Virtual Infidelity (2023)

Palangkaraya, tahun 2014

Timeline info:

1985

Farhis lahir

Rittel lahir

1986

Granti lahir

Anna lahir

Laila lahir

2004

Tsunami Aceh

Rittel kehilangan orang tua

2014

Gemmanallarexa: Virtual Infidelity

Rittel usia 29

Anna usia 28

Granti usia 28 (sudah dewasa)

Laila usia 28


---


Gemmanallarexa : Virtual Infidelity (2023)



PART 1 : The Rittel


Malam itu hujan turun tipis di kota kecil Kalimantan. Lampu neon warnet tua di ujung jalan masih menyala terang, dipenuhi suara kipas CPU dan dentingan keyboard. Di sudut paling belakang, seorang pria bertubuh besar dengan rambut keriting duduk membungkuk di depan tiga monitor.


Dialah Teuku Ghifari, atau yang dikenal di dunia digital sebagai Rittel.


Warnet itu bukan sekadar tempat bermain baginya. Itu adalah sawah, ladang, akademi, dan kantornya. Dari tempat itu, Ghifari hidup—menjual NFT, membangun script, dan mengelola jaringan bawah tanah yang bahkan tidak diketahui banyak orang.


Malam itu, seseorang datang menghampirinya.


“Ghifari?”


Ia menoleh. Seorang wanita paruh baya berdiri sambil membawa flashdrive kecil.


“Bu Butet?”


Itu adalah guru PPKn lamanya semasa SMA.


“Aduh, syukurlah ketemu kamu. Flashdrive ibu kena virus. Banyak file penting di situ. Bisa tolong cek?”


Ghifari mengambil flashdrive itu dan memasangnya ke salah satu terminal.


“Bentar ya, Bu.”


Jarinya bergerak cepat.


Sistem scan berjalan. Virus berhasil dibersihkan.


Namun ada sesuatu yang aneh.


Folder tersembunyi.


File yang sudah dihapus.


Ghifari mengernyit.


“Hmm...”


Dengan software recovery miliknya, ia membuka file itu.


Matanya langsung membesar.


Foto. Video. Backup percakapan ChatApps.


Skandal tahun 2019.


Hubungan gelap.


Seorang pria dewasa dengan anak angkatnya sendiri.


“Gila...” gumam Ghifari.


Ia menutup file itu.


Ini bukan urusannya.


Tapi nalurinya sebagai hacker tidak bisa berhenti.


Sesuatu terasa salah.


Ia mengambil ponsel dan menghubungi partner lamanya.


Tak lama kemudian, di sebuah kafe kota, Lunar Zenetity (Anna) sedang menikmati kopi.


Ponselnya bergetar.


Rittel calling.


“Kenapa?”


“Kasus.”


Anna tertawa kecil.


“Lu kalau nelpon gue malam-malam pasti bikin ribet.”


“Guru lama gue datang ke warnet. Minta recovery flashdrive. Gue nemu file yang harusnya nggak gue lihat.”


“Apa?”


“Skandal keluarga. Tapi ada pola transfer uang aneh. Ada kemungkinan ini lebih besar dari sekadar perselingkuhan.”


Anna terdiam.


“Kirim.”


Ghifari mengirim data.


Beberapa detik.


Anna membaca.


Lalu ekspresinya berubah.


“Ini bukan sekadar zina.”


“Apa?”


“Nama yang muncul di transfer ini... terhubung ke jaringan WSA.”


Ghifari mematung.


Berarti ini bukan masalah rumah tangga biasa.


Ini infiltrasi.


Seseorang menggunakan hubungan gelap untuk mencuci uang dan memindahkan data.


“Lu mau lapor polisi?” tanya Anna.


Ghifari menyandarkan tubuhnya.


“Kalau gue lapor biasa, kasusnya hilang.”


Anna berdiri.


“Berarti kita ambil jalur GMX.”


Monitor Ghifari mendadak berkedip.


Firewall-nya ditembus.


Seseorang sedang melacak IP-nya.


Ghifari tersenyum tipis.


“Telat.”


Dengan cepat ia mengaktifkan masking chain.


IP warnet berubah, pecah menjadi puluhan jalur palsu.


Musuh mengejar bayangan.


Anna tersenyum di seberang telepon.


“Masih suka main kabut ya.”


Ghifari menjawab singkat.


“Bukan kabut. Ini ladang gue.”


Di layar, satu nama muncul:


> VIRTUAL INFIDELITY INITIATED


PART 2 : The Chosen One

Di ruang virtual The Space, Rittel berdiri sambil menatap data yang diproyeksikan di udara. Di sampingnya, Lunar Zenetity (Anna) membaca hasil sadapan.

“Kasus ini gak sesederhana perselingkuhan,” kata Anna.

Rittel menyilangkan tangan.

“Jelas. Ada pola transfer ke jaringan WSA.”

Anna mematikan layar.

“Kita perlu bawa seseorang.”

“Siapa?”

Anna menjawab singkat.

“Lousiyana Granti Azzhura.”

Rittel mengernyit.

“Lou Granti?”

Anna mengangguk.

“Dia bisa baca pola emosional. Ada sesuatu dalam kasus ini yang gak bisa dibaca mesin.”

Rittel kesal.

Di kepalanya, satu nama lain muncul:

Laila Fauzania.

Sejujurnya, Rittel lebih ingin Laila ikut. Gadis itu cerdas, berani, dan selalu berhasil menarik perhatiannya.

Tapi Anna sudah memutuskan.

“Lu bakal ngerti nanti,” kata Anna.


PART 3 : Silvina

Di sisi lain kota, seorang gadis bernama duduk diam di kamarnya.

Lampu kamar sengaja dimatikan. Hanya cahaya redup dari layar ponselnya yang sesekali menyinari wajahnya.

Matanya sembab.

Sudah tiga malam ia sulit tidur.

Sejak diangkat menjadi anak oleh , kepala sekolah SMA 69 Borneo, hidupnya berubah.

Setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun lalu, rumah itu menjadi tempat baru baginya.

Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan.

Tempat untuk memulai hidup baru.

Dan selama bertahun-tahun, memang begitu adanya.

Adrian memperlakukannya seperti anak sendiri.

merawatnya dengan penuh kasih.

Tak pernah ada yang kurang.

Pakaian.

Sekolah.

Makanan.

Semua tercukupi.

Namun beberapa bulan terakhir, semuanya terasa berbeda.

Ada sesuatu yang berubah.

Dan Silvina merasakannya.

Ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk.

Dari nomor yang sangat ia kenal.

Ia menatap layar itu cukup lama.

Tangannya gemetar.

Lalu layar kembali gelap.

Ia tidak membalas.

Di luar kamar, suara langkah kaki terdengar mendekat.

Tok.

Tok.

Tok.

“Silvi?”

Suara Ibu Butet terdengar lembut dari balik pintu.

“Kamu belum makan dari tadi siang.”

Silvina mengusap air matanya cepat-cepat.

“Aku nggak lapar, Bu.”

Pintu terbuka perlahan.

Ibu Butet masuk membawa sepiring nasi.

Tatapannya langsung tertuju pada meja belajar yang berantakan.

Buku terbuka.

Kertas ujian.

Nilai merah.

Beberapa lembar diremas.

Ibu Butet menarik napas panjang.

“Ada apa sama kamu, Silvi?”

Silvina menunduk.

“Tidak ada.”

“Jangan bohong sama ibu.”

Nada itu lembut.

Tapi cukup untuk membuat dada Silvina sesak.

Nilainya merosot.

Prestasinya turun drastis.

Ia sering melamun di kelas.

Sering pulang terlambat.

Dan kadang mengunci diri sampai pagi.

Semua itu tak luput dari perhatian.

“Apa ada yang ganggu kamu di sekolah?”

Silvina menggeleng.

“Kalau ada masalah, cerita.”

Sunyi.

Hanya suara kipas angin tua yang berputar pelan.

Ibu Butet duduk di samping ranjang.

Tangannya mengusap kepala Silvina seperti dulu.

Gerakan sederhana itu justru membuat mata Silvina memanas.

Ia ingin bicara.

Ingin mengaku.

Ingin mengatakan semuanya.

Tapi lidahnya kelu.

Karena sekali ia bicara...

semuanya akan hancur.

Rumah ini.

Keluarga ini.

Dan perempuan yang duduk di sampingnya sekarang.

“Aku capek, Bu...” bisiknya.

Ibu Butet terdiam.

Capek.

Satu kata yang menyimpan terlalu banyak hal.

Malam itu, Ibu Butet keluar kamar dengan perasaan tak tenang.

Di ruang tengah, sedang duduk membaca berkas sekolah.

“Apa katanya?” tanya Adrian tanpa mengangkat wajah.

“Dia nggak cerita apa-apa.”

Adrian mengangguk pelan.

“Tingkahnya makin aneh.”

Butet menatap suaminya.

“Kamu sadar nggak? Nilainya turun semua.”

Adrian akhirnya mengangkat kepala.

“Mungkin cuma stres.”

“Stres karena apa?”

Adrian terdiam.

Butet merasa ada sesuatu yang aneh dari sorot mata suaminya malam itu.

Seperti menyimpan sesuatu.

Tapi ia tak tahu apa.

Di dalam kamar, Silvina kembali menatap ponselnya.

Puluhan pesan belum dibaca.

Satu folder terkunci tersimpan di memorinya.

Berisi sesuatu yang tak boleh dilihat siapa pun.

Sesuatu yang bisa menghancurkan hidupnya.

Atau menghancurkan seseorang.

Tangannya menyentuh ikon folder itu.

Namun ia urung membukanya.

Lalu ia mematikan layar.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya—

Silvina berharap pagi tak pernah datang.

---


PART 4 : Diki


Hujan turun tipis sore itu.


Halaman rumah Adrian basah oleh gerimis ketika seorang perempuan datang dengan membawa seorang pemuda di sampingnya.


Perempuan itu adalah Sikai.


Di sampingnya berdiri seorang lelaki muda bertubuh kurus tinggi, mengenakan jaket lusuh dan membawa tas ransel hitam.


Namanya: Diki.


Baru lulus sekolah.


Dan baru diterima di sebuah kampus di Borneo.


Pintu rumah terbuka.


Adrian muncul.


“Masuk.”


Sikai menunduk hormat sebelum melangkah masuk.


Di ruang tamu, Ibu Butet sudah menyiapkan teh hangat.


Suasana terasa canggung.


Sikai menggenggam tangannya erat, seakan menahan rasa malu.


“Pak Adrian...” suaranya lirih.


“Saya titip anak ini.”


Adrian menatap Diki.


Pemuda itu hanya menunduk.


“Saya nggak sanggup lagi biaya sekolahnya,” lanjut Sikai.


“Kalau dia tetap di kampung, saya takut masa depannya habis begitu saja.”


Butet menatap Diki dengan iba.


“Kamu lulus masuk kuliah?”


Diki mengangguk pelan.


“Iya, Bu.”


“Jurusan apa?”


“Teknik Informatika.”


Adrian mengangkat alis.


“Pinter main komputer?”


Sedikit senyum muncul di wajah Diki.


“Lumayan.”


Adrian tertawa kecil.


“Bagus.”


Butet melirik suaminya.


“Kita punya kamar kosong.”


Adrian mengangguk.


“Tinggal saja di sini.”


Wajah Sikai langsung lega.


“Terima kasih... saya nggak tahu harus balas apa.”


“Masa keluarga sendiri dihitung-hitung,” jawab Butet lembut.


Diki akhirnya mengangkat wajah.


Rumah itu terasa besar.


Rapi.


Hangat.


Berbeda dengan tempat-tempat yang selama ini ia singgahi.


Lalu dari arah tangga, langkah kaki terdengar.


Silvina turun perlahan.


Wajahnya pucat.


Matanya sembab.


Ia berhenti saat melihat ada tamu.


“Oh, ini Diki,” kata Butet.


“Mulai sekarang dia tinggal di sini.”


Silvina menatap pemuda itu beberapa detik.


Diki membalas tatapan itu.


Ada sesuatu yang aneh.


Bukan rasa suka.


Bukan rasa asing.


Tapi seperti dua orang yang sama-sama membawa beban.


Silvina mengangguk kecil.


“Salam kenal.”


Diki membalas singkat.


“Iya.”


Hanya itu.


Namun Adrian memperhatikan semuanya dalam diam.


Tatapannya bergerak dari Diki... lalu ke Silvina.


Sesaat.


Lalu kembali biasa.


Malam itu Diki menempati kamar di ujung lorong.


Kamar kecil dekat gudang.


Tidak mewah.


Tapi cukup.


Ia membuka laptopnya.


Layar menyala.


Puluhan folder coding.


Beberapa file sistem.


Dan catatan kampus.


Hidup baru dimulai.


Namun dari balik dinding tipis rumah itu, suara tangis pelan terdengar.


Diki menghentikan jemarinya.


Ia menoleh ke arah tembok.


Kamar Silvina.


Ia tak tahu apa yang terjadi.


Tapi satu hal pasti—


rumah ini tidak setenang yang terlihat.


Dan tanpa ia sadari...


langkah pertamanya masuk ke rumah itu adalah awal dari rantai masalah yang jauh lebih besar.

BAB 5 — Leak

Ruang utama The Room dipenuhi cahaya hologram biru. Di tengah ruangan, Rittel duduk di depan tiga monitor besar, sementara Lunar Zenetity (Anna), Lousiyana Granti Azzhura, dan bayangan putih berdiri memperhatikan.

“Semua data sudah gue tarik,” kata Rittel sambil memunculkan folder bernama LEAK_0914.

Satu per satu isi file terbuka.

Pertama: riwayat ChatsApp antara Silvina dan Adrian.

Kata-kata mesra. Rayuan. Permintaan bertemu. Ancaman.

Lalu muncul file kedua.

Video.

Granti menahan napas.

“Itu...” gumamnya.

Rittel menjelaskan, “Video ini direkam Silvina. Awalnya dikirim ke Diki.”

Anna mengernyit.

“Jadi Adrian bukan orang pertama?”

“Bukan.”

Lalu muncul rekaman log penyadapan.

Adrian menemukan chat Diki dan Silvina melalui perangkat rumah.

Dari sana Adrian menyimpan video itu diam-diam.

“Lalu dia mulai meneror Silvina,” kata Rittel.

Anna mengepalkan tangan.

“Bajingan.”

Rittel melanjutkan.

“Tidak ada kontak fisik yang berhasil. Adrian gagal mendapatkan tubuh Silvi. Tapi dia pakai video ini buat mengontrol mentalnya.”

Lalu layar ketiga terbuka.

Foto.

Foto Adrian sedang memeluk seorang wanita lain di hotel.

Bukan Silvina.

Anna terdiam.

“Siapa ini?”

Rittel menatap layar.

“Ini rahasia terakhir.”

Granti membeku.

“Berarti selama ini Adrian bukan cuma main dengan Silvi?”

“Benar.”

Rittel membuka file terakhir.

Rekaman transfer uang.

Nama penerima:

WSA Network

Ruangan mendadak sunyi.

Anna menatap tajam.

“Dia menjual data sekolah?”

“Bukan cuma itu,” jawab Rittel.

“Dia menjual identitas murid.”

Granti menutup mulutnya.

Silvina ternyata hanya satu korban dari sistem yang lebih besar.

“Jadi semua ini...” kata Anna.

“Hanya pintu masuk,” jawab Rittel.

Bayangan putih akhirnya bicara.

“Ini bukan sekadar perselingkuhan.”

“Ini perdagangan manusia digital.”

Dan malam itu, kasus berubah menjadi operasi penuh.

BAB 6 — The Resolve

Subuh.

Silvina duduk sendiri di terminal bus, memegang flashdisk kecil.

Di dalamnya ada seluruh “kartu joker”.

Tiba-tiba seseorang duduk di sampingnya.

Granti.

“Aku tahu semuanya.”

Silvi terdiam.

“Aku nggak datang buat menghakimi.”

Air mata Silvi jatuh.

“Aku cuma pengen punya keluarga...”

Granti menggenggam tangannya.

“Dan kamu pantas punya itu. Bukan ini.”

Di sisi lain kota, Anna memimpin operasi penangkapan.

Adrian baru keluar dari rumah kosong saat suara terdengar:

“Pak Adrian. Kami punya surat penangkapan.”

Adrian membeku.

“Apa tuduhannya?”

Anna melempar foto, video, dan data transfer.

“Pemerasan. Penyalahgunaan data. Perdagangan identitas.”

Adrian mencoba lari.

Namun portal terbuka.

Rittel muncul.

“Game over.”

Satu tembakan EMP dari CommoArm melumpuhkan seluruh perangkat Adrian.

Semua data terkunci.

Semua jalur pelarian tertutup.

Di rumah sakit, Ibu Butet akhirnya mengetahui seluruh kebenaran.

Ia menangis.

Bukan karena kehilangan suami.

Tapi karena rumah yang ia bangun ternyata sudah lama runtuh.

Siwai datang menemui Silvina.

“Aku tahu semuanya.”

Silvi menunduk.

“Kamu benci aku?”

Siwai menggeleng.

“Aku benci apa yang terjadi padamu.”

Silvi menangis untuk pertama kalinya tanpa marah.

Tanpa ancaman.

Tanpa topeng.

Di markas GMX, Anna menatap Granti.

“Kamu ngerti sekarang kenapa aku bawa kamu?”

Granti diam.

“Kebenaran itu nggak selalu menyelamatkan.”

“Tapi cara kita menyampaikannya bisa.”

Rittel menatap layar kosong.

Kasus selesai.

Namun di sudut file Adrian, masih ada satu folder belum terbuka.

Project Parakletos

Dan Rittel tahu—

ini belum berakhir.

Detail Para Tokoh dalam novel ini: 

Diki adalah keponakan Sikai, dan orang tua Sikai sudah tiada, 

Sikai membesarkan Diki setelah orang tua Diki meninggal atau tidak mampu merawat. hubungan mereka lebih seperti ibu–anak pengganti, meski secara darah tetap tante dan keponakan. Karena Sikai sendiri mungkin tidak punya cukup sumber daya untuk membiayai kuliah Diki. Maka ia memanfaatkan hubungan keluarga dengan Butet (sepupu) untuk: memberi Diki tempat tinggal, akses kampus, lingkungan yang lebih stabil.

Secara rasional:

Diki = mahasiswa baru (18–19 tahun)

Silvina = siswi SMA (16–17 tahun)


Selisih usia kecil.

Itu membuat kedekatan mereka wajar:

satu rumah,

sering bertemu,

fase usia berdekatan,

sama-sama mencari tempat nyaman.

Makanya chat intim mereka jadi masuk akal.


Bukan karena hubungan “terlarang” seperti Adrian–Silvi.


Tapi karena keduanya memang berada di fase eksplorasi emosi.


struktur akhirnya:

Adrian + Butet → pasangan suami istri, Butet tidak punya anak kandung. Silvina adalah satu-satunya anak yang ia miliki.

Silvina → anak angkat

Sikai = sepupu Butet, wali keluarga

Diki → keponakan Sikai, diasuhnya sejak kecil, mahasiswa baru yang dititip.

Rittel + Anna + Granti = tim GMX penyelesai kasus

Kronologi kejadian: 

Adrian awalnya menyimpan file itu untuk dinikmati sendiri.

Lalu ketika Butet mulai curiga, ia memindahkan semua ke flashdisk dan menghapus jejak dari laptop.

Namun yang ia lupa—

jejak digital tetap ada.

Dan di situlah Rittel menemukannya.

Situasi saat recovery

Ibu Butet datang ke warnet membawa flashdisk.

Awalnya sederhana.

“Rittel, tolong cek flashdisk ibu. File tugas sekolah kena virus.”

Rittel biasa menangani begituan.

Ia colok flashdisk.

Scan.

Repair.

Lalu sistem menunjukkan:

Recovered Deleted Files (17)

Awalnya dia mengira cuma dokumen.

Tapi saat folder terbuka—

nama file aneh.

VID_092919.mp4

IMG_PRIVATE_01.jpg

CA_Backup.zip

ChatExport.txt

Rittel mengernyit.

Instingnya langsung bilang:

ini bukan file biasa.

Ia buka cepat.

Lalu wajahnya berubah.

Video.

Foto.

Percakapan intim.

Dan nama yang muncul membuat darahnya dingin:

Adrian.

Reaksi Rittel

Rittel tidak panik.

Dia tipe orang yang cepat membaca situasi.

Yang pertama dia pikirkan bukan:

“Ini aib.”

Tapi:

“Kenapa file beginian ada di flashdisk Bu Butet?”

Itu red flag.

Lalu saat ia melihat nama Silvina—

semuanya jadi lebih berat.

Karena itu berarti:

ini bukan sekadar perselingkuhan.

Ada unsur eksploitasi.

Rittel langsung sadar:

kalau Butet melihat isi ini sekarang—

rumah itu bisa meledak malam itu juga.

Apakah Butet melihat?

Kemungkinan terbaik:

tidak.

Dan ini penting.

Rittel sengaja memiringkan layar laptop sedikit.

Gerak kecil.

Cepat.

Natural.

Lalu langsung minimize folder.

Butet mungkin hanya melihat:

“loh, ada file terhapus?”

Tapi belum tahu isinya.

Bagaimana Rittel menahan konflik

Rittel bilang sesuatu seperti:

“Ada beberapa file corrupt, Bu. Tapi virusnya sudah bersih.”

Kalimat itu setengah benar.

Ia tidak bohong penuh.

Tapi juga tidak membuka semuanya.

Lalu diam-diam:

ia copy seluruh recovered data ke folder pribadinya,

menghapus preview cache,

menutup log recovery.

Flashdisk dikembalikan.

Bersih.

Tanpa jejak.

Kenapa Rittel melakukan itu?

Karena dia tahu:

kalau dibuka di tempat—

yang hancur bukan cuma Adrian.

Tapi:

Butet bisa trauma,

Silvina bisa disalahkan,

bukti bisa hilang,

pelaku bisa kabur.

Jadi naluri Spy Division bekerja:

amankan bukti dulu. pecahkan konflik nanti.

Ini sangat cocok dengan Rittel.

Bukan pahlawan yang gegabah.

Tapi operator yang dingin, cerdas, dan tahu kapan bom harus diledakkan.

Perkenalkan Granti dan Bu Butet

Beberapa bulan sebelum kasus meledak, Butet pernah menghadiri kajian muslimah di masjid besar kota.

Tema kajian:

“Menjaga Amanah dalam Rumah Tangga dan Pendidikan Anak.”

Di sana, Granti menjadi pemateri tamu.

Bukan sebagai dokter—

tapi sebagai ustadzah.

Butet terkesan.

Karena cara Granti bicara:

lembut,

ilmiah,

tidak menghakimi.

Sejak itu Butet menyimpan nomor Granti.

Mungkin awalnya hanya untuk konsultasi agama atau kesehatan.

Lalu saat konflik Silvina mulai terasa:

Butet bingung.

Silvina berubah.

Rumah terasa dingin.

Adrian makin tertutup.

Dan Butet teringat satu nama:

Granti.

Ia menghubungi Granti.

“Dok... saya mau minta waktu. Ada sesuatu yang ingin saya ceritakan.”

Di sinilah jalan masuk Granti menjadi jauh lebih alami.

Bukan karena GMX memaksa masuk.

Tapi karena Butet sendiri yang membuka pintu.

Kenapa ini lebih kuat?

Karena:

Rittel tetap bisa menemukan bukti dulu.

Tapi Granti masuk lewat jalur sosial dan spiritual.

Sehingga saat bertemu Silvina:

Silvina melihat Granti bukan sebagai penyelidik.

Bukan ancaman.

Tapi seseorang yang dipercaya Butet.

Dan itu mempercepat trust.

Struktur akhirnya jadi sangat kuat:

Rittel = menemukan kebusukan

Anna = menyiapkan tindakan hukum

Granti = dipanggil takdir melalui kajian

Dan itu terasa sangat cocok dengan karakter Granti:

kadang ia tidak datang untuk memburu masalah—

masalah yang datang mencarinya.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Catatan Usang (2015) edisi revisi 2026

Nasti

Laila, Anak Orang Gila!