memberikan emosi seisi ruangan kemudian datang seorang pelayat yang menenangkan farhis.

Granti sampai tengah malam ini masih saja dalam alam bawah sadarnya, Laila bertemu dengan Granti di dalam Space alam bawah sadar.

“Granti”

“Laila, aku dimana apa aku sudah mati”

“Disini kamu didekat ku, kamu ada di alam bawah sadar”

“Aku ingin keluar dari sini tapi tidak ada pintu di luar, bagaimana apa aku akan terjebak dalam sini selamanya?”

“Kita akan keluar bersama-sama”

Pak datuak, guru silat farhis datang kerumah farhis. Dia menceritakan tentang penculikan Granti oleh kelompok yang yang berkostum seperti para parewa. Mak itam dan mak kari yang juga hadir dalam suasana duka itu juga mendengar cerita dari pak datuak.

Mak itam pamit keluar dari rombongan takziah kemudian bersegera pergi entah kemana. Tak lama berselang mak kari juga minta izin pamit dari rombongan.

“Sudah dimulai ternyata” gumam mak kari dalam hati.

Tante erza pulang dari dinas luar kotanya, lebih cepat dari biasanya mungkin karena ada firasat kepadanya, dia bisa meminta pulang lebih cepat kepada atasannya. Di rumah dia mendapati keadaan yang berantakan serta sebuah tulisan pada secarik kertas yang diletakkan diatas meja ”Granti akan mati malam ini” yang di himpit dengan bekas gelas minum Granti tadi pagi. Ini mengingatkannya akan kematian Nasti, ibu Granti 16 tahun yang silam. Tante erza tau siapa pelakunya, bergegas dia kembali menunggangi kuda besinya dan langsung menuju tempat dimana Nasti dibunuh.

“nggak untuk kedua kalinya koh da” diulang ulangnya membaca kata itu seolah-olah kejadian Nasti akan terjadi pada Granti.

----

CHAPTHER SEVENTH 

CERITA TANTE ERZA(Page 19-22)

“Erza ada urusan apa kau kesini, mengantarkan nyamu sendiri?”kata Mak Itam

“Granti tidak ada hubungan dengan Nasti jadi lepaskan dia”

“Erza apa kau tidak tau, suami mu adalah anggota parewa. Pemabuk dan Pejudi itu sebenarnya tak punya kesempatan untuk dihargai secara akal sehat”

“Lebih baik jika tak mengalihkan pembicaraan, sebelum semuanya terjadi. Aku akan menjelaskan kebenarannya”

“Erza, pembual sepertimu sama saja seperti suami mu tak pantas dipercaya”

Dialam bawah sadar Granti masih bersama Laila yang kemudian didatangi oleh bayangan putih yang menjelaskan tentang Granti.

“Granti apapun yang terjadi nanti terhadapmu, kamu tetap Granti putri Nasti yang tegar” Bayangan putih kemudian menjelma menjadi Nasti kemudian memeluk Granti sebagai penguatan mentalnya menerima kenyataan.

Granti tersadar dalam keadaan penuh cucur darah sayatan dan luka lebam, tangan yang terikat dan sarung tangan besi yang tiba-tiba ada di tangan kirinya.

“Ibu!” dia menitikkan air mata.

“Dimana aku?” Dia heran ketika terbangun dari pingsan itu

Laila tersedak dan bangun dari mati suri nya, jemaah yang menghadiri takziah di kediaman Farhis pun serentak terkejut karena meyakini Laila sudah tiada. Karena detak jantungnya sudah berhenti.

“Astagfirullah”

“Granti baik-baik saja Far, tadi aku menemuinya dia sudah kembali”

“istirahatlah terlebih dahulu, kondisimu masih lemah”. Farhis masih heran melihat Laila yang kembali dari mati suri nya.

“ Apa jika masuk ke alam bawah sadar aku juga seperti Laila? Akan kehilangan detak jantung?” Farhis bertanya sendiri dalam hati.

“Saat kelahiran putrinya Nasti di rumah sakit, bayinya hilang. Nasti memiliki anak perempuan kembar namun keduanya menghilang, seseorang mencurinya. Disaat itu ada pedagang miskin dari Riau yang juga memiliki anak perempuan mendengar tentang itu kemudian menitipkan anaknya kepada Nasti, nasti merasa sedikit terobati kesedihannya. Dan menganggap anak itu adalah anaknya sendiri pengganti anak kembarnya yang hilang.”

“Bagaimana aku bisa percaya dengan omongan mu itu?”

“Jika tak keberatan Tes DNA bisa dilakukan, seseorang yang dekat hubungan keluarganya nya struktur DNA nya akan memiliki kesamaan ”

Tante erza memang salah seorang yang cukup intelek tentang masalah itu karena pekerjaannya yaitu seorang petugas labor salah satu rumah sakit di Bukittinggi. Dari balik ruangan tempat Granti disekap terdengar pembicaraan mereka berdua, granti hanya menangis.

“Tetap aku akan membunuh semua yang berhubungan dengan persukuan ini, biarlah suku ini dianggap punah sekalipun” kata orang itu dengan lantang.

“Mak Itam!” dalam hatinya menyebut nama orang yang sudah dia anggap mamaknya itu. Granti tak menyangka mamaknya sendiri dibalik semua kejahatan ini. Keserakahan atas harta memang sudah membutakan mata mamak nya itu.

Granti tetap terperangkap dalam ruangan itu walau sekarang ikatan ditangannya sudah terlepas. Dia yakin, meski dia sanggup keluar dari ruangan itu tetap akan mustahil untuk keluar karena diluar ruangan masih ada terlihat beberapa pintu lagi yang harus dilewati. Di setiap pintu terdapat pengamanan dari algojo dan anak buah mak itam, tidak akan bisa lolos.

Pagi harinya Granti menunggu anggota muda Paga Nagari di halaman beranda kantor pusat Paga Nagari Batang. Tidak ada perasaan yang aneh pada dirinya, tetap dia ingin seperti sediakala hidup sebagai seorang periang. Seragam PN terpapar di tubuh remajanya, Commoarm dengan percaya diri

​terpasang di tangan kiri sebagai tekad nya yang kuat untuk menjadi bagian dari pasukan penjaga Nagari Batang

“Alhamdulillah kamu selamat Ti”

“Iya, aku berhutang budi sama agen Lunar dan agen Rittle yang sudah datang menyelamatkan”

“Habis Inagurasi ini kita ke pemakaman ayahnya Farhis ya”

“Yee lah yang udah jadian… Bagaimana keadaan tanganmu?”

“Sudah gak apa-apa, seminggu lagi mungkin sudah menyatu kembali tulangnya” Kemudian Laila menanyakan kembali masalah orang yang menyelamatkannya. Ternyata Lunar dan Rittle adalah agen Gemmanallarexa yang sudah lebih senior dari mereka, kemampuan mereka tak hanya telepati saja tetapi juga teleportasi dan juga persenjataan yang canggih. Mereka datang seperti alien yang keluar melalui portal ruang dan waktu. Selain itu tak banyak yang diketahui Granti tentang mereka karena waktu nya yang sangat cepat, dan juga granti sudah mendapatkan sedikit bocoran tentang masa lalunya. Walaupun Granti hanyalah seorang anak angkat dari ibu Nasti tapi dia tetap ingin menjadi bagian dari persukuan, dan semangatnya untuk menjadi Pelindung Nagari Batang. SEKIAN

Catatan:

Telepati adalah gejala alamiah, semua manusia memiliki kekuatan telepati tetapi hanya manusia yang tidak membatasi daya imajinasi dan emosi di otak sebelah kanannya yang mampu melakukan telepati dengan baik. Telepati bukanlah sihir tetapi merupakan kecerdasan metafisika. Sebagian manusia hanya menggunakan otak kiri logis dan ilmiah, tanpa mau mengembangkan kemampuan otak kanan intuitif dan imajinatif

GMX (GemmaNallareXa), sebutan bagi orang yang memiliki daya telepati diatas rata-rata, kemudian direkrut oleh pihak investigator yang disebut bayangan putih.

Space (Ruangan tingkat 1 alam bawah sadar makhluk hidup), merupakan keadaan dimana seseorang akan mengalami mati suri atau koma sesaat memasuki Space. Space di gunakan untuk berkomunikasi antar GMX.

Commoarm (Alat Nomor 001), Digunakan sebagai peluncur tercepat seorang GMX memasuki alam bawah sadar (Space), alat ini juga digunakan sebagai radar petunjuk mengenai aura energy positif dan negatif. Terpasang pada tangan sebelah kiri seorang GMX bisa juga digunakan sebagai tameng saat pertempuran terjadi, karena material Commoarm yang ringan dan keras melebihi baja bintang.

The Stone (batu), merupakan penggerak dari commoarm, the stone tidak bisa dicuri atau dibuang karena akan selalu kembali ke pemiliknya, sementara commoarm dapat dicuri atau dibuang, namun akan kembali saat seorang GMX kembali dari Space.

Progem/Stone Fitting, merupakan bagian tengah dari commoarm, tingkatan daya telepati dari seorang GMX.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Kelahiran Granti

Sebuah Catatan Usang (2015) edisi revisi 2026

Nasti